MalangPost - Menjadi Kartini Tangguh Di Tengah Covid-19

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Menjadi Kartini Tangguh Di Tengah Covid-19

Senin, 20 Apr 2020, Dibaca : 3894 Kali

MALANG - Meski tengah dirundung wabah Covid-19, hingga membuat sejumlah aktivitas masyarakat harus dibatasi,  nyatanya tak membuat Rektor Universitas Gajayana (Uniga) Malang, Prof. Dr. Dyah Sawitri, SE.,MM berdiam diri. Perempuan kelahiran Trenggalek, 19 April 1967 ini justru bersemangat dan pantang menyerah mengajak seluruh sivitas untuk bergotong royong berbagi kepada sesama, terutama mereka yang terdampak virus Corona.


Bantuan yang diberikan, berupa sejumlah kebutuhan pokok seperti beras, gula, minyak goreng, mie instan dan hand sanitizer. Selain memberikan paket bingkisan kepada masyarakat Malang, Prof. Dyah juga mengajak para dosen dan karyawan Uniga, serta keluarga untuk selalu berpikiran positif dalam kondisi apapun.
“Agar bisa menjadi Kartini yang tangguh di tengah Covid-19, kita harus tetap berkarya sehingga mempunyai nilai tambah dan bernilai bagi orang lain. Selain itu juga mengajak keluarga tetap di rumah dengan karya, budaya hidup sehat, perhatikan imunitas, minum suplemen dan rajin mencuci tangan,” ujar Prof. Dyah kepada Malang Post.


Tak cukup sampai disitu, sebagai seorang perempuan harus bisa mengajak keluarganya untuk menghindari kerumunan agar penyebaran Covid-19 dapat ditekan, tidak mudik, membudayakan jaga jarak, memakai masker, membawa hand sanitizer, berbagi dan selalu berdoa.
Prof. Dyah memiliki cara unik saat mengajak sang anak berbagi, yakni dengan menggunakan sebuah kalimat bijak berbunyi cintailah sesama, maka Allah SWT akan mencintai kamu.


Menurutnya, sebagai seorang ibu patut mencontohkan kebaikan dengan nilai dan kasih sayang. Tak jarang ujaran berbagi kerap disuarakan melalui media sosial, tujuannya bukanlah riya’ melainkan untuk membangun jiwa positif agar dilihat dan dicontoh oleh sang anak.
Nilai-nilai kehidupan juga sering Prof. Dyah sampaikan kepada ketiga anaknya melalui sebuah tulisan menyentuh yang selalu tertera di handphone miliknya, sehingga sang anak bisa setiap saat membaca. Misalnya, anak-anakku jangan pernah mengecilkan siapapun itu karena sama dengan mengecilkan diri sendiri, dan lihatlah semua dengan hati.
“Contohnya seperti itu, tulisan itu akan selalu dilihat oleh anak-anak tanpa harus saya berkata, ada juga kalimat lisanmu bisa menghancurkan kebaikanmu, maka berhati-hatilah dengan lisan. Dengan tulisan ini, saya tidak ingin mereka melakukan hal-hal yang melanggar,” urainya.


Perempuan yang pernah menerima penghargaan Satyalancana Karya Satya ini tak hentinya mengajak dosen dan karyawan Uniga, serta keluarga tercinta untuk selalu berpikiran positif selama menghadapi Covid-19. Sebab selain menimbulkan dampak luar biasa, virus ini di satu sisi mendekatkan dengan keluarga, bahkan mendekatkan dengan pencipta.


Selain pikiran positif, Prof. Dyah juga mengajak perempuan untuk melakukan segala sesuatu dengan hati, penuh hati dan tidak sesuka hati. Wanita Indonesia juga harus memiliki kekuatan tersendiri, baik dalam rumah tangga maupun lembaga.
“Yang paling penting adalah wanita harus mendampingi putra-putrinya, baik ibu rumah tangga maupun wanita karir. Kita harus memastikan anak belajar apa, mengerjakan apa, harus ada sentuhan-sentuhan sebagai ibu apalagi di era teknologi saat ini,” tandas lulusan S3 Ilmu Ekonomi Universitas Airlangga ini.


Dalam memperingati hari Kartini ini, Prof. Dyah mengajak perempuan di Indonesia berperan aktif dalam mendampingi anak, keluarga, lingkungan dan masyarakat di sekitarnya. Tak lupa untuk selalu memiliki jiwa membantu dan saling melindungi satu sama lain. (lin/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Linda Epariyani