MalangPost - Motivasi Ibadah, Rela Pulang Malam

Kamis, 06 Agustus 2020

  Mengikuti :

Motivasi Ibadah, Rela Pulang Malam

Sabtu, 04 Apr 2020, Dibaca : 3783 Kali

KEKHAWATIRAN melanda publik jadi tantangan Dr. Ena Marlina, ST, MT. Dosen
jurusan Teknik Mesin Unisma bersama timnya menciptakan alat canggih pembasmi virus. Namanya Bevico 193.
Siang malam tanpa kenal lelah, Ena memutar otak demi menciptakan alat tersebut. Meskipun selama hampir tiga pekan ini diberlakukan bekerja dari rumah (WFH), ia berusaha ke kampus. Tujuannya memantau dan mendampingi mahasiswa binaannya membuat bevico 193.  Tentu pemantauan dan pembuatan alat itu di kampus dengan tetap mengutamakan protokol kesehatan.  


Bahkan di awal-awal pembuatannya ia harus pulang malam dari kampus. Semua itu dilakukan demi masyarakat agar segera terbebas dari paparan virus Corona. "Alhamdulillah kami berhasil membuat beberapa set alat, berkat kerjasama yang baik dalam tim ini. Juga berkat dukungan bapak rektor dan para wakilnya serta teman-teman dosen, kerja ini kami niatkan sebagai ibadah, " ucapnya.


Sejauh ini sudah berhasil diciptakan 30 unit Bevico 193. Selain digunakan di kampus sendiri untuk beberapa titik dan ruangan, juga disebarkan ke beberapa masjid, sekolah-sekolah dalam naungan LP Maarif dan beberapa pihak yang membutuhkan. "Kami mengutamakan kampus dan masjid. Agar mereka yang hendak beribadah menjadi tenang, tidak ada kekhawatiran bertemu satu sama lain. Pikiran yang tenang maka imunitas tubuh makin meningkat, semakin kebal terhadap virus," terang Ena.


Ena tidak sendiri. Ia bersama partnernya, Ismi Choirotin, ST, MT  yang juga dosen dari jurusan Teknik Mesin. Dua Srikandi Unisma ini berkolaborasi menciptakan alat canggih yang bermanfaat untuk masyarakat. Dibantu juga oleh tim mahasiswa untuk lebih efektif dalam memproduksi dalam jumlah banyak.
Timnya ini mulai membuat Bevico 193 pada 23 Maret 2020 lalu. Bevico sendiri merupakan singkatan dari Berantas Virus Corona. Sedangkan 193 merupakan alamat kampus Unisma. Nama tersebut diberikan langsung Rektor Unisma, Prof. Dr. Maskuri, M.Si.


Ena mengungkapkan, satu set Bevico 193 menghabiskan biaya sebesar Rp 2,5 juta. Dengan rangkaian alat yang cukup sederhana. Chamber tersebut terbuat dari besi hallow, dengan jenis sambungan menggunakan las. Kerangka alat ini juga bisa menggunakan besi siku, besi siku lubang atau memakai pipa PVC. Dengan instalasi yang sederhana ditambah dengan sensor jarak.
Proses screening dimulai saat seseorang memasuki chamber atau bilik tersebut, maka secara otomatis sensor bekerja dengan menyemprotkan antiseptik. Penyemprotan berlangsung sekitar lima detik. "Alat kami sederhana, tapi lebih otomatis dari yang lain karena menggunakan sistem sensor, sehingga bekerja sendiri," jelasnya.


Pengerjaan alat secara keseluruhan dilakukan di Lab Teknik Mesin Unisma, dengan pendampingan Teknik Johansah Ravico, ST sebagai koordinator lab. Untuk bahan antiseptik yang digunakan, tim ini bekerjasama dengan farmasi, Fakultas Kedokteran Unisma.
Chamber antiseptic ini sebenarnya untuk mengurangi atau meminimalisir bahkan membunuh virus dalam outer layer tubuh manusia. Misalnya permukaan baju yang terpapar dari kontak di lapangan. "Jadi bukan untuk membunuh virus yang sudah masuk dalam tubuh," imbuhnya.


Terciptanya Bevico 193 tak lepas dari semangat Ena dan tim melaksanakan tugas Tri Dharma Perguruan Tinggi. Menurutnya, upaya penciptaan alat tersebut mengandung seluruh unsur Tri Dharma Perguruan Tinggi, mulai pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian pada masyarakat. "Kami melibatkan mahasiswa itu artinya pengajaran, sebelumnya tentu ada tahapan penelitian dan hasilnya bisa bermanfaat bagi masyarakat," pungkasnya. (imm/van)

Editor : Vandri Battu
Penulis : Imam Wahyudi