Lika Liku Akulturasi Budaya Dosen Tamu

Selasa, 26 Mei 2020

  Mengikuti :


Lika Liku Akulturasi Budaya Dosen Tamu

Sabtu, 07 Mar 2020, Dibaca : 3864 Kali

Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung. Seorang tamu wajib memahami budaya di mana ia berlabuh. Misal seorang saja menjadi dosen tamu bagi orang Indonesia di Seoul. Ketidak matangan memahami budaya setempat, akan melahirkan konflik-konflik. Baik yang biasa maupun fatal dan perlu diselesaikan di meja persidangan. Kasus serupa yang diceritakan oleh Yusri Fajar dalam novelnya berjudul Tamu Kota Seoul (UB-Pres, 2019).
Sebelum menemui konflik, pembaca mula-mula diajak keliling Seoul dengan pengamatan dan pembacaan yang detail.  Seperti ada suara berbunyi dari dinding-dinding Kota  Soul, apartemen, Nowon-Ro 1 Gil 93, dan Hankuk Universiy Of Foreign Studies (HUSF). Dan suara itu terkemas dalam kisah perjalanan seorang tokoh bernama Jagat.
Kota Seoul bisa dikatakan negara tetangga tentunya memiliki perbedaan signifikan mengenai budaya.  Bagi seorang pendatang bukan hanya menjadi seorang yang asing baru, bahasa baru, dan melainkan cuaca di negara tersebut akan memberikan dampak akan daya tubuh. Namun beradaptasi dengan lingkungan sekitar harus bisa karena akan menentukan apakah akan diterima dengan ramah pula oleh masyarakat tersebut.
Pada kebiasaan, di Indonesia tentunya ada yang tidak berlaku di Seoul. Orang Indonesia berjalan-jalan ke tempat-tempat, terutama berjalannya ke lintas negara, biasa dalam melakukan perjalanan kurang afdol ketika tidak memotret atau mengambil moment yang dianggap paling baik dan berkesan. Hal paling sederhana mengambil foto dengan objek pemandangan yang mencakup orang di suatu tempat, ketika di Seoul tidak diperbolehkan, sebab foto seseorang dianggap sebuah privasi yang kerap disalah gunakan.
Hal itu terjadi pada awal Jagat dalam tokoh novel tersebut; melakukan hal  tidak sewajarnya di negara ia ditugaskan menjadi dosen tamu. Jagat memotret di kereta dengan tujuan mengambil pemandangan di luar kereta api, ketika itu ada yang merasa mahasiswi di depannya, yang menganggap jadi objek fotonya, karena arah kamera di hadapannya.
Pada awal di sana Jagat dikagetkan dengan peristiwa dan perbedaan sebuah budaya yang tidak sama dengan negaranya. Bukan main-main mengenai hal privasi di negara tersebut, ketika melanggar aturan. Jika itu orang asing acaman dideportasi. Tepat di Stasiun Sinimun dalam gerbong kereta dipermalukan, Jagat sebagai orang asing.
 “Hai, kamu tidak melakukan itu,” sebaiknya tidak menggunakan kameranya di dalam kereta di atas gerbong kereta. Lihat! Banyak orang di sini,”  kata gadis Korea itu sambil tangannya menunjuk ke beberapa sudut gerbong. (hal:42).
Gegar budaya yang menemukan ke-asingan waktu pertama kali datang ke Soul sebagai dosen tamu menjadi dosen sastra asing, karena Jagat berpaspor Indonesia mengajarkan sastra Indonesia. Jagat sangat semangat menjadi bagian dari dosen di HUFS, karena bukan hanya dosen biasa, dan sangat sadar pertama kali masuk ke Perpustakaan. Bahwa secara signifkan Negara Korea kecintaannya akan karya-karya sastra lintas negara sangat antusias; bahwa di Negara Korea karya-karya sastra penulis Indonesia diajarkan begitu intensif. Dan di Perpustakaannya karya anak negeri sendiri banyak. Mulai dari Karya Pramoedya, Eka Kurniawan, Afrizal Malna, Laila S. Chudori dan penulis lainnya. Terpajang di Perpustakaan di Hankuk University Of Foreigen Studies (HUFS).

Kebutuhan Biologis Diaspora Seoul
Banyak cara merayakan hidup. Seorang akan merayakan sebuah peristiwa besar dengan cara unik dan ditemukan pada sosok Jagat. Dalam perjalanan ke Seoul tidak hanya bisa berbagi ilmu pada mahasiswa (i). Bahkan dalam impiannya berharap memiliki karya ketika tugas telah usai, entah berupa karya sastra puisi, cerpen, dan novel. Dan itulah sosok penyair yang ingin selalu membaca, mendengar, dan merasakan. Lalu menjadikan sebuah teks dengan diksi indah tertuang di dalamnya. Itulah tugas penyair dan penulis.
Sebagai dosen tamu dan memiliki keluarga tentu kebutuhan biologis harus menjadi pertimbangan. Dan hanya dengan menyikapinya akan menjadi hal postif kepadanya; sebab kerinduan kepada Istri dan Anak masuk pada ranah kebutuhan primer sebagai lelaki normal, dan bukan tidak mungkin keharmonisan rumah tangga tidak menjadi perhatian secara biologis. Apalagi mengenai hasrat bertemu dengan istrinya dan anaknya, menjadi sangat utama baginya.
Jagat seorang dosen memiliki istri dan anak yang ditinggalkan di Indonesia tepatnya di Malang. Jarak akan mengukur segalanya menjadi ujian terbesar ketika jauh; hal ini akan menjadi kebutuhan hidup manusia dengan rasa rindu dengan dasar cinta. Kerinduan itu akan dirasakan di Seoul oleh Jagat ketika sendiri di Apartemen, bahwa kebutuhan biologis dalam hidup sangat perlu, bagi manusia yang normal. Hanya dengan video call bisa mengobati gelora hasrat rindunya. Selain itu hanya dengan membaca dan menulis melampiaskannya.
“Hal ini mengingatkan kepada tokoh bernama Malquedes, seorang Gipsi, yang berada dalam novel Gabriel Garcia Marques yang berjudul One Hundred Years Of Solutide (Seratus Tahun Kesunyian) yang dipublikasikan sejak tahun 1972. Tokoh Malquedes mengatakan dalam waktu dekat, orang akan mampu melihat apa yang terjadi di tempat lain di dunia ini tampa perlu meninggalkan rumahnya” (Hal 75).
Jagat selama mengajar dibenturkan dengan ujian keluarga begitu besar. Mulai kebutuhan biologis sebagai lelaki normal, ujian hubungan cinta saat jauh dengan keluarga di Seoul ada Hyung Hee sosok dosen idola kaum adam, yang menjadi ujian terbesar Jagat, ia  seorang dosen di Hankuk mengajar sastra Korea sama dengan Jagat. Sering kali kedekatannya menuai prasangka kepadanya, walau pada dasarnya kesetiaannya dengan Kanti istrinya tidak diragukan. Dengan kedekatan dan tatapan mata berbeda kepada Jagat itu yang dirasakan. Ia masih merasa bahwa cintanya dengan Kanti mendapatkan ujian.
Selama di Seoul Jagat merasa ada hubungan jarak jauh dengan Kanti. Tika anaknya kala bermain pada saat liburan curiga dengan ayahnya akan kedekatan ayahnya dengan Hyung Hee, menghadirkan kecemburaan. Jagat merasa kekacauan akan dirinya. Bahwa ia tidak berdosa atas asumsi-asumsi Puitika. Kegelisahan itu akan menjadi kuat atas kepribadian Jagat.
Perang psikologis menjadikan diri Jagat memahami tentang banyak hal; rasa cinta, tanggungjawab, dan kepedulian budaya dan ketidakadilan akan birokrasi negeri ini, dan di bidang sastra. Bahwa pantang seorang dosen tamu pulang dengan pecundang, dengan sangat tidak diharapkan orang tua darinya. Dan akan terus bertahan menjadi dosen hingga waktu tugas selesai. Jagat, walau ada rasa khawatir akan istri yang ditinggal jauh masih percaya akan kesetiaanya.
Masa lalu itu akan menjadi bukti keduanya. Jagat  masih ingat dengan awal kisahnya. Kanti menyukai perbedaannya Jagat dalam buku itu ditemukan pada cerita masa lalu ketika Kanti membaca novelnya Ratna Indraswari Ibrahim dan Kanti mengingat-ingat pertama menjalin hubungan dengan Jagat. Idealis yang dimilikinya merupakan representasi cintanya juga.
“Kanti mengingat Jagat pada masa mudanya, ketika membaca novel 1998 karya Ratna Indraswari Ibrahim, di depan gedung DPRD Kota Malang sejak menjadi mahasiswa membaca puisi dan berorasi meminta kebijakan, sedangkan  Kanti menjadi seorang mahasiswi yang akan selalu mendukung akan idealis pasangannya” (hal 125).

Dedikasi Dosen Tamu di HUFS-Seoul Korea
Dedikasi seorang dosen kepada mahasiswa (i). Ketika kembali kepada Hankuk di mana ada proses belajar. Bahwa Jagat memiliki tugas mengajarkan sastra Indonesia dengan cara paling sederhana. Pertamanya hanya dikenalkan dengan bacaan karya sastra dari Indonesia. Ketika berada di Perpustakaan begitu lengkap, dengan gaya belajar bertanya Learning Start whit a Question.  Sebagai seorang dosen tamu akan menanyakan sebuah kebiasaan yang tidak harus dilakukan di Negara tersebut, lalu memberikan pengantar pertemuan dengan ketentuan akan meluluskan mahasiswa yang mengikuti kuliahnya penilaian  secara subjektif dengan ketetentuan keaktifan di kelas, dan kualitas tugas.
Cara seperti halnya seorang Pramoedya Ananta Toer dalam proses menulis buku berjudul Arus Balik (Penerbit Hasta Mitra 2002 cetak ke-V, awal terbit 1995, Pram mengambil data pada awalnya dari mahasiswanya, sebelum terjun langsung melakukan observasi di tempat-tempat yang didapatkan dari mahasiswa. Namun tidak lepas dari kecerdasan serta kelihaian dalam mengarang. Hingga menjadi buku yang tebal 759 halaman, buku tersebut hingga kini tetap menjadi buku paling asik dibaca untuk memahami nusantara dengan beberapa sudut pandangnya.
Barangkali Yusri Fajar dalam buku Tamu Kota Seoul yang begitu detail berkisah mendeskripsikan tempat, proses Pram ditiru. Sebab dirasa sangat bisa melakukan memesis selama melakukan perjalanannya di HUFS Korea. Dan kisah tersebut seperti teks cerita di foto copy; menceritakan dengan begitu detail dengan begitu hati-hati menulis dan menyebutkan nama tempat, budaya, dan dinamika kampus. Walau disadari ia menjadi pendatang dan mengajarkan sastra Indonesia di negara lain, seakan tidak dapat dipungkiri kalau hal tersebut menyangka akan menjadikan sastra Indonesia menjadi sastra ideal pantas diajari serta di dalami oleh negara lain. Hal itu tidak dilakukan olehnya dalam menulis buku berkaitan dengan diaspora. Dan rasa khas ke Indonesiaanya di dedikasikan dalam kesehariannya.(*)

Editor : Redaksi
Penulis : Redaksi