Memutus Efek Domino Virus Corona dengan Pembelajaran Online

Rabu, 03 Juni 2020

  Mengikuti :


Memutus Efek Domino Virus Corona dengan Pembelajaran Online

Rabu, 18 Mar 2020, Dibaca : 1968 Kali

Istilah efek domino ternyata tak seindah seperti permainan aslinya. Umumnya, kartu domino dimainkan oleh para bapak ketika Siskamling. Domino ini dimainkan dengan gayeng, dalam nuansa kebersamaan juga kekeluargaan. Namun, gara-gara Pandemi Corona, permainan domino seperti itu, tak bisa lagi dilakukan dalam beberapa hari ke depan. Karena sosial distancing, sebagai efek domino dari Corona. Dalam dunia pendidikan, para guru juga tengah merasakan efek domino dari virus Corona. Para guru menjadi bagian dalam memutus rantai penyebaran virus tersebut.

Berawal dari coretan tangan Gubernur Jawa Timur yang menghiasi layar sosmed. Instruksi kemudian turun dengan kecepatan bagai roket. Kepala Daerah yang menginstruksikan proses belajar bagi peserta didik dilaksanakan di rumah, selama dua pekan ke depan. Kebijakan ini sempat menuai pro dan kontra. Sebab sebagian siswa masih harus menjalani ujian. Sebagai pejuang intelektual, para tenaga pendidik harus berperan menjaga keselamatan anak didiknya.  Manajemen sekolah akhirnya memutar otak. Dalam situasi darurat, proses belajar dan ujian harus tetap diselenggarakan. Ketangkasan ini juga ditunjukkan oleh Plt. Kepala Sekolah SMPN 04 Batu, sebenarnya domain tugas kepemimpinan beliau ada pada SMPN 06 Batu; Budi Prasetyo, S.Pd.

Para guru wajib mengikuti prosedur yang ditetapkan pemerintah. Yakni memutus rantai Corona dengan menghindari pertemuan atau tata muka dalam jumlah besar. Pilihannya kemudian adalah menggelar pembelajaran berbasis online. Solusinya memakai google classroom, ini menjadi cara jitu untuk menghubungkan alur pikir antara guru dan peserta didik. Pembelajaran ini adalah pilihan yang diputuskan sesuai dengan sekolah yang diampu. Dengan google classroom, guru bisa memakai youtube dalam pembelajaran. Sebenarnya moda seperti ini sudah banyak dilakukan oleh para tenaga pendidik yang gemar menggunakan power point  dan video show. Bedanya, yang terjadi sekarang, semua kemasan itu dirangkai dan ditayangkan secara dunia maya , tidak berhadapan wajah secara langsung dengan peserta didik. Komunikasi terjadi dalam balutan aplikasi online.

Demi menghadang laju Corona, guru harus belajar mengoperasikan aplikasi tersebut. Mulai membuka kelas mata pelajaran, memasukkan materi, memberikan quiz hingga scoring. Corona yang bisa disebut sebagai musibah, ternyata juga membawa hikmah. Para guru harus merakit moda baru pembelajaran. Alat penyampai ilmu pengetahuan dari guru kepada peserta didik. Pemilihan Google Classroom dianggap sebagai transportasi tercepat saat ini yang dipilih oleh sekolah guna memudahkan proses pembelajaran.

Langkah  pertama kali yang dilakukan oleh pengampu, adalah; memilah materi yang sedang dibahas. Sistem membuat para tenaga pendidik malah enggan text book . Kenapa? Sumber dari buku malah memperlambat proses masuknya materi. Sebab pendidik harus bekerja dua kali. Harus mengetik materi terlebih dahulu. Sehingga web sources lebih diminati. Class Session, kemudian ditata oleh manajemen sekolah. Hari, tanggal dan urutan jadwal mengajar juga telah disusun dengan apik. Paling tidak hal itu yang dilaksanakan di SMPN 04 Batu.

Inilah ketangkasan Plt. Kepala SMPN 04 Batu yang segera ditindaklanjuti oleh tim pengembang kurikulum, merkea bersinergi dengan para ahli IT. Kode yang tercantum di tiap kelas tatap muka inilah yang nantinya diketikkan oleh peserta didik pada kelas aplikasi  mereka. Sehingga layar senantiasa terhubung antara pengampu mapel dan peserta.

Plt. Kepala Sekolah membuat kelas dan meminta para tanaga pendidik untuk mengikuti tatap muka. Hal ini tentunya bertujuan, azas adil dan merata. Meskipun jadwal kelas belum dimulai, ternyata kelas Mapel sudah berisikan minimal 50 persen jumlah tiap kelas offline. Bagi pengajar yang pernah mengikuti Pendidikan dan Latihan Profesi Guru (PLPG) atau Pendidikan Profesi Guru (PPG) tentu sudah familiar dengan pembelajaran online. Itu dibuktikan dengan piagam tersertifikasi sebagai guru profesional, yang mampu mengoperasikan sistem daring. PLPG sendiri terakhir dilaksanakan pada tahun 2017 hingga digantikan dengan PPG. Pada pelatihan itu, peserta interaksi dengan dosen pada jam-jam yang telah ditentukan.  Materi harus dikumpulkan para guru di laman dunia maya. Selama beberapa bulan , tenaga pendidik kenyang dengan materi tentang sistem daring.

Sementara google classroom digunakan dalam pembelajaran dengan siswa kali ini, masih dalam tahap uji coba. Berbeda dengan sistem daring kegiatan PLPG dan PPG sudah dikonsep dengan apik oleh kampus terkait. Bahkan diajarkan oleh dosen andal yang bisa membimbing menuju guru profesional. Pemakaian google classroom ini memang belum umum. Kendalanya tak hanya sistemnya yang belum familiar. Namun dalam pelaksanaannya, ada juga peserta didik yang terkendala kuota internet minim. Ada juga yang mengalami kendala karena buruknya sinyal. Namun diperkirakan sebagian peserta didik tak bisa masuk ke sistem itu, karena tidak mengerti cara menjalankan aplikasi. Memang harus ada evaluasi dan tindak lanjut dari pemakaian program tersebut.

Khusus untuk SMPN 04 Batu, sebenarnya sudah sangat mampu melaksanakan moda daring ini. Terbukti, Kelas 9 mengerjakan latihan soal dengan batas waktu pukul 20.00 WIB. Mereka dipantau oleh tim pengembang kurikulum dan proktor ataupun pendamping pelaksana UNBK. 98 persen nominasi UNBK sudah bisa diselesaikan. Yang diperlukan saat ini adalah peran pemerintah dan instansi pendidikan untuk memfasilitas pembelajaran google classroom. Program itu bisa disempurnakan aplikasinya dengan sinergi dan koordinasi antara lembaga universitas, dosen ahli dan guru program PLPG atau PPG. Supaya ke depan program ini bisa diaplikasikan untuk semua pembelajaran, tak hanya ketika Corona melanda.(*)

Oleh: Diyah Aulaning Ilmiah

Guru SMP Negeri 04 Batu

Editor : Redaksi
Penulis : Opini