MALANG POST - Memberikan Privilitas SURGA pada Anak

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Memberikan Privilitas SURGA pada Anak

Senin, 13 Apr 2020, Dibaca : 2043 Kali

Saat sedang diuji oleh virus Corona (Covid-19) seperti sekarang ini, setiap subyek keluarga, khususnya orang tua, untuk lebih serius memberikan “surga” pada anak. Ini tidak bermakna sebaliknya, bahwa kalau tidak ada virus corona, lantas tidak perlu lebih serius.

Keseriusan itu lebih tertuju pada kondisi “darurat’ yang sedang terjadi, yang membuat orang tua mau tidak mau harus menunjukkan sikap atau aktifitas ekstranya dalam memproduksi kasih sayang bernilai edukatif etik. Mengapa harus demikian yang ditunjukkan orang tua.

Menyikapi kondisi “darurat” ini, tidak setiap anak mampu menunjukkan kearifannya. Mereka belum mematuhi kebijakan pemerintah maupun kebutuhan asasi yang berurusan dengan Kesehatan dan keselamatan orang lain maupun dirinya.

Kondisi “darurat” ini disikapinya sebagai “neraka” atau “penjara” yang tentu saja menghalangi kebebasannya, sehingga bagi sebagian  anak, kondisi ini ditempatkan sebagai obyek yang harus dilawan.

Dibubarkannya sejumlah anak yang sedang balapan liar di salah satu tempat di Kabupaten Malang hanyalah salah satu contoh yang menunjukkan, bahwa mereka berkeinginan membuat dunia lain atau “surga” yang dianggap mampu menyenangkan dan memuaskannya.

Atas kondisi tersebut, setiap hari sekarang ini adalah hari menghidupkan dan mengembangkan kasih sayang pada anak. Setiap orang tua berkewajiban menyayangi siapapun yang menjadi subyek hidup (anak) yang harus disayangi.

Kasih sayang pada anak itu memang harus dikembangkan, pasalnya di era virus Corona ini demikian banyak dan beragam tantangan yang menguji ketahanan fisik maupun psikologisnya, di samping urusan “pekerjaan” dari sekolahan yang tidak sedikit membebaninya.

Itu menunjukkan, bahwa anak dalam kondisi demikian justru harus mendapatkan hak privilitasnya dalam menikmati “surga”. Maknanya kepada merka harus dijauhkan pola pembentukan yang bercorak represip. Kondisinya yang sudah “susah” menyikapi “kedaruratan”, adalah bagian dari konsiderasi edukatif untu membentuknya dengan pendekatan yang benar-benar mempertimbangkan eksistensi hak-hak asasinya.

Dalam pertimbangan UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak disebutkan, bahwa anak sebagai tunas, potensi, dan generasi muda penerus cita-cita perjuangan bangsa memiliki peran strategis, ciri, dan sifat khusus sehingga wajib dilindungi dari segala bentuk perlakuan tidak manusiawi yang mengakibatkan terjadinya pelanggaran hak asasi manusia;

Ketentuan itu menunjukkan, bahwa anak merupakan pelanjut keberlanjutan hidup bangsa, sehingga mereka harus menjadi sumberdaya yang hebat. Kalau mereka tidak menjadi sumberdaya hebat, mustahil bangsa ini bisa diantarkan menuju era kemajuan.

Untuk membentuk menjadi generasi hebat, setiap saat mereka harus mendapatkan limpahan kasih sayang, yang limpahan ini bermaknakan perlindungan hak progresifikitas edukatifnya, hak menjalankan doktrin keagamaan, hak menggali minat dan bakat lainnya.

Itu maknanya, mereka (anak-anak) harus terus menerus diberikan kasih sayang secara edukatif. Mereka tidak boleh diabaikan (dialinasikan), apalagi sampai ditelantarkan yang lebih terkesan diruang dengan misalnya sekedar dikurung di rumah atau disingkirkan dari ranah komunitas sosial pergaulannya.

Setiap saat, mereka itu juga harus diperhatikan, diajak berdialektika, dan dilibatkan dalam banyak aktifitas yang positip, yang berelasi dengan kedekatan padanya supaya mereka tidak mengalami “kehampaan” di tengah tantangan yang semestinya harus dijawabnya.

Kalau misalnya sampai terjadi, bahwa di era wabah ini, ada diantara mereka itu yang terjerumus dalam perbuatan yang berpola pelanggaran norma yuridis, yang potensial dan rentan menghancurkannya, atau tiba-tiba menjatuhkan opsi dengan ragam tindak kenakalan atau pelanggaran etika, maka kasih sayang padanya justru harus ditumbuh suburkan lebih serius supaya mereka menemukan jalan yang benar dan menyelamatkanya.

Pemenang Hadiah Nobel Sastra tahun 1945 bernama Gabriela Mistral pernah berpesan “banyak kekhilafan dan kesalahan yang kita perbuat, namun kejahatan kita yang paling nista adalah kejahatan  mengabaikan anak-anak kita, melalaikan mata air hayat kita. Kita bisa tunda berbagai kebutuhan kita. Kebutuhan anak kita, tidak bisa ditunda. Pada saat ini, tulang-belulangnya sedang dibentuk, darahnya dibuat dan susunan sarafnya tengah disusun. Kepadanya kita tidak bisa berkata “esok”. Namanya adalah “kini”

Pesan tersebut selayaknya dijadikan bahan refleksi, bahwa di era wabah Corona ini kita diingatkan tentang realitas anak-anak yang sedang  terancam oleh bahaya atau keadaan yang serius, yang tentu saja menuntu perhatian yang lebih serius, khususnya dari keluarga.

Kalau selama ini, mereka (anak-anak) masih menghadapi akselerasi perkembangan sosial-ekonomi yang rawan menjebak atau menjerumuskannya dalam kehancuran akibat kejahatan serius seperti perdagangan narkoba dan human trafficking, maka di era wabah Corona ini, mereka juga ditantangnya. Tantangan inilah yang membuat anak membutuhkan jiwa paedagoisme orang tua yang lebih cerdas, pintar, dan bisa membuatnya “nyaman” dalam menyikapi ragam perubahan, khususnya berbagai pemberitaan yang bermuatan  ‘horor”.

Menjaga perkembangan anak supaya tetap di jalan yang normal dalam kondisi “darurat” itu jelas tidaklah gampang. Bisa jadi banyak hambatan yang membuat  anak-anak itu terdampak keadaan, yang barangkali dibacanya sebagai hohor, sehingga dirinya tidak tumbuh secara normal.

Kalau mereka itu tidak privilitas diberikan “surga” oleh orang tuanya, jangan disalahka jika mereka bisa terseret dalam budaya liberalitas atau kondisi abnormalitas yang lebih menyeramkan, yang membuatnya berperilaku lebih abnormal dan gampang menyebarkan atmosfir pelanggaran terhadap hak-hak orang lain. (*)

Oleh : Ana Rokhmatussa’diyah

Doktor Ilmu Hukum dan Dosen Fakultas Hukum Unisma,

Penulis Sejumlah Buku dan Ketua Pokja 1 TP PKK Kota Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini