Kuliah Dianggap Ekstrakulikuler, Jurnalis Tugas Utama

Sabtu, 30 Mei 2020

  Mengikuti :


Kuliah Dianggap Ekstrakulikuler, Jurnalis Tugas Utama

Sabtu, 08 Feb 2020, Dibaca : 660 Kali

MALANG - Tugas mencari berita, menggali data, mengatur waktu menulis hingga deadline selesai merupakan pekerjaan sehari-hari seorang jurnalis. Hanya saja tidak semua jurnalis seperti itu. Ada kalangan jurnalis yang melakukan semua tugas jurnalis tetapi ditambah dengan kuliah.
Ya mereka adalah jurnalis kampus. Biasa juga disebut pers kampus. Bagi mereka mengerjakan tugas jurnalistik merupakan hal yang jauh berbeda dengan tugas mereka di bangku kuliah. Bahkan ada yang menganggap kuliah adalah ekstrakulikuler. Sedangkan menjadi jurnalis kampus adalah tugas kuliah mereka.
Ini dialami, kawan-kawan pers kampus di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama), yang disebut Himpunan Mahasiswa Jurnalistik dan Fotografi (HMJF).
“Ya terkadang seperti itu malah rasanya. Jadi kuliahnya itu di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa) lalu kuliah itu seperti ekstrakulikulernya,” tutur Fahmi tertawa kecil.
Ia yang sampai saat ini masih aktif di HMJF Unikama sebagai pembina, menceritakan bagaimana HMJF tetap konsisten menjadi “watchdog”, sekaligus mitra kampus dalam segala hal. Tugas jurnalistik yang diemban tetap dilakukan dengan mengeluarkan produk jurnalistik sejak 31 tahun lalu.
Dikatakannya, HMJF berdiri saat jaman transisi Unikama berpindah nama. Dulunya Unikama masih disebut IKIP PGRI Malang. Tepatnya berdiri di tahun 1989 silam.
“HMJF merupakan salah satu Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Universitas Kanjuruhan Malang (Unikama) yang bergerak dalam bidang Jurnalistik dan Fotografi. Dulu nama kami bukan HMJF tapi HMP (Himpunan Mahasiswa Penulis),” tutur Fahmi.
Fahmi menceritakan bagaimana dulu dinamika jurnalis kampus, juga mengalami banyak perubahan sesuai zaman. Dulunya karena teknologi belum terlalu canggih seperti saat ini, maka ia dan kawan-kawannya harus melalukan segala proses pembuatan produk jurnalis secara manual.
Seperti mencetak dulu foto yang dibidik, ditempelkan pada kertas barulah kemudian di fotocopy dan dicetak sesuai kemampuan.
“Kalau sekarang kan lebih mudah. Foto bisa diambil lalu secara digital bisa langsung masuk layout dan kita bisa langsung cetak. Dulu ndak,” tegasnya.
Meski begitu HMJF tetap konsisten. Mereka memiliki satu produk jurnalistik, yakni sebuah majalah yang disebut “Swarahasta”. Di awal dibentuk, majalah ini bisa dicetak sebanyak 1.000 eksemplar. Karena dibagi ke seluruh mahasiswa baru pada saat itu.
Berisikan informasi mengenai kampus juga kegiatan mahasiswa di dalamnya. Juga mengenai sejarah kampus dan hal-hal informatif lainnya.
“Juga ada liputan khusus yang memang kami konsep sebagai bahan laporan utama,” aku Fahmi.
Meski begitu, seiring perjalanan waktu, produksi majalah ini tidak sebanyak dulu. Dikarenakan tidak ada lagi permintaan dari pihak kampus dan support anggaran. Meski begitu “Swarahasta” tetap eksis hingga saat ini.
Tetap dicetak setiap tahunnya meskipun jumlah nya tidak semasif dahulu. Majalah ini dibagikan ke seluruh jajaran rektor dan mitra HMJF saja. Tidak hanya majalah yang menjadi produk jurnalistik HMJF, ada pula mading dan pameran foto jurnalistik.
Mading dibuat sebulan sekali dengan tema-tema hangat yang ada di kampus. Sementara Pameran Foto Jurnalistik dilakukan 5-6 kali dalam setahun. Hal-hal ini masih dilakukan untuk menjaga eksistensi lembaga pers kampus mereka.
“Juga kami melakukan sistem pendidikan/pembinaan ketat kepada anggota. Masa mereka magang atau belajar bisa sampai satu tahun hingga akhirnya lulus nanti mereka akan diberi sertifikat dari kami,” tegas Fahmi yang saat ini  juga bekerja di Unikama.
Meski begitu terdapat satu harapan yang masih ingin didapat teman-teman pers kampus HMJF. Salah satunya adalah status hukum jurnalis kampus. Menurut Fahmi, jurnalis kampus juga berhak mendapatkan perlindungan hukum dibawah dewan pers ataupun lembaga pers resmi.
Hal ini diakuinya wajar karena jurnalis kampus melakukan segala kegiatan jurnalistik dengan kode etik yang sama dan merujuk pada undang-undang pers yang sama dengan wartawan umum lainnya diluar sana.
“Karena itu kami juga ingin diakui sebagai awak pers. Apakah ini bisa? Bagaiamana perlindungan hukum ke kami? Harapannya sih ini di HPN ini bisa menjadi pembahasan,” pungkasnya. (ica/ari)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina