Lawang *Open* Corona

Rabu, 27 Mei 2020

  Mengikuti :


Lawang *Open* Corona

Minggu, 12 Apr 2020, Dibaca : 2325 Kali

Inilah daerah yang “gagah perkasa” di tengah pandemi Corona. Bayangkan, di tengah semua orang ketakutan; daerah-daerah membatasi lalu lintas manusia, pusat-pusat keramaian ditutup, pasar-pasar diketati, rumah-rumah ibadah digembok, bertemu orang diatur jarak, harus pakai masker, tapi di daerah ini; “bebas merdeka”. Pasarnya ramai, ramai sekali; penjual maupun pembelinya nyaris tanpa masker. Masjidnya, jumat kemarin, 10 April 2020, masih melaksanakan jumatan dengan merapatkan shaf dan barisan. Penuh.
“Aqimuus sufuufakum wattarossuu; luruskan shaf dan rapatkan,” berlanggsung dengan baik. Anjuran untuk kesempurnaan salat dari Al-hadist yang dirawi Anas Bin Malik itu, terlaksana. Sampai batas akhir tangga masuk, shaf tertata rapat dan rapi.
Saya ikut jumataan di sini. Pilih di deretan paling belakang, shaf paling akhir masjid dua lantai bernama Babussalam itu. Persis di sebelah bilik disinfektan. Bilik satu-satunya. Yang di dalamnya menyemprotkan cairan disinfektan pada bagian pinggang orang dewasa. Menyemprot kencang ke atas dan bawah. Setiap orang yang masuk harus memutar 180 derajat supaya terpercik rata. Di deretan ini longgar. Bisa atur jarak. Begitu salam, turun paling awal. Tanpa salaman.
Itulah daerah Lawang, sebuah kecamatan paling utara Kabupaten Malang.
Kok bisa “gagah berani” begitu?
“Yaa….Siapa dulu dong Bupatinya?” Hehehehe…………

Bupatinya memang bisa membuat kita manggut-manggut. Namanya; Drs. HM Sanusi, MM. Tumbuh di Gondanglegi, kelahiran 20 Mei 1960. Pendidikan terakhirnya STIE Mitra Indonesia Jogjakarta. Resmi jadi Bupati 17 September 2019. Akan menjabat sampai Februari 2021. Merupakan jabatan lanjutan dari pasangannya di Pilkada 2016; Rendra Kresna yang dicopot sebagai Bupati karena kasus korupsi.
Sanusi sebelumnya adalah wakil yang maju Pilkada melalui PKB. Akan maju lagi untuk Pilkada mendatang, sebagai Bupati, tapi melalui PDIP. Karena PKB tidak lagi mencalonkannya. Sudah punya wakil bupati definitif untuk menyelesaikan sisa tugasnya, namanya Mohammad Sudarman. Akademisi. Tapi belum jelas, peran apa yang diberikan. Hari terus bergulir. Sudarman tampak senyam senyum di banyak kesempatan. Seperti kebiasaan hari-harinya.
Yang membuat kita manggut-manggut terhadap Sanusi dalam urusan Corona, adalah --salah satu langkahnya-- ; menghimpun para pawang hujan. Sekabupaten. Untuk mengatur cuaca. Menurutnya; “Supaya jangan hujan. Supaya cuaca panas dan Corona amblas.”
Monggo manggut manggut Bersama. Belum ada di dunia yang melalukan cara ini.
Siapa dulu dong Bupatinya, hehehehe…..
Jumat 10 April, sepulang jumatan, daerah “gagah perkasa” itu diguyur hujan. Sama seperti hari-hari sebelumnya. Terkadang, bahkan sering; sangatlah lebat, setiap siang sampai sore hari. Tapi juga ada panasnya, pagi hari. Lumayan, bisa berjemur.
Jumat, 10 April sebenarnya adalah hari yang pantas dicatat; merupakan hari ke seratus sejak organisasi kesehatan dunia WHO menetapkan bahwa Corona adalah pandemi dunia. Yang harus diperangi. Harus diputus penyebarannya karena wesss…..melonjak eksponensial. Sebanyak 1,6 juta lebih manusia terinfeksi. 95 ribu lebih meninggal. Yang sembuh sekitar 350 ribu. Itulah catatan per hari Jumat.
Amerika memimpin jumlah terbanyak korban dengan 466 ribu lebih terinfeksi. Meninggal hampir 17 ribu orang. Disusul Spanyol, Italia, Jerman, Prancis, China, Iran, Inggris, Turki, Belgia dan seterusnya, 209 negara terpapar.
Ribuan triliun rupiah dipertaruhkan untuk melawan pandemi mematikan ini. Protokol hidup ditetapkan; lock down atau physical distancing dilakukan. Seluruh dunia. Ekonomi babak belur. Tapi diabaikan dulu, untuk menyelamatkan hidup manusia.
Presiden Jokowi, telah kita ketahui, memberlakukan Perpu dan PP baru untuk menghentikan penyebaran. PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) sudah dibolehkan. Jakarta sebagai episentrum utama pandemi, memulai pada jumat kemarin. Korban terinfeksi di Indonesia tercatat sudah hampir tiga ribu lima ratus dan yang meninggal hampir tiga ratus orang. Diprediksi akan mencapai puncaknya pada minggu-minggu mendatang. Maka semua daya upaya dilakukan untuk memutus rantai penyebaran. Puluhan triliun digelontorkan. Semua daerah diminta waspada dan mengatur sesuai ketentuan.

Lawang bagaimana?
Itulah potret salah satu wilayah kabupaten Malang. Kelurahan kecil, ibukota kecamatan itu, pasarnya “top”. Transaksi cash masih berputar lancar. Sampai tengah malam. Dini hari sangatlah ramai. Lurah Lawang, Murtadji SH.MH, mencatat, 70 persen pedagang adalah orang-orang dari Pasuruan, Pandaan, Batu, Malang bahkan Surabaya. Ada yang plat mobilnya ganda. Pulang berdagang diganti L untuk balik Surabaya. Kurang lebih tiga ribu orang bergiat tanpa batas apapun di pasar itu.
Murtadji sesungguhnya gelisah. Warga asli mendesak. Dia pun –yang stafnya tinggal dua orang-- bergerak mengajak RT/RW dan warga untuk memproteksi wilayah dan warganya dari Corona. Menghidupkan peran warga. Jalan.Tapi lunglai menghadapi pasar. Muspika diajak kumpul. Ingin bikin posko Corona. Kamis malam rapat di kelurahan. Tapi tidak punya juklak. Camatnya orang Dampit, sore pulang. Sering tidak bisa ditemui. Babinsa hanya persuasif. Warga yang pulang dari Jakarta dan kota lain, lolos masuk. Belum punya lokasi transit untuk karantina.  
Pasar itu dekat dengan Masjid Babussalam. Pedagang sering salat dan mandi di situ. Juga berjumatan di sini. Campur warga dan siapapun termasuk saya yang ingin jumatan, kemarin. Sebenarnya saya sudah dua jumat tidak berjumatan. Mengikuti seruan agar beribadah di rumah saja. Tapi saya merasa perlu jumatan lagi, supaya tidak tiga kali berturut-turut tidak jumatan.
Khatibnya Ustadz Farchan. Yang berkhotbah bahwa kita justru harus lebih bertaqwa, rajin beribadah, termasuk di masjid dan menggantungkan hidup hanya kepada Allah. Saya terdidik dari kecil dan sangat percaya bahwa; tidak akan selembar daunpun jatuh tanpa kehendakNya. Ustadz Farchan guru saya. Di SD Islam dan SMP Islam Lawang. Guru ngaji saya yang lain pun, Gus Ali Masyhuri, sama, menganjurkan meningkatkan ketaqwaan dan berserah. Dosen-dosen saya, dulu, di magister hukum Unisma Malang, mengajarkan agama yang moderat. Sama seperti guru saya yang lain, Prof. KH Said Aqil Sirajd. Ketua PB NU itu, ketika masih di Makkah --baru lulus doktor pada Umul Quro’ Makkah-- banyak membimbing saya. Sebagai pendamping dan guru ketika saya dengan Mas Zainal dkk melaksanakan tugas Pak Dahlan membuat koran di Makkah, hampir tiap tahun, pada Ramadhan dan musim haji. “Salat itu perintah Allah. Tapi menjaga diri dan orang lain dari kehancuran, itu juga perintah Allah,” kata Kiai yang Bahasa Arab dan Inggrisnya sangat bagus  itu. Dia mendorong ibadah di rumah saja, termasuk tarawih Ramadhan nanti, bila pandemi Corona belum lenyap.
Masjid Babussalam dan ramainya Pasar Lawang saat ini, itulah keadaan daerah di paling utara Kabupaten Malang. Kita semua tentu punya pendapat. Soal ancaman Corona, tidak perlu diajari. Semuanya  sudah teramat mengerti. Pertentangan termasuk kesulitan ekonomi, juga sudah banyak dibahas bahkan sudah ditetapkan oleh Presiden, bagaimana langkahnya. Tapi langkah teknis tentu terpulang pada penentu kebijakan daerah; Bupati bagi kabupaten. Tindakannya akan membuat warganya menjadi tenang, tersenyum, sedih, takut, panik, tidak peduli, atau manggut-manggut…….(*founder JTV & Arema Media Group/warga Lawang)

Oleh: IMAWAN MASHURI*

Editor : Redaksi
Penulis : Opini