Mahasiswa Kota Malang Berlaga di Ajang PBB

Rabu, 03 Juni 2020

  Mengikuti :


Mahasiswa Kota Malang Berlaga di Ajang PBB

Jumat, 17 Apr 2020, Dibaca : 5136 Kali

Prestasi Mahasiswa asal Kota Malang terus bersinar di kancah internasional. Belum lama ini mahasiswa-mahasiswi asal Universitas Brawijaya (UB) Malang berlaga dalam Harvard National Model United Nations (HN MUN) 2020.
Ajang ini sangat bergengsi karena memberi kesempatan pesertanya untuk ikut terlibat bak pimpinan-pimpinan dunia dalam sidang PBB. Maka dari itu ajang ini adalah Simulasi Sidang PBB.
Mereka yang beruntung mewakili Indonesia diantaranya adalah mahasiwa-mahasiswi Universitas Brawijaya.


Yakni Miranda Christine Aprina, mahasiswa Jurusan Teknik Elektro, Fakultas TEknik (FT) mewakili UB berlaga di kancah internasional Selain Miranda, UB turut menurunkan Alfarez Nurrahman (FIA), Anindhita Aulia Putri (FTP), Nehemia Satya Kamandaka Soetedjo (FTP), dan Ariel Ebenhaizer Tandian (FH).
“HNMUN merupakan simulasi sidang PBB yang paling tua (pertama kali diselanggarakan pada tahun 1955) dan paling bergengsi di seluruh dunia, tahun ini diikuti oleh sekitar 2700 peserta dari 69 negara,” papar Miranda Christine, salah satu anggota Tim Delegasi dari Indonesia.

   Baca juga : Sujopo Sumarah Purba, Penari 1000 Topeng


Dalam acara yang diadakan di Boston, Massachussets, Amerika Serikat pada 13 Februari hingga 16 Februari 2020 tersebut para peserta menjadi diplomat yang mewakili suatu negara dalam sebuah sidang PBB.
Miranda menjelaskan, peserta MUN dituntut untuk memperjuangkan kepentingan negara yang diwakili dengan melakukan pidato, negosiasi, dan drafting resolusi.
“Nah, di HNMUN 2020, UB menjadi representatif dari Papua New Guinea pada General Assembly PBB,” jelasnya.


Kemudian topik yang diusung masing-masing delegasi sebagai berikut Legal Committee dengan topik Exploring The Rights And Limitations Of Digital Citizenship delegasi yang maju membacakan adalah Miranda Christine Aprina sendiri dan Anindhita Aulia Putri.
Tidak hanya topik HAM, delegasi dari UB juga dipercaya membawakan topik lain. Yakni topik Banking Policies for Avioding Global Recessions. Untuk topik ini, delegasi yang membawakan adalah Alfarez Nurrahman.
“Nurrahman mewakili komite ekonomi atau ECOFIN (Economic and Finance Committee),” papar Miranda.


Sedangkan dua kawannya yag lain menjadi delegasi Disarmament and International Security Committee (DISEC) atau Komite Pertahanan dan Keamanan. Topik yang dibaakan adalah Foreign Intervention In Civil War. Yang membawakannya adalah Nehemia Satya Kamandaka Soetedjo dan Ariel Ebenhaizer Tandian.


Dijelaskan Miranda untuk mendapatkan kesempatan mengikuti ajang ini, ia dan timnya harus mengikuti seleksi internal yang dilakukan kampus. Kemudian melewati beberapa bulan lamanya untuk melatih skill, khususnya Public Speaking.
Memang, HNMUN khususnya sangat menantang karena mengharuskan peserta untuk mengadu kemampuan komunikasi, kepemimpinan dan pemecahan masalah dengan ratusan perwakilan dari universitas-universitas ternama di dunia.
“Dalam kegiatan ini kegiatan ini skill para peserta, terutama dalam public speaking memag harus ditonkolkan. Tidak hanya itu kemampuan untuk bernegosiasi, debat, berpikir kritis, dan juga lebih mengenal tentang isu global serta mengenal struktur dan kinerja PBB juga sangat penting,” tegasnya.


Hal ini tidak membuat ia dan timnya berkecil hati, karena seluruh peserta yang juga datang dari berbagai universitas seluruh dunia sama halnya dengan mereka, yakni belajar.
Dijelaskan, lebih dari 100 negara dari perguruan tinggi ternama di dunia mengikuti kegiatan tahunan ini. Diantaranya termasuk Yale University, Columbia University, University of Pennsylvania, Universiteit Leiden, Universiteit Utrecht, Cambridge University, Boston University, University of Chicago, SciencePo University, Universidad del Rosario, University of Miami, Universiteit Groningen, Delhi University, dan banyak lainnya.
Usai mengikuti kompetisi empat hari itu, Miranda dan tim berkesempatan mengunjungi Kedutaan Besar Republik Indonesia di Washington, DC dan markas PBB di New York City.


Miranda berharap agar kedepannya makin banyak mahasiswa UB khusunya jurusannya juga semakin banyak yang  tertarik mengikuti kegiatan seperti MUN. Hal ini dirasakan Miranda karena berbagai hal bermanfaat ia dapatkan.
“Mengikuti konferensi ini sendiri merupakan capaian yang inspiratif. Berinteraksi dan membuat amandemen dengan mahasiswa dari berbagai universitas di seluruh dunia,” ungkap mahasiswi angkatan 2007 ini, memberikan kesannya.


Hal yang juga senang ia sampaikan adalah dirinya sebagai peserta dapat menyampaikan pendapat dengan sudut pandang seorang mahasiswa teknik, Karena hal ini diakuinya membuka wawasanya dalam perspektif yang berbeda.
Lebih lanjut ia menjelaskan dirinya beserta tim berencanan membuat Brawijaya School of Diplomacy (BOSD). Sebuah forum edukasi untuk mendidik mahasiswa UB yang tertarik dengan kegiatan MUN dan semacamnya.
“Recananya seperti itu jadi khusus untuk lebih mempersiapkan delegasi HN MUN tahun depan kami akan membuka open recruitment sekitar bulan April atau Mei mendatang,” pungkasnya. (Sisca Angelina)

Editor : Redaksi
Penulis : Francisca Angelina