MalangPost - MARHABAN YA PSBB

Kamis, 06 Agustus 2020

  Mengikuti :

MARHABAN YA PSBB

Kamis, 23 Apr 2020, Dibaca : 5175 Kali

Karena Lockdown bisa sangat berisiko terhadap ekonomi nasional, maka kebijakan strategis yang diambil pemerintah adalah Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Karena konsekuensinya juga besar, maka Kabupaten Malang dan Kota Batu menolaknya. Hanya Kota Malang yang ingin menerapkan PSBB. Dan hasilnya, gubernur Jatim pun menolak dan menyarankan Isolasi Kawasan di Malang Raya. Pakar kebijakan publik pun tak yakin PSBB akan bisa efektif.


Tapi saya punya pendapat dan perspektif lain soal PSBB. Besok insyaAllah awal bulan suci Ramadan. Maka saya mengucapkan Marhaban Ya PSBB. Ya, saya harus mengucapkan dan menyambut PSBB ini dengan suka cita. Karena PSBB adalah status yang harus dilakukan selama bulan Ramadan. Khususnya oleh umat muslim, yaitu Perbanyak Salawat Beristighfar dan Bersedekah (PSBB). Jadi Ramadan urgensinya adalah sama dengan PSBB dalam versi religius.


Saya dan Kita semua wajib berdoa memohon kepada Rabb, Tuhan yang Maha Kuasa, Tuhan yang Maha Menyembuhkan, semoga Ramadan tahun ini benar-benar menjadi PSBB. Puasa Sebulan Bebas Bencana dari Covid-19. Ramadan juga menjadikan Puasa Sebulan Beriman dan Bertakwa (PSBB). Atau PSBB versi religius yang lainnya. Asal jangan menjadi Pendapatan Sedikit Belanja Banyak. Ini juga PSBB versi lain.


Corona mengajari Kita menjadi banyak tahu istilah-istilah baru. Istilah yang sengaja diciptakan sampai Kita sendiri menjadi bingung dan kemudian melahirkan plesetan- plesetan lucu yang kritis, bahkan banyak bernada satir. Mulai ODP, OTG, ODR, PDP, Confirm Covid-19, PSBB, PBB, Karantina Wilayah, Karantina Mandiri, dan yang paling ngeri, Lockdown. Saya sangat yakin semua tahu kepanjangannya bahkan plesetannya, tapi tidak semua masyarakat paham arti dan penjelasannya. Nanti akan muncul juga OTT, Orang Tunggu THR hehehe.


Memasuki Ramadan ini, mari bersama sama menyambut dan menjalani Ramadan dengan bahagia. Meski SE Kementerian Agama melarang buka bersama, taraweh bersama di musala dan masjid, dan segala aktifitas ibadah yang melibatkan massa, kita tetap ikhlas melakukan puasa dengan gembira. Syiar Ramadan tak akan sirna meski tanpa pengeras suara. SE tak akan sanggup menghalangi ghiroh beribadah. Apalagi di bulan suci Ramadan, bulan penuh Rahmat, Ampunan dan Dibebaskan dari Api Neraka.


Justru momentum ini memberikan kesempatan seluas luasnya agar ibadah Ramadan di masa pandemi ini semakin khusuk, khidmat dan tawadlu. Simpati, empati dan rendah hati kepada sesama, alam dan Rabb. Karena hakekat puasa adalah menerima dan menjalankan ibadah, menahan dari segala nafsu dunia untuk Allah SWT. Maka tidak ada lagi yang perlu ditakutkan karena Allah SWT yang langsung menjaga setiap ummat-Nya.
Kalau Corona ini adalah Takdir Tuhan untuk menyucikan alam semesta, maka kita yang puasa juga disucikan lahir bathin kita oleh Allah SWT. Bila kita menjalankan puasa Ramadan dengan ikhlas di masa pandemi, semoga ibadah kita menjadi sarana dan doa agar Corona juga bersih dan lenyap dari muka bumi. Semoga dengan sebulan kita berpuasa, semua disempurnakan pada Lebaran nanti. Kita semua menang menjadi pribadi yang bertakwa, dan kita juga menang menghadapi cobaan Corona. Amin ya Rabbal alamin.

 

Equilibrium
Jauh sebelum pandemic Corona, Islam sudah mengajarkan dasar ilmu fikih, yaitu thoharo alias bersuci. Tidak sekadar cuci tangan, tapi bersuci dari hadats kecil dan besar saat akan melakukan ibadah, khususnya salat. Dan itu bisa lebih dari lima kali dalam sehari. Mulai bangun tidur sampai akan tidur lagi. Islam mengajarkan umatnya bersih, suci lahir dan bathin dalam menjalani hidup. Dan itu diajarkan sejak usia dini, sebelum akil baligh.


Maka pandemi Corona lagi-lagi menyadarkan kita semua agar kembali ke pola hidup bersih dan sehat setiap hari. Di mana pun, kapan pun. Dengan menjaga kebersihan diri, maka kita tidak hanya menjaga diri kita, tapi juga keluarga, lingkungan dan orang-orang yang ada di sekitar kita. Alam semesta juga akan ikut sehat dengan pola hidup yang kita jalani.
Rahmad K Dwi Susilo, sosiolog UMM menyebut, saat ini masyarakat menuju masa equilibrium (keseimbangan), dari sebelumnya panik akibat Covid-19, sekarang masyarakat sudah mulai agak tenang. Mulai adaptif dengan tetap bisa melakukan hal-hal positif dan menebarkan semangat. Maka tidak heran update jumlah pasien sembuh yang sempat mengalahkan jumlah pasien yang meninggal menjadi hal yang sangat menggembirakan. Menambah imunitas sosial lebih kuat.
‘’Ini berita besar, jumlah pasien sembuh pertama kalinya bisa melebihi jumlah yang meninggal,’’ ujar Direktur Utama Malang Post, Juniarno Djoko Purwanto kepada saya.

Ya, itu Rabu, 16 April lalu. Total kasus positif mencapai 5.516, meninggal 496 dan sembuh mencapai 548. Saat itu Pak, Pur, panggilan akrabnya, bahkan meminta saya untuk mengulasnya, tapi saya belum berani menulisnya saat itu.
‘’Prediksi saya, nanti jumlah yang sembuh akan terus mengalahkan jumlah yang meninggal,’’ kata Pak Pur meyakinkan, awal April di hadapan rapat manajemen setiap Senin. Dan ternyata prediksi itu benar. Anda boleh percaya atau tidak terhadap ‘ramalan-ramalan’ putra asli Tuban, Kota Sunan Bonang ini. Tapi selama di Malang Post banyak prediksinya yang sudah terbukti.


Dan faktanya sejak 16 April hingga hari ini, tren jumlah pasien sembuh terus naik. Data per Rabu, 22 April, ada 7.418 kasus positif, meninggal 635, dan sembuh 913. Meski jumlah kasusnya juga bertambah, tapi tren sembuh ini tetap menjadi kabar baik yang menggembirakan. Mudah-mudahan tren sembuh ini juga sama, menuju masa equilibrium yang disebut Sosiolog Rahmad tadi.
Prof. Dr. Sutiman Bambang Sumitro, SU, D.Sc, guru besar Biologi Sel dan Molekuler UB menyebut, penyebaran Covid-19 tidak bisa diputus. Sebab proses mutasinya yang begitu cepat dapat menimbulkan varian baru. Ini yang membuat sulitnya menemukan anti virus. Maka upaya yang bisa dilakukan adalah dengan pencegahan, agar tidak banyak pasien yang memenuhi rumah sakit.


Sutiman menawarkan pola hidup baru bersama Covid dengan cuci tangan, pakai masker, jaga jarak, membersihkan barang-barang yang sering dipegang banyak orang, tidak bersin dan meludah sembarangan. Pola ini seperti protokol kesehatan yang sudah diterapkan selama ini.
Bila semua sudah dilakukan, maka ada pertanyaan dari Saya untuk semuanya. Sudahkan Anda melakukan Karantina Mandiri 14 hari sesuai anjuran pemerintah dan banyak pihak selama ini? Kalau belum, maka Ramadan ini menjadi bulan yang tepat untuk Karantina Mandiri 14 hari itu. Meskipun Anda sehat, setidaknya Anda sudah mengikuti protokol kesehatan yang digaungkan selama ini. Dan Anda ikut ambil bagian dari upaya memutus rantai penyebaran Covid-19. (Saya sudah melakukan di pertengahan Maret lalu). Kalau tidak, maka Anda bisa jadi juga potensial membawa virus Corona yang bisa menularkan ke orang lain. Siapa pun itu dan kapan pun itu, tidak ada yang tahu. Wallahu a’lam. Selamat berpuasa, semoga kita semua tetap sehat dan sempurna menjalankan ibadah Puasa Ramadan. Amin ya Rabbal alamin.(*)

Oleh: Abdul Halim
Pemimpin Redaksi Malang Post

Editor : Redaksi
Penulis : Abdul Halim