MalangPost - Merasakan Konflik Batin Ketika Menangani Pasien Covid-19

Rabu, 12 Agustus 2020

  Mengikuti :

Merasakan Konflik Batin Ketika Menangani Pasien Covid-19

Sabtu, 21 Mar 2020, Dibaca : 4179 Kali

MALANG – Pandemi Coronavirus atau Covid-19 mengancam siapa saja, tanpa pandang bulu. Tapi, para pejuang garis depan menjadi figur paling rentan terpapar, karena kontak harian dengan pasien positif coronavirus. Contohnya, dr Ungky Agus Setyawan, SpP, dokter spesialis paru RSSA Malang.


Bersama para tim medis lainnya, Ungky bergabung dalam tim khusus yang bertempur melawan coronavirus serta merawat dan menangani pasien. Potensi tertular adalah risiko pertarungannya dari hari ke hari. Sebagai manusia biasa yang memiliki keluarga, istri dan anak, Ungky merasakan konflik batin dan kekhawatiran.
Manusiawi. Namun, sumpah yang pernah diucapkan pria 40 tahun saat diangkat kali pertama untuk menjalani salah satu profesi termulia di dunia, mengiang di memorinya. Dengan penuh pengabdian, Ungky, dan mungkin pula para tenaga medis lainnya di seluruh Indonesia, memegang teguh sumpah itu. “Ketakutan itu ada. Tapi, kami sudah disumpah untuk berpegang pada profesi kami,” ujar Ungky.

   Baca juga : Saling Menguatkan, Yakini Ending Bahagia


Konflik batin, perjuangan setiap hari melawan coronavirus, tentu saja menguras mental para tenaga medis, tak terkecuali Ungky. Namun, Ungky mengingat bahwa perjuangan ini bukanlah perjuangan satu orang saja.
Dokter yang juga anggota Ikatan Dokter Indonesia Malang itu, memiliki rekan seprofesi, yang sama-sama berada di garis depan, tersebar di seluruh Indonesia. Pengalaman saat menangani SARS dan H1N1, adalah cetakan cara kerja dan standar operasional prosedur yang sangat berhaga bagi para tenaga medis.


Dengan semua pengalaman ini, dokter yang juga fellow di Asian Pasific Society of Respirology itu, disiplin menjalankan tugasnya. Belum lagi, catatan dari para tenaga medis di seluruh dunia tentang coronavirus, dan update terbaru dari penjuru bumi soal coronavirus, membantu semua tenaga medis di Indonesia, termasuk Ungky.
“Alat pelindung diri standar harus digunakan, jangan sampai salah prosedur. Mandi keramas juga wajib setelah keluar dari area karantina dan pasien. Lalu, suplemen adalah kewajiban demi menjaga imunitas tubuh,” ungkap dokter spesialis yang juga berpraktik di RS UMM, Tlogomas ini.


Setiap hari, dia harus menjalani semua prosedur itu, termasuk mengenakan alat pelindung diri yang pengap karena kedap udara. Kesehariannya menangani pasien sejak coronavirus ditetapkan sebagai pandemi, akan berulang hingga semua pasiennya sembuh. Serta, pandemi coronavirus dinyatakan steril dari Indonesia.
Dia memohon doa dari seluruh masyarakat Malang, agar semua tenaga medis tetap diberikan kekuatan, untuk berjuang menolong nyawa, dan sukses mengalahkan coronavirus. (fin/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Fino Yudistira