Memimpin Dengan Hati Dengan Tiga Langkah Sukses

Minggu, 20 Oktober 2019

Senin, 16 Sep 2019, dibaca : 441 , aim, sisca

Komandan Korem 083/Baladhika Jaya, Kolonel Inf. Zainuddin memiliki resep menjadi pemimpin. Baginya, pemimpin yang baik memiliki lima level kualitas. Pertama diakui, level kedua dicintai, ketiga diikuti, level keempat dapat menciptakan kader, dan kelima memberikan kenangan membekas.
Untuk mencapai level tersebut juga diperlukan tiga langkah yang mesti dijadikan pedoman, yakni proses yang baik, keluarkan ide cemerlang, dan manfaatkan momentum. Dua hal inilah yang menjadi pegangannya untuk memegang tongkat komando dalam karir militernya.
Ia baru menjabat Danrem 083/BDJ pada Juli 2019 lalu.
“Bagi saya, pemimpin itu ada 4 starata tadi, ada levelnya,” papar Zainuddin saat ditemui tim Malang Post di Makorem 083/BDJ beberapa waktu lalu.
Dijelaskannya, untuk diakui, pemimpin itu telah terbukti dengan kapasitas yang dimilikinya, baik keilmuan dan kepribadiannya. Lalu level dua dia harus dicintai, bisa merangkul dan membuat lingkungan kerjanya nyaman.
Level ketiga bisa diikuti. Ia bisa menjadi contoh-contoh baik dan inspiratif. Keempat, pemimpin yang dapat menciptakan kader alias penerus dari ide-idenya. Dan terakhir, level dikenang sepanjang masa.  
“Kalau saya belum bisa sampai level tertinggi itu. Itu seperti Bung Karno. Hingga saat ini saja kata-kata ‘berikan aku satu pemuda’ itu saja terus ada dan didengungkan sepanjang masa. Ya itu level tinggi seorang pemimpin,” papar pria kelahiran 22 Juni 1968 ini.
Dia  tidak memungkiri, dirinya pun sedang dalam proses menjadi pemimpin yang sukses. Ia mencoba dengan hal-hal sederhana terlebih dahulu. Memiliki pedoman bersikap yang “tidak biasa” terucap dari seorang anggota TNI. Pasalnya, ia tidaklah bekerja untuk atasan. Hal ini sempat ditegaskan oleh Pemred Malang Post Dewi Yuhana yang berbincang langsung dengan Zainuddin.
“Ya betul. Saya tidak bekerja untuk atasan. Saya bekerja untuk organisasi saya,” tegas mantan Danrindam I/Bukit Barisan ini.
Apakah itu berarti jika atasan, atau anggota TNI berpangkat lebih tinggi memberikan perintah kemudian kerap tidak dilaksanakan? Tentu tidak seperti itu. Zainuddin menjelaskan, hal itu diartikan dalam bentuk loyalitas tinggi menjaga nama baik organisasi.
Ia mencontohkan, semisal ada pimpinan yang prestasinya kurang maka anggota akan memback-up dan mendorong dengan cara bekerja lebih keras untuk bisa mendorong prestasi.
“Intinya untuk organisasi. Jika kadang pemimpin kurang sesuatu maka anggota yang harus melengkapi. Saling dorong dan selalu supportif untuk organisasi,” tegas alumni Akmil tahun 1992 ini.
Zainuddin memiliki pandangan bahwa jika pemimpinnya hebat maka ia akan berusaha lebih hebat lagi. Jika pun pemimpinnya tidak hebat, maka ia harus menjadi hebat untuk mendukung pemimpinnya. Inilah yang ia coba terapkan saat memimpin. Membesarkan organisasi dilakukan tidak hanya oleh pemimpin. Tetapi utamanya adalah dukungan dari seluruh anggota satuan.
“Maka dari itu kalau ada acara di daerah. Saya suruh Danramilnya. Babinshanya yang foto di baris depan sama Forpimda. Karena itu wilayah dia, dia yang harus maju jadi tokohnya. Anggota saya harus jadi tokoh di wilayahnya masing-masing,” ungkap Zainuddin.
Menurutnya, memimpin dalam sebuah satuan TNI tidaklah melulu soal komando, ketegasan dan instruksi fisik saja, tetapi juga pendekatan dari hati ke hati, mengenal psikologis anggota dan bersama saling mendukung itulah yang terpenting.
Ia pun tidak keberatan ketika anggota mencurahkan isi hati alias curhat masalah pribadi pada dirinya. Ia akan bersikap sebagai teman ketika memang ada anggota yang membutuhkannya.
(ica/aim)



Minggu, 20 Okt 2019

Ya Sepakbola Ya Karate

Loading...