MalangPost - Lawan Corona dengan Jurnalisme Presisi

Jumat, 07 Agustus 2020

  Mengikuti :

Lawan Corona dengan Jurnalisme Presisi

Rabu, 01 Apr 2020, Dibaca : 2403 Kali

Coronavirus Disease (Covid-19) memang sudah benar-benar mengguncangkan dunia dan membuat semua orang panik terhadap penyebaran virus tersebut. Hampir semua negara di Eropa dan beberapa negara di Asia telah melakukan lockdown, karena merasa takut dengan keganasan dari Covid-19 tersebut. Namun berbeda dengan negara Indonesia, ketika semua negara telah melakukan lockdown, justru Indonesia merupakan negara yang menolak untuk melakukan lockdown, padahal pada saat ini Indonesia juga sedang bersusah payah untuk melawan keganasan dari Covid-19.

Berbagai cara telah dilakukan oleh Indonesia untuk melawan Covid-19, mulai dari melakukan digital campaign yang mengajak masyarakat untuk tetap di rumah saja, sampai cara yang lain juga dilakukan oleh Polri yang sempat memberikan maklumat berisi larangan bagi masyarakat melakukan kegiatan yang melibatkan banyak orang. Misalnya pertemuan sosial, budaya, keagamaan, dan aliran kepercayaan dalam bentuk seminar, lokakarya, sarahsehan, dan kegiatan lainnya yang sejenis; kegiatan konser musik, pekan raya, festival, bazaar, pasar malam, pameran, dan resepsi keluarga; kegiatan olah raga, kesenian, dan jasa hiburan; unjuk rasa, pawai, dan karnaval, serta kegiatan lainnya yang menjadikan berkumpulnya massa.

Namun nampaknya berbagai cara tersebut belum bisa mengubah segalanya untuk menjadi baik, buktinya saja pada tanggal 1 April 2020 pemerintah Indonesia mengumumkan bahwa jumlah pasien positif corona mencapai 1.677 orang, 157 meninggal, dan 103 orang sembuh. Menurut Achmad Yurianto selaku juru bicara penanganan virus corona, penyebab bertambahnya pasien positif corona akibat ketidakpatuhan masyarakat terhadap anjuran jaga jarak, baik di luar maupun di dalam rumah, hingga tidak disiplin mencuci tangan. Hal tersebut menunjukkan bahwa yang selama ini dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam melawan Covid-19 belum bisa berjalan dengan baik.

Namun yang patut untuk diperhatikan dalam hal ini ialah, pemerintah dan masyarakat nampaknya masih belum bersinergi antara satu sama lain. Disatu sisi, pemerintah masih belum mendapatkan gambaran pasti mengenai langkah apa yang harus dilakukan agar masyarakat dapat benar-benar mematuhinya, dan disisi lainnya masyarakat juga masih menganggap Covid-19 adalah permasalahan yang sepele. Maka dari itu, dapat disimpulkan bahwasannya dalam permasalahan ini harus ada peran dari pers untuk menjembatani gap antara masyarakat dan pemerintah. Peran pers tersebut harus dilakukan melalui penerapan jurnalisme presisi.

Jurnalisme presisi adalah aplikasi ilmu sosial dalam dunia jurnalistik. Jadi, syarat yang ada pada ilmu sosial digunakan dalam lapangan jurnalistik. Dengan kata lain, jurnalisme presisi adalah kegiatan jurnalisitik yang menekankan ketepatan (presisi) informasi dengan memakai pendekatan ilmu sosial dalam proses kerjanya. Dalam pengumpulan data misalnya, apa yang menjadi syarat dalam ilmu sosial juga berlaku untuk jurnalistik. Akurasi yang berlaku dalam ilmu sosial juga berlaku dalam jurnalistik (Nurudin, 2009: 226).

Jurnalisme presisi tentu jangan hanya diterapkan pada saat tahun politik saja, tetapi jurnalisme presisi juga sangat penting diterapkan pada saat pemerintah tengah bersusah payah dalam melawan keganasan dari Covid-19. Disamping itu juga, dengan adanya penerapan jurnalisme presisi tersebut, tentu akan menjadi solusi untuk menghilangkan gap antara masyarakat dan pemerintah. Mungkin pada saat ini, jurnalisme presisi hanya dilakukan oleh segelintir perusahaan pers saja, namun inilah saat yang tepat bagi perusahaan pers yang lain untuk memberikan solusi terbaiknya melalui jurnalisme presisi.

 

Melakukan Survei

Survei adalah metode riset dengan menggunakan kuesioner sebagai instrumen pengumpulan datanya. Tujuannya untuk memperoleh informasi tentang sejumlah responden yang dianggap mewakili populasi tertentu. Dalam survei proses pengumpulan dan analisis data sosial bersifat sangat terstruktur dan mendetail melalui kuesioner sebagai instrumen utama untuk mendapatkan informasi dari sejumlah responden yang diasumsikan mewakili populasi secara spesifik. (Kriyantono, 2010: 59).

Jurnalisme presisi juga bisa diterapkan dengan melakukan survei kepada para pembaca yang menjadi segmentasi dari setiap perusahaan pers, pada umumnya setiap perusahaan pers memiliki segmentasi pembaca yang berbeda-beda. Karenanya, hal inilah yang harus dioptimalkan oleh setiap perusahaan pers untuk menjadikan para pembaca tersebut sebagai respondennya. Setiap perusahaan pers harus melakukan survei untuk mendapatkan data mengenai sikap responden dalam menanggapi Covid-19, setelah itu pers juga harus bisa melakukan survei dengan cara apapun. Misalnya dengan memberikan pertanyaan, apakah para responden setuju apabila pemerintah melakukan lockdown?

Pertanyaan tersebut bisa dijawab oleh para responden, dengan jawaban setuju atau tidak setuju. Kemudian pers juga harus menyediakan alasan bagi responden, mengapa memilih jawaban setuju atau tidak setuju. Setelah melakukan survei, maka tim peneliti dari perusahaan pers juga bisa melakukan analisis data dengan sebaik mungkin, dan setelah analisis data telah dilakukan, maka perusahaan pers pun bisa menyajikan data tersebut kepada publik mengenai berapa persen responden yang menjawab setuju, dan berapa persen yang menjawab tidak setuju. Tentu saja data yang dihasilkan dari survei tersebut, akan menjadi pertimbangan bagi pemerintah untuk menyesuaikan strateginya dengan tanggapan masyarakat mengenai Covid-19.

Apabila dari survei tersebut, mayoritas masyarakat menginginkan lockdown, maka pemerintah harus segera melakukan lockdown, namun apabila masyarakat tidak menginginkan lockdown, maka pemerintah harus mengetahui alasan-alasan dari masyarakat, dan menjadikan alasan tersebut sebagai langkah untuk menyusun strategi dalam menangani Covid-19. Maka dari itu, jurnalisme presisi harus segera diterapkan oleh pers untuk melawan keganasan dari Covid-19 yang semakin membabi buta. Apabila jurnalisme presisi berhasil diterapkan, maka pemerintah dan masyarakat juga bisa menyamakan persepsinya dengan sebaik mungkin, sehingga dapat menciptakan sinergi antara satu sama lain untuk melawan Covid-19. (*)

Oleh: Ilham Akbar

Esais dan Pemerhati Sosial

Editor : Redaksi
Penulis : Opini