Membaca Qunut Nazilah pada Salat Jumat

Minggu, 31 Mei 2020

  Mengikuti :


Membaca Qunut Nazilah pada Salat Jumat

Kamis, 02 Apr 2020, Dibaca : 4566 Kali

Dalam situasi keprihatinan seperti pandemi Sars-Cov-2 atau Covid-19, Qunut Nazilah menjadi salah satu amaliyah yang sangat dianjurkan dalam salat maktubah yaitu Dhuhur, Ashar, Maghrib, Isya, dan Subuh. Dari sini kemudian muncul pertanyaan kritis ketika Qunut Nazilah juga diamalkan saat salat Jumat.


Lalu ditanyakan apakah dalam mazhab Syafi’i memang dianjurkan pula mengamalkan Qunut Nazilah saat salat Jumat? Imam As-Syafi’i sendiri sebagai Shahibul Mazhab, telah membuat subbab khusus tentang permasalahan ini.


Dalam Kitab Al-Umm dijelaskan: “Qunut dalam shalat Jumat. Imam As-Syafi’i RA berkata, ‘Sejumlah ulama menghikayatkan bilangan (jumlah) salat Jumat yang dilakukan oleh Nabi SAW, lalu aku tidak mengetahui satu pun dari mereka yang menghikayatkan bahwa Nabi SAW melakukan qunut di dalam salat Jumat. Hanya saja (qunut dalam) salat Jumat tersebut masuk dalam sejumlah qunut yang dilakukan oleh Nabi SAW dalam seluruh salat maktubah saat beliau mengamalkan qunut atas pembunuhan para utusan beliau di Bi’r Ma’unah. Dan tidak ada anjuran qunut dalam salat apapun kecuali salat Subuh, kecuali bila terjadi tragedi (bagi kaum muslimin atau sebagiannya), maka orang boleh qunut dalam seluruh salat (maktubah) bila imam menghendaki.” (Lihat As-Syafi’i, Al-Umm, [Mansoura: Darul Wafa’: 1422 H/2001 M], juz II, halaman 424).


Menurut Imam as-Syafi’i tidak ditemukan riwayat yang terang-terangan menyebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW mengamalkan doa qunut saat salat Jumat. Namun demikian, secara prinsip tergantung adakah nazilah atau tragedi keprihatinan yang dialami kaum muslimin atau sebagiannya, atau tidak.


Bila ada, maka pada salat Jumat kita dianjurkan membaca qunut nazilah. Bila tidak, maka tidak ada kesunnahan qunut padanya. Dalam konteks inilah pendapat Imam Ibnul Mundzir (242-319 H/856-931 M), mujtahid generasi ketiga di kalangan ulama Syafi’iyyah—bahkan bersama dengan Muhammad bin Nashr, Muhammad bin Jarir, Ibnu Khuzaimah yang terkenal dengan sebutan al-Muhammaddun al-Arba’ah (empat ulama Syafi’iyah bernama Muhammad), dinilai telah mencapai derajat mujtahid mutlak oleh Imam As-Subki—, yang menyatakan bahwa Imam As-Syafi’i termasuk dari barisan ulama yang tidak mengamalkan qunut saat shalat Jumat harus dipahami.


Di kemudian hari Imam An-Nawawi menegaskan pendapat shahih dalam mazhab Syafi’i menyatakan, jika terjadi tragedi keprihatinan yang dialami kaum muslimin seperti ketakutan (karena diserang musuh), paceklik, wabah, dan semisalnya, maka pembacaan qunut sunnah dilakukan yang kemudian populer disebut qunut nazilah. Bila tidak ada keprihatinan seperti itu, maka tidak ada sunnah.


Dengan bahasa yang lebih lugas Syekh Wahbah Az-Zuhaili menegaskan bahwa qunut nazilah memang disyariatkan namun tidak secara mutlak. Qunut dibaca dalam salat jahriyyah (yang disunnahkan dengan suara keras: Maghrib, Isya dan Subuh) menurut ulama Hanafiyyah; dalam seluruh salat maktubah oleh ulama Syafi’iyah; dan dalam seluruh shalat maktubah kecuali salat Jumat menurut ulama Hanabilah, karena mencukupkan doa nazilah dalam khotbahnya. (Wahbah Az-Zuhaili, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh.
Pernyataan Syekh Wahbah yang mengomparasikan pendapat lintas mazhab semakin memperjelas, dalam mazhab Syafi’i hukum qunut nazilah saat salat Jumat adalah sunnah. (nuo/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : NUO