MALANG POST - Menilik Asal Kata *Marhaban*

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Menilik Asal Kata *Marhaban*

Kamis, 23 Apr 2020, Dibaca : 2322 Kali

Ramadhan kali ini lebih istimewa atau tidak, tergantung pandangan kita. Bersama dengan Covid-19. Mungkin ada yang menganggap kemeriahan yang hilang, tapi Ramadhan bukan untuk dimeriahkan, ia dilaksanakan dengan penuh kekhusyuan. Mensyiarkannya tetaplah sebuah anjuran.

Marhaban Ya Ramadhan.

Bila ditanya, bulan apa yang paling dirindu, pasti umat Islam menjawab, Bulan Ramadhan. Ia bulan penuh rahmat, ampunan dan keberkahan. Bulan yang tiada tandingnya dalam kucuran pahalanya. Bulan hadiah terbesar bagi umat Rasulullah.

Marhaban Ya Ramadhan.

Kata "Marhaban" sering kita dengar ketika Bulan Sya'ban mulai terbenam. Kata ini banyak dikaji dan dibahas dari asal sejarahnya dan bagaimana penggunakannya. Ada yang berpendapat, asalnya dari dua kata "Maar" dan "Hab", "Mar" bermakna: Tuan, Tuhan, Yang Suci. Sedangkan "Hab" para ulama berbeda pendapat, namun artinya lebih dekat pada: "Pemberiaan dan hadiah". Dan kalimat tersebut berasal dari bahasa Aramiyah, ada pula yang berpendapat "Hab" dari "Hababa" yang ba' pertama dimasukkan menjadi hab (Biji, Cinta) atau hubb (Cinta).

Kata ini sering digandengkan dengan kata  "Ilah" atau Tuhan. Seperti dalam kamus Lisan Arab, "Marhabakallah dan Marhaban bika Allah", dari asal "Mar" yang berarti "Sayyid, Ilah, Alqadis".  Namun, kita sering mendengarnya dengan ungkapan, "Marhaban bika, Ya Marhaban, Marhaban wa Ahlan" yang berarti, "Datanglah dengan penuh kelapangan hati, keluasan" Kata yang bermakna "Luas, lebar, lapang, leluasa," yang berakar "Rahb". "Urahibukan marhaban, Aku sambut dengan penuh kelapangan hati".

Siapakah yang mengucapkan kalimat "Marhaban wa sahlan". Ada yang berpendapat, yang mengucapkannya pertama kali adalah Saif bin Yazan, salah satu Raja Yaman.

Seperti Marhaban adalah kata "Ahlan". "Hello" bahasa Inggris, ada yang berpendapat, kata ini Hello berasal dari bahasa Arab "halla, ahlan" (akan saya kaji dikesempatan lain. He).

"Marhaban bika wa Ahlan bika Ya Ramadhan, Selamat datang untukmu Wahai Ramadhan". Ungkapan yang cukup indah dan menggetarkan, yang hadir bukanlah manusia, yang hadir juga bukanlah seorang raja, yang datang bukanlah sesuatu yang biasa. Ia bulan paling mulia, bulan yang dipenuhi keberkahan dan kebaikan, bulan kemanusiaan, bulan karunia, ampunan dan segala keindahan, bulan diampuninya dosa- dosa, bulan pembebasan, diangkatnya derajat, pintu pintu surga dibuka, neraka ditutup, bulan yang paling istemewa; Al Quran dan puasa di dalamnya. Sungguh, betapa rugi bagi yang tidak memeluknya, menyeduhnya dan mencium segala detik dan keberkahan di dalamnya.

Sungguh, bulan ini setiap detiknya dipenuhi dengan kebaikan, keberkahan dan ampunan. Di dalamnya terdapat malam seribu bulan, bagaimana kita bayangkan.

????? ?????????  ??? ?????? ??????????        ????????? ????  ??????? ???? ??????????
Ya Ramadhan, Bulan penuh anugerah dan sumber keberkahan
Betapa banyak dahaga yang terobati

Halimi Zuhdy
Pengasuh Pondok Pesantren Darun Nun dan Guru BSA di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini