Masa Pandemi, Perbaiki Pola Konsumsi

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Masa Pandemi, Perbaiki Pola Konsumsi

Minggu, 26 Apr 2020, Dibaca : 2004 Kali

Beberapa bulan terakhir suasan hiruk pikuk berita seputar pandemi virus corona terus membanjiri ruang publik. Diantaranya adalah berita update penyebaran COVID-19, perkembangan kebijakan pemerintah dan aktivitas filantropi.
Situasi ini memang sulit, tapi dibalik kesulitan, pasti ada peluang kemudahan.
Mirip seperti peribahasa para pebisnis, "kendala atau kesulitan anda adalah peluang kami". Para pengusaha dewasa ini yang menggeluti berbagai usaha banting setir untuk memproduksi masker dan hand sanitizer. Selain makanan pokok, dua barang inilah yang paling dibutuhkan saat ini. Alhasil demand creats its supply, segera persediaan masker dan hand sanitizer melimpah di pinggir jalan maupun di laman belanja online.
Lantas bagaimana nasib jenis usaha bukan bidang konveksi dan obat-obatan yang tidak bisa banting setir untuk membuat makser dan hand sanitizer? Rupanya banyak jalan menuju roma. Mereka putar otak, misalnya saja pengusaha penjual buku mereka berlomba-lomba menawarkan paket diskon buku. Tak tanggung-tanggung beberapa buku hanya bisa di tebus murah dengan kurang lebih Rp. 100.000 saja. Begitu menggiurkan, khusunya bagi pecinta buku atau akademisi perguruan tinggi.
Konsep jualan 'tebus murah' memang menarik hingga kita seringkali lupa, pada saat belanja apakah barang yang kita beli benar-benar dibutuhkan saat ini? Tanpa di sadari bahwa kini dan beberapa bulan kedepan adalah situasi yang penuh ketidakpastian. Sampai kapan kita akan bergelut dengan pandemi corona ini? Dua, tiga bulan atau bahkan satu tahun kedepan.
Padahal dalam kondisi ini, kita harus eling lan waspodo (bersiap dan waspada) terutama dalam menjaga keuangan rumah tangga.
Seperti diketahui bahwa harga-harga barang sudah mulai naik, belum lagi jika ditambah dengan kedatangan bulan suci Ramadhan. Sudah rahasia umum, jika pada bulan Ramadhan kenaikan harga beberapa komoditas menjadi ritus rutinan. Otomatis kenaikan harga pada saat ini disebabkan oleh dua faktor penting; yaitu pandemi virus corona dan bulan Ramadhan.
Maka dari itu penting untuk menerapkan pola konsumsi yang benar saat ini. Apa dan bagaimana kah pola konsumsi ini? dan apakah langkah-langkah penting yang harus dilakukan terutama di era pandemi ini. Era disrupsi saja sudah dianggap sebagai era ketidakpastian. Apalagi di tambah dengan pandemi. Inilah era "the new-new normal era” (era benar-benar penuh ketidakpastian).

Pola Konsumsi Islami
Dalam Islam dijelaskan bahwa konsumsi sesorang harus dalam batas wajar dan tidak berlebihan.Maksud dalam batas wajar dan tidak berlebihan adalah tidak melakukan pengeluaran untuk konsumsi dengan batas melebih normal, sehingga kurang dari yang seharusnya inilahnyang disebut dengan pelit.
Perilaku ini juga terjadi terhadap diri sendiri maupun kepada orang lain. Misalnya saja di saat era pandemi imunitas tubuh seseorang harus baik, maka yang harus dilakukan adalah dengan mengkonsumsi makan dan minuman yang bergizi dan bervitamin. Ditambah lagi dengan suplemen seperi rimpang-rimpangan maupun suplement lainnya. Namun karena terlalu pelit, langkah-langkah di atas tidak dilakukan sebab terlalu sayang (eman) dengan uang yang dimiliki. Alhasil imunitas tubuh menjadi rendah sehingga rentan terkena penyakit.
Sebaliknya perilaku konsumsi melampau batas (boros) juga tidak di anjurkan dalam Islam. Dalam hal ini, Rasulullah SAW dalam sebuah sabdanya memberikan sedikit gambaran yang mudah, bahwa dalam konsumsi selayaknya perut di isi dengan sepertiga (1/3) makanan, sepertiga(1/3) minuman dan sepertiga lagi untuk udara yang digunakan bernafas (HR. Muslim).
Selaras dengan itu, dalam buku ar-rijal haula ar-Rasul karya Khalid bin Khalid, sahabat Rasulullah Salman al-Farisi menuturkan bahwa ia selalu membagi pendapatannya kepada tiga bagian. Bagian pertama untuk kebutuhan sehari-hari, sebagian untuk modal usaha, dan sebagian lagi untuk sedekah.  Hal ini mengisyaratkan kepada kita. bahwa konsumsinyang Islami adalah dengan tidak membelanjakan harta berlebihan sehingga besar pasak daripada tiang.
Perilaku demikian dapat menjerumuskan kita ke dalam jurang kemiskinan dan kebangkrutan mengingat hari-hari yang kita lalu kini dan yang akan datang, entah sampai kapan, merupakan masa ketidakpastian. Tentunya dengan penuh harap bahwa pandemi ini akan segera berakhir. Jangan sampai kita menggali lubang untuk kita sendiri, baik itu lubang kemiskinan, kemelaratan dan kebangkrutan. Senyampang masih memiliki pilihan (ikhtiyar) untuk menghindari kondisi yang lebih buruk dari kondisi yang sudah tidak baik.
Guna memudahkan dalam menghindari perilaku konsumtif, Al-Ghazali telah membagi prioritas pemenuhan kebutuhan dalam tiga bagian: pertama, kebutuhan dasar (basic needs), yaitu kebutuhan tingkat dasar atau kebutuhan primer seperti pakaian, makanan dan tempat tinggal. Kedua, kebutuhan sekunder (hajiyah), yaitu kebutuhan pelengkap atau penunjang seperti hand sanitizer atau masker. Ketiga, kebutuhan penyempurna(tahsiniyyah), yaitu kebutuhan yang menyempurnakan kondisi individu seperti internet dan smartphone.
Apapun yang telah, sedang dan akan terjadi memang sudah ditetapkan oleh-Nya (wallahu khlaqakum wa ma taf'alun) sejak dulu kala di alam yang terjaga (lauhin mahfudz). Namun rupanya, Sang Maha Kuasa juga lebih suka jika kita berusaha untuk mencoba merubah takdir dengan segala kemampuan yang kita miliki.
Siapa tau usaha kita di ijiabahi. Bukankah Tuhan menyukai orang-orang yang senantiasa memberikan respon terbaik dari cobaan-cobaan yang doberikan kepadanya (liyabluwakum ayyukum ahsanu amalan).
Semoga pandemi virus corona ini cepat berlalu, marilah berhemat dan hindari konsumsi berlebihan!

Rahmad Hakim
Dosen Ekonomi Syariah, Universitas Muhammadiyah Malang.

Editor : Redaksi
Penulis : Opini