MALANG POST - Lahirnya Malang Kota di Atas Wabah

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Lahirnya Malang Kota di Atas Wabah

Selasa, 31 Mar 2020, Dibaca : 9276 Kali

Mbiyen iki akeh wong sing podo mati. Kowe kabeh durung menangi (Dahulu banyak orang yang meninggal. Kalian semua belum mengalaminya)”, ucap Mbah Samidjah, warga Kaumrejo, Ngantang yang akrab dipanggil Mbah Djah sembari memijat cucu-cucunya yang datang dari Kota Malang pada dekade 1950-an.

Mbah Djah mengisahkan pengalamannya tatkala horor ganas wabah hitam pes menghantam wilayah seantero Malang sepanjang tahun 1910-1916. Mbah Djah mengenang bahwa hampir setiap hari jenasah demi jenasah dikubur.

Penderita pes meninggal dalam tempo singkat dan dramatis. Pagi masih bertemu lantas siangnya sudah meninggal. Sore bersua kemudian malamnya telah tiada. Tidak ada orang yang berani turun ke sawah, bahkan mengakses air di sungai pun diurungkan takut terkena penyakit.

Mbah Djah menceritakan epidemi pes yang ganas itu pada generasi penerusnya dan kini cerita-cerita itu menjadi memori yang berusia  seabad lebih. Salah satu cucu Mbah Djah itu ialah Martha Siti Aminah, ibu penulis (kelahiran Malang 1953). Rangkaian memori Mbah Djah selaku penyintas wabah hitam itu telah menjadi bagian integral dalam memori keluarga kami.

Sebagaimana orang-orang Jawa  sezamannya, epidemi itu disebut Mbah Djah dengan istilah ‘pagebluk.’ Distrik Ngantang, tempat Mbah Djah tinggal, pada tahun 1911 membawahi tiga wilayah lainnya, yakni Pujon, Kasembon, dan Sekar. Distrik Ngantang merupakan salah satu dari total delapan distrik dari Afdeeling Malang di bawah Keresidenan Pasuruan.

Kini terbentang masa 110 tahun sejak awal epidemi pes meledak di Malang. Masih adakah tersisa memori akan peristiwa nahas itu beredar dalam masyarakat penghuni Malang Raya hari ini? Adakah tetenger penanda berupa tugu peringatan untuk mengenang peristiwa ini? Sebelum melawan lupa, tentu yang perlu dilawan ialah ketidak-tahuan itu sendiri.

Pandemi Covid 19 yang kini dialami warga global, turut mendorong keingin-tahuan masyarakat umum perihal sejarah panjang penyakit menular. Epidemi pes di Malang menjadi salah satu kejadian luar biasa yang turut mempengaruhi zaman pergerakan pra kemerdekaan.

 

Berdirinya Kota di Atas Wabah

Sejarawan Syefri Luwis yang menulis skripsi ‘Pemberantasan Penyakit Pes di Wilayah Malang, 1911-1916’ di Universitas Indonesia (2008), mencatat bahwa pada tahun 1911 sampar telah menelan 2.100 korban jiwa dari total 2.300 kasus. Pada tahun 1913, korban jiwa telah meningkat drastis hingga merenggut 11.384 jiwa melayang.

Karantina wilayah di Malang dan sekitarnya menjadi karantina paling awal berdasarkan kasus penyakit menular di Indonesia semasa kolonial. Karantina diberlakukan sejak tahun 1911-1912 guna menekan laju penularan yang masif ke daerah-daerah lain.

Walaupun pada akhirnya wabah ini menyebar ke sejumlah titik di Jawa seperti Bangil, Pasuruan, Kediri, Tulungagung, Nganjuk, Kertosono, Madiun, Magetan, Ngawi, Ponorogo, Solo, Sragen, Karanganyar, Sukoharjo, Klaten, Surabaya, dan Madura pada tahun 1916.

Malang menjadi lokasi awal kasus ini dikarenakan penyakit ini berkembang biak secara masif di suhu udara yang dingin. Malang yang terletak kawasan pegunungan menjadi sasaran empuk wabah hitam tersebut.

Penyakit pes sendiri berasal dari bakteri yersinia pestis dalam kutu atau baksil yang menempel pada hewan, dalam kasus ini ialah tikus dan varian jenisnya, dari tikus rumah (huisrat) sampai celurut. Tikus-tikus itu banyak bermukim di rumah-rumah bumiputera yang beratap jerami dengan konstruksi kayu bambu, baik di pedesaan maupun perkampungan kota yang dianggap kumuh.

Hal ini dipicu dari impor beras pemerintah kolonial yang datang dari Myanmar. Impor beras dari negara lain ke Hindia Belanda sudah terjadi sejak dekade 1880-an. Banyak alih fungsi lahan untuk tanaman komoditas ekspor keluar negeri seperti gula, kopi, dan tembakau yang menyebabkan sawah maupun beras bukan komoditi strategis.

Regio Jawa yang kebanyakan penduduknya mengonsumsi beras menjadi korban daripada kebijakan ekonomi tersebut. Penyakit pes adalah getah yang harus diterima rakyat akibat penyakit ini bersarang pada tikus-tukus yang menempel pada komoditas impor beras tersebut.

Pemerintah kolonial memang terlalu mengutamakan sektor pundi-pundi keuangan ketimbang kesejahteraan rakyat tanah jajahan yang jelas bukan prioritas utama mereka. Ironi di zaman Politik Etis. Pada mulanya deteksi dini sudah terjadi dengan dua orang non Eropa yang meninggal akibat pes di Deli pada tahun 1905.

Wabah pes di Malang pada tahun 1911 menunjukkan bahwa tidak ada satupun orang Eropa yang terkena sampar. Mereka yang menderita tentu saja orang Jawa, Tionghoa, dan Arab. Dari segi birokrasi penanganan kesehatan masyarakat, Dinas Kesehatan Sipil baru berdiri tahun 1911 dilanjutkan dengan Dinas Pemberantasan Pes pada tahun 1916 yang berpusat di Malang.

Infrastruktur kereta api dan trem berikut jalur-jalurnya yang telah ada sebelum abad XX di seantero wilayah Malang menjadi jalur maut tempat merebaknya epidemi pes. Moda transportasi itu laksana berkat sekaligus kutukan.

Tak dipungkiri lagi, Kota Malang yang didirikan pada tanggal 1 April 1914 sejatinya berdiri di atas wabah ini. Tak hanya itu, justru wabah pes yang merebak tersebut menjadi salah satu dasar argumentasi serius dari pendirian Kota Praja Malang kepada pihak pemerintah kolonial.

Berondongan pemberitaan pers akan musibah wabah pes di Malang sebagai isu nasional memberi andil yang tak sedikit akan keberhasilan Malang menjadi kota. Pendirian Kota Praja Malang menjadi wacana strategis agar penanganan sampar itu lekas diatasi.

Faktor kesehatan masyarakat turut menjadikan Malang sebagai kota praja. Faktor ini perlu menjadi standar bagi setiap pemerintahan Kota Malang yang datang silih berganti, di mana aspek kesehatan masyarakat seringkali belum menjadi prioritas yang tuntas.

Isu kesehatan masyarakat masih kalah pamor  dibandingkan pembangunan infrastruktur yang bisa dilihat secara fisik demi aspek pencitraan yang berjangka pendek.

 

Dokter Tjip Minus APD

Dokter Tjipto Mangoenkoesoemo (1886-1943) merupakan salah satu nasionalis progresif yang terpanggil begitu kasus sampar merebak di Malang. Ia meninggalkan kenyamanan praktik dokternya di Surakarta untuk bergegas menuju Malang.

Ia terjun tanpa alat pelindung diri (APD). Bertaruh nyawa dengan resiko tertular bakteri dan kutu penyebab wabah hitam. Ia mengangkat anak balita perempuan yatim piatu yang orang tuanya meninggal dunia direnggut sampar. Dokter Tjip menamainya Pesjati (ejaan kini dibaca Pesyati). Rasa belas kasih, iba, dan kemanusiaan Dokter Tjip makin meronta-ronta atas kondisi bangsanya yang sedang binasa.

Kombinasi antara berani, muak, dan berontak diperlihatkan Dokter Tjip yang menjadi saksi sekaligus pelaku di mana diskriminasi sosial terjadi dalam penanganan wabah pes ini. Dokter-dokter Belanda banyak yang takut dengan wabah yang pernah hampir melenyapkan populasi Eropa tersebut pada abad ke-14. Mereka juga enggan dan jijik untuk merawat penderita yang mayoritas non Eropa.

Sekalipun Dokter Tjip menerima penghargaan Orde van Oranje Nassau pada Januari 1912, ia melakukan protes keras dengan mengenakan bintang penghargaan tinggi Belanda itu di bagian pantatnya. Dokter Tjip melihat ketidak-adilan sosial hingga titik nadir banyak nyawa manusia yang menjadi taruhannya.

Wabah pes di Malang menambah daya amunisinya mengkritik pemerintah kolonial Belanda. Dokter Tjip sempat membuat ceramah di jantung kolonial Negeri Belanda, Den Haag pada 10 Januari 1914. Ceramah itu berjudul “Pes di Jawa dan Cara Memberantasnya” (De Pest op Java en Hare Bestrijding) dengan tuan rumah Perkumpulan Mahasiswa dari tanah air, waktu itu masih Indische Vereeniging.

Dokter Tjip mendaftar sekali lagi untuk menangani wabah pes di Surakarta tahun 1915. Pemerintah kolonial menolaknya karena aktivitas politiknya. Zaman pergerakan tidak bisa dilepaskan dari wabah-wabah yang terjadi kemudian. Rakyat miskin di pedesaan dan kota selalu menjadi korban. Hal ini menjadi kristalisasi energi bagi aktivis pergerakan.

Sudah 110 tahun sudah sejak epidemi pes di Malang terdeteksi. Sebuah patung Dokter Tjip menggendong balita Pesjati di bilangan Jalan Dokter Cipto Mangkunkusumo Kota Malang layak diwujudkan untuk dua hal. Pertama, rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya pada pahlawan di garda terdepan wabah penyakit menular tersebut.

Kedua, patung itu menjadi manifestasi dari seluruh ingatan dan ribuan korban jiwa melayang dari pagebluk besar yang bermula dari Malang tersebut. Patung Dokter Tjip menggendong Pesjati cilik akan menjadi penanda sekaligus pengingat agar kesehatan masyarakat, khususnya kaum miskin yang tak berpenghasilan tetap harus menjadi prioritas bagi setiap pemerintahan kota praja Malang dan Indonesia. (*)

Oleh F.X. Domini B.B. Hera, Sejarawan

Editor : Redaksi
Penulis : Opini