Literasi Medis Warga Desa Minim, Bikin Gerakan Kampung Tahes

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Literasi Medis Warga Desa Minim, Bikin Gerakan Kampung Tahes

Rabu, 01 Apr 2020, Dibaca : 4869 Kali

Pemuda-pemudi Dusun Kampung Anyar, Sukolilo, Jabung, membikin gerakan Kampung Tahes 2020 untuk membangun literasi kesehatan warga desa. Beranggotakan puluhan anak-anak muda, gerakan ini memulai gerakannya dengna menggelar penyuluhan yang dihelat di Dusun Kampung Anyar, Minggu (22/3).

 

Pandemi covid-19 tampak begitu jauh dan tak terjangkau bagi masyarakat pedesaan yang kehidupan sehari-harinya sederhana dan kalah dinamis dibanding masyarakat kota. Akibatnya, literasi corona cenderung minim, bahkan cenderung buta. Situasi ini memanggil anak-anak muda di Dusun Kampung Anyar, Sukolilo Jabung, untuk bergerak.
Mereka sekumpulan pemuda yang berada di bidang kesehatan, sosial dan banyak bidang lainnya. Para pemuda Dusun Kampung Anyar, meluangkan waktu, tenaga, pikiran dan biaya, untuk membikin gerakan bernama Kampung Tahes 2020. Gerakan ini sudah berjalan beberapa waktu, namun menemukan momentum ketika coronavirus mewabah.


Yudha Ricky Setiawan, koordinator Kampung Tahes 2020, mengatakan, literasi soal corona, atau bahkan literasi kesehatan umum, masih belum terpaparkan dengan baik kepada warga. “Banyak warga di sini yang bahkan mungkin tidak tahu secara pasti apa itu corona,” ujar Yudha kepada Malang Post.


Kawasan Jabung, mungkin dianggap jauh dari penyebaran virus corona. Tapi, kekuatan virus dan metode penyebarannya yang masif, memastikan bahwa tidak ada satu kawasan yang bisa lepas dari pandemi, bila tak ada antisipasi serta tanggapan serius dari warganya. Literasi warga yang minim, adalah mata rantai yang rentan terserang coronavirus.
“Di sini literasi minim, bukan cuma soal corona tapi juga literasi kesehatan umum. Masih ada, warga yang belum tahu bedanya tensi darah dan kadar HB, ada yang menganggap tensi dan HB adalah dua hal yang sama. Tentu, sekarang kami terpanggil untuk membangun literasi medis,” ujar bapak 1 anak itu.


Yudha memaparkan bahwa kegiatan peningkatan literasi kesehatan, sudah digelar dua kali sebelum acara hari Minggu (22/3). Materinya juga berbeda-beda. Kebetulan, para penggerak Kampung Tahes 2020, memiliki anggota yang juga berprofesi di dunia medis. Sehingga, materi yang diberikan, sudah sejalur dengan kebutuhan peningkatan literasi medis sederhana.


Yudha mengaku khawatir dengan penyebaran coronavirus yang tak dibarengi dengan literasi kesehatan yang cukup, terutama di kalangan masyarakat desa. Karena itu, hari Minggu, dia dan rekan-rekannya, tergabung pula dalam komunitas Gubug Baca, menggelar sosialisasi coronavirus.
“Perlu ada penyuluhan di desa kami, karena sangat urgent dan mendesak, untuk membagikan pengetahuan soal coronavirus dan antisipasinya, kepada warga desa. Literasi medis di desa tak sama dengan di kota. Kami sudah pertimbangkan plus minus bikin penyuluhan ini,” ujar pria ramah itu.


Pengetahuan dan kesadaran tentang gaya hidup sehat, masih perlu digeber lagi di pedesaan seperti kawasan Sukolilo Jabung. Anak-anak muda yang sudah berprofesi di bidang medis ini, tidak ingin desa dan kampungnya, membuka peluang tertular coronavirus. Sehingga, urgensi inilah yang membuat anak-anak muda Dusun Kampung Anyar menggelar penyuluhan.
“Materi penyuluhannya adalah tentang coronavirus, serta metode antisipasi, seperti membersihkan gagang pintu dengan cairan pembersih sederhana, atau peragaan langsung cara mencuci tangan yang benar dengan sabun,” ujar pria yang juga perawat itu. Dia dan rekannya, memperagakan secara langsung, cara mencuci tangan yang benar.


Menurut Yudha, Kampung Tahes 2020 yang bersinergi dengan Gubug Baca, memberikan literasi dasar. Terutama, soal pengetahuan coronavirus yang perlu dipahami dan diantisipasi. Dia mengatakan, tidak semua warga berliterasi media sosial. Bahkan, paparan berita televisi, juga tak menjamin pengetahuan yang benar soal coronavirus.
Selain itu, jangkauan pemerintah daerah, termasuk Dinas Kesehatan dan Puskesmas setempat, sangat terbatas. Bagi kalangan lansia terutama ekonomi bawah, literasi medis adalah hal yang mewah. Karena itu, penyuluhan secara mandiri dan independen, adalah solusi yang dihidupi oleh Yudha dkk.
Apalagi, materi penyuluhan yang dibagikan, sangat mendasar dan sudah bisa ditemukan di internet. “Kami memilih penyuluhan, karena sekaligus dikemas dengan pemberian tensi darah secara gratis, supaya warga tertarik datang,” tambah bapak satu anak itu.


Menurut Yudha, selama coronavirus masih melanda, dan belum ada kepastian kapan virus bisa benar-benar dibasmi, penyuluhan kesehatan, adalah arah masa depan Kampung Tahes 2020. Dengan nama yang lebih umum dan tidak spesifik kepada satu desa tertentu, Kampung Tahes 2020 bisa menjangkau desa-desa lainnya.
“Kami juga tidak memilih bikin woro-woro berkeliling kampung untuk membagikan pesan antisipasi corona, malah bikin warga takut dan mentalnya nanti turun,” tutupnya.(fino yudistira)

Editor : Redaksi
Penulis : Fino Yudistira