MALANG POST - Masih Ingin Studi di China, Kuliah Online Sembari Tunggu Corona Mereda

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Masih Ingin Studi di China, Kuliah Online Sembari Tunggu Corona Mereda

Selasa, 18 Feb 2020, Dibaca : 2862 Kali

Alhamdulillah. Kata itu terlontar dari bibir Lailatul Rofiqoh, ibunda Churin’in Maziyah warga Rogonoto Singosari, mahasiswi Hubei Polytechnic University. Churin, yang akrab disapa Yiyin, sempat studi di China, dan pulang sesaat sebelum wabah virus corona merebak.
“Alhamdulillah lega dan senang, karena sebelum ini selalu khawatir. Saat masih di China sana, komunikasi cukup lancar, tapi begitu dikarantina di Natuna, komunikasi sempat tersendat. Tiga hari sebelum pulang, baru lancar lagi komunikasinya,” papar Lailatul kepada Malang Post, ditemui di kediaman keluarga Yiyin, di kawasan Dengkol, Singosari, Minggu sore (16/2).
Yiyin merupakan satu dari sejumlah besar mahasiswa asal Indonesia yang menempuh studi di negeri tirai bambu. Yiyin masih duduk di tingkat satu, dan menempuh semester pertama jurusan kedokteran. Baru tiga bulan tinggal di Huangshi sebagai mahasiswa asing, Yiyin mendengar kabar wabah corona merebak di Wuhan.
Yiyin menyebut, lokasi kampusnya di Huangshi, terhitung jauh dari ground zero Wuhan. “Jarak antara Wuhan dan Huangshi itu 98 kilometer. Karena itu, saat pertama ada info soal corona, saya dan teman-teman di kampus masih bisa keluar dari lingkungan kampus untuk belanja,” ujar Yiyin.
Dia ingat, wabah kali pertama merebak di Wuhan pada 31 Desember 2019. Namun, situasi mulai tidak kondusif saat tahun baru imlek. Tepatnya, tanggal 26 Januari 2020. Seluruh toko dan pusat perbelanjaan tutup karena warganya merayakan tahun baru. Ditambah lagi, muncul larangan dari pemerintah China kepada seluruh warga, untuk keluar rumah.
“Tanggal 26, kami gak boleh keluar kampus. Saat itu liburan musim dingin, plus tahun baru imlek. Semua toko tutup, logistik habis. Tapi, saya berusaha tetap tenang karena jangan sampai keluarga di rumah ikut khawatir,” sambung Yiyin.
Beruntung, pemerintah Indonesia saat itu bergerak cepat mengatasi persoalan para WNI di China. Setelah kabar corona merebak, KBRI dan Kemenlu RI tidak meninggalkan para warganya. Mereka melakukan kontak cepat dengan otoritas setempat. Dalam hal ini, Yiyin dan rekan-rekannya, mendapat bantuan logistik berupa makanan dan minuman, serta kebutuhan harian. Kehidupan mereka terpantau, berkat kerjasama kampusnya dan pemerintah Indonesia.
“Pemerintah cepat dalam membantu kami, bantuan dari KBRI dan Kemenlu RI datang cepat,” ujar Yiyin.
Saat situasi mulai genting di Wuhan, Yiyin dan seluruh WNI, mulai bersiap untuk kembali ke tanah air. Dia mengaku ingat bahwa Huangshi masih belum terpapar corona, ketika pulang ke Indonesia pada 2 Februari 2020 dan karantina di pulau Natuna.
Dia pun tiba di Bandara Juanda bersama rombongan, disambut Gubernur Jatim Khofifah Indar Parawansa, sebelum pulang ke tanah kelahirannya, Bhumi Ngalam. Namun, setibanya di Malang 15 Februari 2020, Yiyin merangkum kabar bahwa Huangshi sudah mulai terpapar corona. Dia bahkan mencatat, setidaknya ada 988 kasus orang terjangkit corona di Huangshi.
“14 di antaranya  meninggal, 192 sembuh,” tandas Yiyin.
Secara pribadi, dia mengaku sangat senang bisa pulang ke Malang dan kembali bertemu dengan keluarga yang merindukannya. Dia menyebut kepulangannya ke Indonesia sangat bergantung pada semua pihak yang sudah rela memperjuangkan WNI di China.
Dia mengucapkan terimakasih, kepada Presiden RI Joko Widodo, Kemenlu dan tim korps topi merah KBRI, Kemenkes, TNI, BNPB, Kemendagri, pengurus PPITW, Perhimpunan Alumni Tiongkok (Perhati), warga Natuna yang ramah terhadap para mahasiswa selama karantina, serta semua pihak yang menyukseskan kepulangannya para WNI.
Tapi, Yiyin sendiri masih memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Dia ingin tetap melanjutkan studi di China setelah wabah corona mereda.
Cita-citanya untuk menjadi dokter, tetap dijunjung tinggi. Karena itu, mulai Senin hari ini (17/2), para mahasiswa seperti dirinya, akan menjalani kuliah secara online untuk menjaga agar studi akademis tidak terbengkalai. Yiyin mengaku ingin kembali ke Huangshi usai pemerintah China memastikan corona berhasil ditanggulangi.
“Ya saya ingin tetap melanjutkan studi, untuk sementara saat ini kuliah secara online dulu,” tambahnya.
Tidak ada orang tua yang tidak copot jantungnya ketika mendengar buah hati berada di area berbahaya. Ayah Yiyin, Purnomo pun mengaku khawatir dengan kondisi buah hatinya ketika kali pertama virus merebak.
“Ya sebagai orang tua tentu khawatir, Alhamdulillah bisa pulang dan sehat,” jelas Purnomo, yang diamini nenek Yiyin, Hj Masruhah.
Menurut sang nenek, Yiyin dikenal sudah cerdas sejak dini. Semangat belajarnya tinggi, dan rajin membaca. Mulai dari SD, bakat belajarnya sudah terlihat bahkan sampai di bangku kuliah.
Karena itu, secara pribadi Masruhah bangga dengan semangat kerja dan belajar keras dari Yiyin untuk menggapai cita-cita sebagai dokter. Dia sendiri berharap, pemerintah bisa memberi solusi untuk para mahasiswa yang pulang dari China, agar studi mereka tak terlantar. Supaya, kerja keras cucunya tidak terbuang sia-sia gara-gara corona.(Fino Yudistira/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira