MalangPost - Minta Penempatan Gratis, Polling Pedagang Pilihannya Patal Lawang

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Minta Penempatan Gratis, Polling Pedagang Pilihannya Patal Lawang

Rabu, 19 Feb 2020, Dibaca : 8328 Kali

Seluruh pedagang Pasar Lawang setuju pembangunan Pasar Lawang. Mereka juga mendukung program pemerintah. Namun mereka mengajukan beberapa syarat. Mulai dari penempatan kembali secara gratis, juga tempat relokasi yang tidak terlalu jauh dari Pasar Lawang. Hal inilah yang disampaikan Ketua P3KM Pasar Lawang, H. Rusmanto, saat diskusi yang digelar Malang Post Forum di Graha Malang Post Jumat (14/2) lalu.
Syarat yang disampaikan itu bukan tanpa alasan. Tapi berkaca pada pengalaman. Pada Tahun 1992 Pasar Lawang pernah dibangun. Waktu itu pemerintah menjanjikan, pedagang tidak mengeluarkan duit untuk menempati kembali kios atau toko, setelah pasar selesai dibangun. Tapi faktanya, mereka yang memiliki duit yang dapat menempati di depan.
“Sedangkan kami yang tidak memiliki duit di belakang. Seperti ini jangan terulang kembali, dan harus jelas di depan,’’ katanya.  
Rusmanto sendiri mengaku sudah 50 tahun berdagang di Pasar Lawang. Dia mengetahui perkembangan Pasar Lawang. Termasuk pasang surutnya pembeli.  Seiring dengan itu, Rusmanto yang mewakili seluruh pedagang di Pasar Lawang. meminta agar untuk tempat relokasi, tidak jauh dari Pasar Lawang. Bahkan, Rusmanto memberikan satu pilihan, salah satu lajur jalan protokol untuk dijadikan tempat relokasi.
“Kalau tempatnya jauh jelas kami keberatan. Kami ini pedagang sudah susah karena kondisi pasar yang sepi pembeli saat ini. Jika tempat relokasinya jauh, maka semakin tidak banyak pembali datang. Kami pun meminta tempatnya tidak jauh. Kalau tempat relokasinya menggunakan salah satu lajur jalan protokol. Itu kalau bisa,’’ tambahnya.
Menurut dia, permintaan jalan protocol atau jalan nasional sebagai tempat relokasi agar Pasar Lawang tetap hidup.
“Tahun 1992 lalu pembangunan pasar Lawang membutuhkan waktu 9 bulan 10 hari. Sementara rencana tahun ini pembangunannya selama 24 bulan atau dua tahun. Ini yang membuat kami keberatan, jika tempat relokasinya jauh,’’ tambahnya.
Dia mengatakan, dengan relokasi, maka dibutuhkan sosialisasi. Dan jika tempatnya jauh, dia khawatir pedagang tidak datang dan Pasar Lawang semakin sepi.
“Kami tidak keberatan renovasi, kami tidak keberatan Pasar Lawang dibangun. Kami hanya meminta pemerintah melakukan kajian mendalam dulu, termasuk untuk tempat relokasi pedagang. Jangan sampai pembangunan ini jusrtru mempersulit pedagang untuk berjualan,’’ urainya.
Ungkapan senada diucapkan oleh Wakil Ketua P3KM Pasar Lawang, Hadi Wijaya. Pria yang hadir dalam diskusi tersebut, meminta pemerintah untuk memikirkan dampak ekonomi saat Pasar Lawang dibangun. Hadi menyebutkan, bahwa dari seluruh Pasar Lawang, bangunan yang terdampak kebakaran hanya 15 persen.
“Ini yang terdampak hanya 15 persen. Saat itu wacananya adanya direnovasi, atau dibangun total. Saya sendiri salah satu yang terdampak. Dan saya juga tidak mau egois. Artinya direnovasi saya kena, dibangun saya juga kena. Saya ingin pemerintah juga memperhatikan dampak ekonominya, dan tidak asal membangun,’’ paparnya.
Sementara itu, Sekretaris P3KM Pasar Lawang, Agus Triono, yang hadir dalam diskusi Malang Post juga angkat bicara, mewakili para pedagang. Dia menyebutkan, pasca pasar Lawang kebakaran 17  April 2019 lalu pihaknya langsung membuat polling. Ada dua opsi pilihan dalam polling itu, yaitu dibangun atau direnovasi. Dan saat itu, pedagang banyak memilih renovasi. Karena bangunan yang terdampak kebakaran hanya kecil.
Namun demikian, pemerintah jutru menginformasikan Pasar Lawang dibangun total berikut dengan rencana relokasi. Sehingga Agus kembali melakukan polling. Dengan pilihan setuju atau tidak relokasi di Patal (eks pabrik tekstil). Dan saat itu pedagang terima, dengan catatan seluruh biaya relokasi ditanggung pemerintah.
“Nah yang dibutuhkan pedagang saat ini adalah komitmen  dari pemerintah. Sehingga saat pindah nanti, pedagang pun merasa nyaman,’’ katanya.
Agus juga mengatakan, untuk pembangunan Pasar Lawang, pihaknya meminta pemerintah tetap memperhatikan Lokal Wisdom atau kearifan local. Tidak terkecuali bangunan heritage yang ada di Pasar Lawang diharapkan Agus untuk tidak dibongkar. Mengingat selain menjadi tempat jual beli, Pasar Lawang menurut dia juga menjadi jujugan wisatawan, untuk berwisata.
Hal ini juga yang disampaikan oleh Ketua Lawang Heritage Sugeng Irawan. Pria yang hadir di Diskusi Malang Post tersebut menyebutkan dia berasal dari Lawang dan sejak kecil mengenal Pasar Lawang. Sebagai putra daerah, Irawan pun memiliki keinginan untuk meningkatkan Lawang secara keseluruhan.
“Saya sedih melihat Pasar Lawang saat ini, karena sepi. Berbeda dengan beberapa tahun lalu, Pasar Lawang sangat ramai,’’ katanya. Dia pun mengatakan 20 tahun lalu sudah memiliki rencana. Dan rencana itu sempat disampaikan kepada Bupati Malang yang kala itu dijabat oleh H. Rendra Kresna. “Konsep kami adalah, Lawang sebagai kawasan wisata heritage. Di Pasar Lawang juga ada bangunan tua. Itu dapat menjadi ikon, tidak hanya untuk Kecamatan Lawang, tapi Kabupaten Malang secara keseluruhan,’’ jelasnya.
Memimpin komunitas Lawang Heritage, Irawan pun terus berupakan untuk mempertahankan dan melestarikan bangunan-bangunan tua. Termasuk agar Lawang banyak didatangi wisatawan. “Beberapa waktu lalu kami bersihkan Pujasera, kami juga undang Bupati Malang untuk hadir dalam senam bersama. Di mana saat itu Bupati Malang kemudian berjanji puncak HUT Kabupaten Malang akan digelar di Lawang. Dan ternyata tidak jadi,’’ ungkapnya.
Sementara terkait dengan pembangunan Pasar Lawang, Irawan mengatakan saat ini ada penurunan ekonomi di Pasar Lawang karena adanya tol Malang -Pandaan. Dan penurunan ini dikatakan Irawan harus bisa diatasi. Dia yakin pemerintah dapat mengeluarkan kebijakan-kebijakan, sehingga Pasar Lawang tetap hidup.
“Jangan sampai pembangunan ini jutru memperburuk aktivitas ekonomi. Percuma membangun bagus-bagus, tapi pembelinya sedikit,’’ katanya.
Dan yang terpenting, pembangunan pasar ini, juga diimbangi dengan mempertahankan bangunan tua yang ada di sekitar Pasar Lawang.(Ira Ravika/ary/bersambung)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Ira Ravika