Mengunjungi Desa Terbersih ke 3 di Dunia

Sabtu, 30 Mei 2020

  Mengikuti :


Mengunjungi Desa Terbersih ke 3 di Dunia

Sabtu, 01 Feb 2020, Dibaca : 8463 Kali

DESA Wisata Penglipuran. Hening, asri dan bersih. Saking bersihnya, desa Panglipuran sampai ditahbiskan sebagai desa terbersih ketiga di dunia. Predikat diberikan majalah international Boombastic tahun 2016 lalu. ‘’Ada juga beberapa penghargaan lainnya, yang diraih desa Penglipuran ini,’’ ungkap I Nengah Muneng, Kepala Desa Penglipuran, Bangli, Denpasar.
Desa terbersih pertama di dunia adalah desa Mawlynnong di India. Sedang terbersih kedua adalah desa Giethoorn di Belanda. Desa ini dikelilingi desa adat yaitu Desa Kayang di Utara, Desa Kubu di Timur, Desa Gunaksa di Selatan dan Desa Cekeng.
Predikat kelas dunia itu memang layak diberikan. Sepanjang mata memandang, desa adat di ketinggian 700 meter di atas permukaan laut ini, amat sangat bersih. Di sisi kiri kanan, berbagai jenis pohon, tumbuh subur. Termasuk pohon khas Bali, Kamboja. Saking indahnya, semua pengunjung pasti akan berswafoto. Mulai pintu masuk sampai batas desa. Hampir semua sudut di desa ini sangat layak diabadikan. Sangat instragamable sekali. Di ujung desa terdapat pura yang juga jadi jujugan berswafoto.
Jalan utama desa Penglipuran, bukan diaspal. Tapi, dibentuk dari bebatuan kali. Ditata rapi memanjang, sepanjang jalan desa. Di kiri kanan, ditempatkan saluran got. Agar saat hujan air tidak menggenang atau banjir. Sepanjang tahun jalan ini tidak pernah rusak. Meski dikunjungi ribuan bahkan jutaan wisatawan, jalan desa Penglipuran tetap terjaga. Kenapa? Karena motor dan mobil tidak boleh melintas di atasnya. Sekalipun motor atau mobil, milik warga desa.

   Baca juga :

* Pantau Bawah Laut dengan Snorkeling, Pandang Lautan Pilih Parasailing

* Rafting Seru di Sungai Ayung, Ubud, Gianyar


Kunci lain keindahan desa Penglipuran, terletak pada tekad semua warganya. Dihuni 240 Kepala Keluarga (KK) atau 1.038 jiwa, bangunan rumah tidak boleh diubah. Tiap warga jika membenahi atau membangun rumah, harus seizin kepala desa. Seizin kepala adat.
Tidak boleh sembarangan. Tujuannya agar bentuk rumah tetap asli sepanjang masa. Ketentuannya, tiap rumah harus terdiri dari 4 pintu utama. Pintu utama, untuk akses jalan utama. Kemudian pintu kiri kanan serta pintu belakang. Bentuk kamar dan ruang tamu, semua juga seragam dan tertata rapi.
Desa ini terletak di jalur wisata Kintamani, sekitar 5 kilometer dari Kota Bangli. Atau 45 kilometer dari Kota Denpasar. Jarak tempuh perjalanan dari Denpasar sekitar 90 menit. Maklum, meski hanya 45 KM tetapi akses jalan ke arah desa Penglipuran terkenal cukup ramai dan padat.
Lalu bagaimana jika ingin menikmati jajanan atau kuliner di sini? Bagaimana jika ingin membeli oleh-oleh di desa ini?
Ternyata tidak sulit. Setiap kita melintas gapura, pasti penduduknya menyajikan aneka jajanan dan kuliner khas Bali. Utama sekali kopi produk desa Penglipuran. Duren dari desa Penglipuran juga dikenal sangat manis. Buahnya tidak terlalu besar. Tapi saat dibelah, aroma dan rasanya cukup menyengat. ‘’Murah sekali. Yang besar hanya Rp 70 ribu. Kalau di Surabaya bisa tiga kali lipat harganya. Legi pisan (manis lagi, red),’’ ujar Syaiful Anam, warga Surabaya.
Hal lain yang menarik di desa ini adalah lahan khusus bernama Karang Memadu. Lahan ini tidak luas. Di bagian depan dibatasi dengan tembok setinggi kurang lebih 180 cm. Lalu di depan diberi label dari besi bertulis Karang Memadu. Lebar tanah Karang Memadu kisaran 10 meter sampai 15 meter. Cukup panjang ke belakang. Kurang lebih bisa mencapai kira-kira 50 meter. Lahan ini sejak ada desa Penglipuran dibiarkan kosong. Tapi tetap dirawat dengan baik. Untuk apa?
Ternyata lahan ini sengaja disiapkan oleh adat setempat. Disiapkan untuk warganya yang melanggar aturan adat. Yaitu aturan bagi yang pria tidak boleh poligami. Atau memiliki dua istri. Sedang yang wanita tidak boleh poliandri. Atau memiliki dua suami. Kalau melanggar, bagaimana?
Pasangan bersangkutan tidak diusir dari desa Penglipuran. Tetapi, cukup dikucilkan di lahan Karang Memadu. Pasangan bersalah ini dibuatkan rumah di Karang Memadu. ‘’Mereka tidak bisa lagi komunikasi dengan warga desa lainnya. Bahkan, mereka tidak diperkenankan menjalankan ibadah di luar Karang Memadu,’’ papar Nengah.
Konsep desa wisata Penglipuran, harapannya bisa diboyong ke Jatim. Pemprov Jatim berharap bisa diterapkan di wilayah Kota Batu. Tapi, harapan ini rasanya cukup sulit bisa diwujudkan. Karena desa Penglipuran terjaga keasrian, kebersihan dan keindahannya dari hukum adat. (hary santoso)

Editor : Redaksi
Penulis : Hary Santoso