Menjaga Mutu Pembelajaran Distance-Learning dengan Skil Komunikasi Tiga Arah

Rabu, 03 Juni 2020

  Mengikuti :


Menjaga Mutu Pembelajaran Distance-Learning dengan Skil Komunikasi Tiga Arah

Sabtu, 28 Mar 2020, Dibaca : 2250 Kali

Maraknya kasus Cobid 19 membuat pemerintah mengeluarkan kebijakan untuk melakukan pembelajaran jarak jauh. Siswa yang biasanya datang ke sekolah, belajar secara langsung dengan guru mata pelajaran, kini siswa mulai membiasakan diri untuk belajar secara daring sebagai pencegahan penyebaran virus Corona atau dikenal dengan Covid 19 agar tidak semakin meluas. Sebagai konsekuensi logis, guru, siswa, dan orang tua dituntut agar mampu melaksanakan perannya dengan baik agar tujuan pembelajaran dapat diraih secara maksimal.

Dalam situasi seperti ini, kemampuan berkomunikasi, menyampaikan informasi atau instruksi pembelajaran yang dilakukan secara daring menjadi sangat penting. Apalagi kegiatan ini diprediksi akan berlangsung hingga akhir semester genap tahun ini. Menjaga mood dan motivasi belajar dari rumah bukan lah sebuah pekerjaan yang mudah. Orang tua mulai merasakan load psikologis untuk menjaga minat belajar anaknya, karena tidak sedikit yang menjadikan rumah sebagai tempat untuk beistirahat, bukan belajar. Sehingga, kadang-kadang suasana belajar kurang dapat dirasakan, tidak seperti di ruang kelas yang mendapati teman dan guru sebagai partner belajar.

Tentu, bukan saatnya kita saling menyalahkan. Seyogyanya keadaan ini dapat membuat kita mengambil hikmah dari apa yang telah terjadi. Orang tua tidak menyalahkan anak, guru tidak menyalahkan pemerintah, dan anak tidak menyalahkan sekolah. Banyak pendidik yang kemudian mengeksplorasi kemampuan menggunakan teknologi pembelajaran untuk menyukseskan program distance-learning yang digaungkan pemerintah di tengah wabah Corona yang makin masif. Namun yang jauh lebih penting dari itu adalah bagaimana kemudian kita sebagai guru, orang tua, dan serta pihak sekolah mampu menjalin komunikasi dan menjaga intensitas interaksi satu sama lain agar anak didik kita tidak merasa terasingkan.   

Guru sebagai pendidik dan pengajar tetap bertanggung jawab dalam memantau pembelajaran siswanya di rumah, sebagaimana ia bertanggung jawab mencerdaskan siswanya ketika berada di sekolah. Pembelajaran virtual dapat menjadi salah satu bentuk distance-learning. Kendati demikian, memang tidak sedikit siswa yang menemukan kesulitan dan merasakan ‘frustrasi’ karena load tugas yang banyak dan kurangnya ruang bermain dengan sesama teman sekolah. 

Sekali lagi, dalam satu aspek, guru dan sekolah memiliki tanggung jawab untuk memastikan kegiatan belajar-mengajar terlaksana dengan baik. Guru dan sekolah perlu memerhatikan kesiapan siswa dengan latar belakang yang sangat bervariatif. Ditambah lagi dengan kondisi yang juga beragam. Kemampuan menyelesaikan tugas, misalnya, yang dilakukan berdasarkan penggunaan teknologi juga bergantung pada ketersediaan akses terhadap teknologi tersebut. Di sinilah komunikasi tiga arah antara pihak sekolah, dalam hal ini guru, dan siswa, begitu pula dengan orang tuanya  menjadi sangat penting. 

Orang tua sebagai guru di rumah, bertanggung jawab untuk memantau kegiatan belajar siswa selama jam efektif belajar. Memberikan nasehat, motivasi dan selalu mengingatkan ketikan anaknya tidak mengerjakan tugas sekolah. Tentu hal ini menjadi tantangan baru bagi orang tua. Ada baiknya orang tua menyampaikan kondisi atau pun kendala yang ditemui agar dapat dicarikan solusi terbaik. Semua ini perlu dilakukan untuk menjaga mutu pendidikan dan kualitas pembelajaran yang kita laksanakan. 

Tak dapat dipungkiri memang bahwa siswa akan berada pada titik jenuh dan bosan, apalagi tidak bisa refreshing keluar rumah untuk mendapatkan ide-ide yang baru. Tidak pula punya waktu untuk bermain bersama teman-temannya. Masing-masing siswa mengisolasi diri di rumah masing-masing. Maka orang tua, dengan segenap kesabaran dan keikhlasan terus membimbing anaknya agar bisa lebih disiplin dalam melaksanakan tugas belajar.

Di sinilah pentingnya komunikasi antara guru, orang tua dan siswa selama pembelajaran jarak jauh. Guru (terutama yang berperan sebagai wali kelas) selalu melakukan komunikasi dengan orang tua saat jam efektif pembelajaran. Memberikan informasi pada orang tua terkait mata pelajaran yang akan dipelajari setiap harinya. Wali kelas bekerjasama dengan guru mata pelajaran untuk memantau mata pelajaran tertentu, sehingga tidak ada siswa yang melewatkan harinya tanpa belajar.

Pihak sekolah tidak bisa semerta-merta melemparkan tanggun jawab kegiatan pembelajaran ini kepada guru mata pelajaran. Begitu pula sebagai guru, tidak seharusnya memercayakan seratus persen kepada siswa dan menitipkan tanggung jawab ini kepada orang tua semata. Sebagai orang tua, kita pasti merasa kesal ketika melihat anak kita tidak bersemangat dalam melaksanakan kewajiban sekolah. Tentu, kita sebagai orang tua juga tidak sebaiknya menyalahkan sekolah atau guru yang tampak kurang pro-aktif mengontrol kegiatan ini.

Ketidakberhasilan siswa adalah kegagalan kita, guru, sekolah dan orang tua. Dengan demikian, komunikasi, saling terbuka, dan berusaha mencari solusi terbaik dalam kondusi sulit yang entah kapan berakhirnya ini menjadi sangat penting. Setiap tugas yang diberikan kepada siswa, perlu disampaikan juga kepada orang tua dan pihak sekolah, dalam hal ini dapat diwakili oleh wali kelas. Orang tua dapat melaporkan progress kegiatan yang dilakukan oleh anaknya dalam melaksanakan tugas tersebut.

Selain itu, sebaiknya jenis kegiatan yang diberikan tidak selalu berupa penugasan materi saja. Guru dapat memberikan kegiatan yang memaksa siswa untuk beraktifitas di dalam rumah atau sekitar rumah. Misalnya, meminta siswa untuk membantu orang tua membersihkan taman, atau halaman rumah sebagai wujud dari “saling membantu” dan cinta hidup bersih.  

Saling menjaga dengan tetap berada di rumah, belajar dari rumah adalah cara terbaik dalam menghadapi pandemik covid-19 ini. Keberadaan e-learning sangat membantu guru, orang tua, dan siswa untuk tetap belajar di tengah kondisi darurat seperti sekarang ini. Komunikasi secara transparan perlu selalu dilakukan oleh guru, orang tua, pihak sekolah, dan siswa agar kegiatan belajar jarak jauh dapat terlaksana dengan maksimal.

Jika masing-masing mampu saling bahu-membahu menyampaikan dan mengawasi kegiatan distance-learning ini, bukan tidak mungkin kita semua akan mendapatkan hasil yang memuaskan. Tidak kemudian terjebak pada keadaan untuk menyalahkan.(*)   

Fitria, S.PdI*

Guru SMP Islam Sabilillah Malang

*Penulis memiliki nama pena Fitria Sawardi dengan novel best sellernya “Finaly, the Netherlands”

Editor : Redaksi
Penulis : Opini