MalangPost - Mari Berdamai Dengan Virus Corona

Senin, 06 Juli 2020

  Mengikuti :


Mari Berdamai Dengan Virus Corona

Kamis, 28 Mei 2020, Dibaca : 3111 Kali

Beberapa waktu yang lalu Presiden Jokowi mengajak bangsa (rakyat) Indonesia untuk berdamai dengan virus Corona. Presiden menegaskan masyarakat harus bias berkompromi, hidup berdampingan, dan berdamai dengan Covid-19 agar tetap produktif. Mengapa kita harus berdamai dengan virus Corona? Apa maksudnya? Dalam pemahaman saya, ajakan berdamai dari Presiden  ini berarti kita harus mampu menyesuaikan diri dengan virus Corona.

Dalam perspektif psikologi sosial, penyesuaian diri diartikan sebagai suatu proses yang mencakup suatu respons mental dan tingkah laku,  dimana individu berusaha untuk dapat berhasil mengatasi kebutuhan dalam dirinya, ketegangan, konflik dan frustrasi yang dialaminya,  sehingga terwujud tingkat keselarasan atau harmonisan antara tuntutan dalam diri dengan apa yang diharapkan oleh lingkungannya. Secara umum ada dua pola dari penyesuaian diri, yakni, Autoplastis dimana manusia mengubah diri sesuai dengan keadaan lingkungan dan tuntutan lingkungan, dan  Alloplastis  dimana manusia mengubah lingkungan sesuai dengan keadaan atau keinginandirinya. Pola penyesuaian diri Autoplastis memposisi kan manusia sebagai makhluk yang pasif, karena perilakunya diatur dan harus tunduk terhadap kondisi dan situasi lingkungan, sedangkan pola penyesuaian diri  Alloplastis menempatkan manusia sebagai makhluk yang aktif dimana manusia mampu mengatur dan mengendalikan situasi dan kondisi lingkungan sesuai dengan keinginan dan kebutuhannya.

 

Lantas pola penyesuaian diri yang mana yang bias dilakukan ketika harus berdamai dengan virus Corona?

 Hampir 4 bulan sejak pandemic Covid-19 merebak di Indonesia, kita semua sudah berusaha untuk menghancurkan dan melawan serangan virus Corona ini agar hilang dari lingkungan sekitar kehidupan manusia. Namun nampaknya upaya ini akan mengalami kegagalan, karena ternyata kita tidak akan mampu mengendalikan lingkungan dari ancaman virus Corona.

Presiden Jokowi sendiri menyatakan bahwa berdasarkan informasi dari World Health Organization  (WHO) virus Corona tidak mungkin bias dihilangkan. Dengan demikian, kita tidak mungkin melakukan penyesuaian diri dengan skema pola Autoplastis.

 

Jika kita tidak bias melakukan pola penyesuaian diri autoplastis, maka berarti kita harus melakukan penyesuaian diri dengan pola alloplastis. Dengan sangat terpaksa kita harus menjadi manusia yang pasif dan berdamai dengan virus Corona. Kita harus mulai menyiapkan diri untuk merubah perilaku kita menyesuaiakan diri dan berdamai dengan virus Corona. Kita harus bersiap menghadapi apa yang disebut sebagaiNew Normal life pasca pandemic Covid-19, yakni perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protocol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan Covid-19. Dalam perspektif pemerintah, New Normal berkaitan dengan: produktif di tengah wabah, terbiasa menerapkan protocol pencegahan COVID-19 di tengah wabah corona, dan adanya standar baru dalam sektorindustri.

 

Dalam New Normal Life, berarti kita harus tetap akrab dengan standar protokol Covid-19 seperti physical distancing, social distancing, pola hidup bersih, handsanitizer, masker, cuci tangan, alat pelindung diri (APD), dan sebagainya. Dengan kata lain, kita harus siap memasuki tatanan “dunia social baru” pasca pandemik Covid-19, yang bias jadi akan sangat berbeda dengan tatanan “dunia social lama” yang secara konvensional kita jalani selama ini.

 

Dalam perspektif psikologi perilaku, pola penyesuaian diri yang alloplastis berkaitan erat dengan konsep modifikasi  perilaku.  (pembentukan dan perubahan perilaku). Secara umum modifikasi perilaku dapat diarti kansebagaiupaya, proses, atau tindakan untuk mengubah perilaku, melalui aplikasi prinsip-prinsip belajar yang teruji secara systematis untuk mengubah perilaku tidak adaptif menjadi perilaku adaptif, dengan penggunaan secara empiris teknik-teknik perubahan perilaku untuk memperbaiki perilaku melalui penguatan positif, penguatan negatif, dan hukuman, dengan menerapkan prinsip-prinsip proses belajar maupun prinsip-prinsippsikologihasileksperimenpadamanusia.

 

Dalam kajian literature terdapat beberapa cara modifikasi perilaku (pembentukan dan perubahan perilaku), namun secara umum paling tidak ada tiga cara yang biasa dilakukan, yakni melalui:  proses pembiasaan, pemberian hukuman (sanksi),  dan menanamkan kesadaran.

 

Pertama, suatu perilaku bias dibentuk melalui proses pembiasaan dimana suatu tingkah laku tertentu akan terbentuk pada seseorang melalui suatu kebiasaan yang dilakukan secara terus menerus.  Ibarat peribahasa  “alah bias karena biasa”, maka seseorang akan melakukan suatu perbuatan (perilaku) tertentu karena dia biasa melakukannya. Dalam konteks virus Corona ini misalnya kita mulai terbiasa hidup sehat dan bersih, biasa mencuci tangan pakai sabun secara rutin, mulai biasa memakai masker, dan sebagainya.

 

Kedua, suatu perilaku bias dibentuk atau dirubah melalui pemberian hukuman (sanksi). Hukuman (sanksi) dalam hal ini berfungsi sebagai pemerkuat (reinforce) negative bagi suatu tingkah laku tertentu. Misalnya, agar seseorang taat terhadap aturan lalulintas maka kalau orang tersebut melanggar aturan lalulintas kemudian diberi sanksi berupa tilang.  Dalam konteks virus Corona ini misalnya hukuman (sanksi) diberikan kepada mereka yang melanggar aturan protokol Covid-19 seperti aturan PSBB. Melalui penerapan hukuman (sanksi) ini maka tingkah laku masyarakat yang sesuai dengan standar protocol Covid-19 akan terbentuk.

 

Ketiga,  pembentukan dan perubahan tingkah laku bias dibentuk melalui proses penanaman kesadaran, yang dilakukan melalui proses sosialisasi dan penyampaian informasi yang dilakukan secara terus menerus. Misalnya, agar seseorang taat terhadap aturan lalulintas, maka pihak Kepolisian secara terus menerus melakukan sosialisai dan penyebaran informasi tentang Undang-undang Lalulintas, agar masyarakat memiliki pengetahuan dan pemahaman tentang cara berlalu-lintas yang baik dan benar. Dalam konteks virus Corona, maka upaya yang terus menerus dalam memberikan sosialisasi terhadap masyarakat tentang pandemic Covid-19 ini diharapkan akan membentuk sikap, persepsi, motivasi, dan tingkah laku yang positif.

 

Akhir kata, mari kita songsong era New Normal Life pasca pandemic Covid-19 dengan melakukan modifikasi perilaku mulai saat ini. Selamat datang era New Normal Life, mari kita berdamai dengan virus Corona. (*)

Oleh : Oman Sukmana

Ketua Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial, FISIP UMM

Editor : Redaksi
Penulis : Opini