MalangPost - Memanas, Tensi AS-China Makin Tinggi

Senin, 13 Juli 2020

  Mengikuti :

Memanas, Tensi AS-China Makin Tinggi

Minggu, 31 Mei 2020, Dibaca : 4485 Kali

JAKARTA - Tensi Amerika Serikat dan China makin tinggi. Bukan hanya di Hong Kong, keduanya sempat mengalami insiden di Laut China Selatan.
Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), mengusir kapal perang Amerika Serikat (AS) yang dituding masuk tanpa izin ke perairan teritorial China, di wilayah kepulauan Xisha (Paracel), pada Kamis (28/5/2020). 

 

Menurut sumber China, pengusiran dilakukan karena operasi AS merupakan bentuk provokasi yang mengganggu perdamaian dan stabilitas di Laut China Selatan.

"PLA mengorganisir pasukan angkatan laut dan udara untuk mengikuti kapal perusak yang dilengkapi rudal AS, USS Mustin, yang secara ilegal masuk ke perairan teritorial China di lepas Kepulauan Xisha pada hari Kamis tanpa izin dari pemerintah China," kata Kolonel Senior Li Huamin, seorang juru bicara dikutip Global Times.
"Pasukan Southern Theatre Command PLA mengikuti dan memantau jalurnya, mengidentifikasi kapal, memperingatkan dan mengusirnya."
Lebih lanjut, Li mengatakan, bahwa tindakan AS yang provokatif tersebut jelas melanggar kedaulatan dan kepentingan keamanan China serta hukum dan norma internasional terkait. Hal itu juga secara serius mengganggu perdamaian dan stabilitas di wilayah Laut China Selatan, katanya.

 

Sebelumnya, pihak AS telah memberi klarifikasi soal operasi USS Mustin di kawasan yang disengketakan tersebut. Letnan Anthony Junco, juru bicara Armada ke-7 Angkatan Laut AS mengatakan tujuan operasi kapal AS di Laut China Selatan adalah untuk menegakkan hak navigasi dan kebebasan di kawasan.
"Pada 28 Mei (waktu setempat), USS Mustin menegaskan, hak navigasi dan kebebasan di Kepulauan Paracels, konsisten dengan hukum internasional," katanya dalam sebuah pernyataan, menurut CNN International.
"Dengan melakukan operasi ini, Amerika Serikat mendemonstrasikan bahwa perairan ini berada di luar wilayah yang China dapat klaim secara hukum sebagai laut teritorialnya," tambahnya.Ini bukan kali pertama PLA mengusir kapal perang AS dari Laut China Selatan.

 

Tahun ini hal serupa sudah terjadi berkali-kali, di mana pada Januari lalu kapal tempur pesisir USS Montgomery diusir saat berlayar dekat Kepulauan Nansha.
Pada awal Maret, kapal perusak USS McCampbell yang berlayar dekat Kepulauan Xisha juga diusir. Demikian pula yang terjadi pada kapal perusak USS Barry yang berlayar di dekat kepulauan itu pada akhir April.
Xinsha yang ada di kepulauan paracel, merupakan area yang disengketakan. Bukan hanya China, area ini juga diklaim milik Vietnam dan Taiwan.


Sementara itu, ditulis Bloomberg, Laut China Selatan mungkin area yang paling berpotensi tinggi menjadi tempat konfrontasi senjata kedua negara. Walaupun hal tersebut tentu tidak direncanakan baik oleh China maupun AS.
"Meski konflik bersenjata antara AS-China sangat kecil secara perhitungan, kami melihat aset militer mereka beroperasi secara teratur dan tinggi di wilayah maritim yang sama," kata Collin Koh Swee, peneliti dari Singapura, dikutip Jumat (29/5/2020).
"Interaksi dari aset-aset kedua pihak yang bersaing ini bisa menciptakan peluang ... sengaja atau tidak sengaja yang berpotensi membakar dan meningkatkan eskalasi. Ini adalah risiko yang tak bisa didiskon," lanjutnya. (cnbc/mp)

Editor : Redaksi
Penulis : cnbc