MALANG POST - Musik Sebagai Aksi Sosial COVID 19

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Musik Sebagai Aksi Sosial COVID 19

Selasa, 21 Apr 2020, Dibaca : 2418 Kali

Kegupuhan masyarakat sebagai akibat penyebaran Covid-19 menjadi fase awal yang kemudian  beralih menuju ketenangan. Sekalipun pendemi belum menunjukkan keadaan aman (seperti masih tingginya angka kematian penderita positif), tetapi masyarakat mulai adaptif. Mulai menyadari bahwa kondisi saat ini memang berbeda dengan keadaan normal. Dalam perspektif fungsionalisme, mereka mulai menuju tahap keseimbangan (equilibrium), sigap menjalani  kebijakan pemerintah.
Tidak terkecuali kiprah seniman musik sebagai kelompok penting di masyarakat. Covid-19 menjadi inspirasi bagi para musisi tanah air untuk melahirkan karya yang tertuang dalam judul-judul lagu. Seperti Virus Corona (Rhoma Irama), Tombo Teko, Loro Lungo (Didi Kempot), Mergo Pendemi Corona (Cak Sodiq),  Corona (Bimbo), Dino Liyane (Hendra Kumbara), Waba (Sabyan), Di Rumah Saja (Sandi Canester) dan Corona Jancox (Kill the DJ). Penulis yakin masih banyak lagu bertema Corona yang diciptakan oleh musisi yang lain.
Karya musik di tengah pendemi ini sesungguhnya memiliki dua arti. Pertama, social atau physical distancing semakin gencar disosialisasikan semua kelompok penentu (baca: influencer), termasuk seniman. Kedua,  sebagai produk budaya, variasi tema-tema musik menunjukkan keragaman pengetahuan. Corona ditafsir berdasar suasana fenomenologis atau pengalaman sosial musisi ketika menanggapi lingkungan dan perubahan-perubahan sosial jelas menentukan.  

Pengalaman Sosial dalam Lagu  Corona
Didi Kempot, Hendra Kumbara dan Cak Sodiq menjelaskan  Corona adalah  kegagalan rencana atau aktivitas tertentu. Penyebaran virus menyebabkan tertunda pertemuan di tengah  perasaan rindu (kangen) yang sudah sangat mengganggu. Sebuah penderitaan bagi kelompok yang selalu mengedepankan perasaan.  Ia berharap Tuhan menyingkirkan penyakit (dalam bahasa Didi yakni “pacoban”) dengan  datangnya obat penghilang penyakit.
Sementara, sesama genre “ambyar”,  Dino Liyane mengeskpresikan kekecewaan  pada Corona yang membatalkan pernikahan yang sudah dipersiapkan dengan matang. Dekor, catering sudah dibayar, tetapi menjadi sia-sia gara-gara Corona. Ia minta maaf kepada semua undangan dan akan  mengganti hari (dino liyane). Cak Sodiq mengungkapkan “korban-korban” Corona, seperti sepi order, pengangguran dan ekonomi macet. Baik Didi Kempot, Hendra dan Cak Sodiq mewakili kegundahan  “masyarakat kebanyakan” yang dikaitkan dengan gangguan rutinitas sehari-hari. Latar belakang Jawa yang kental  menjelaskan dunia “apa adanya”  ketika menghadapi musibah.
Lain keduanya, Rhoma Irama, Bimbo dan Sabyan Gambus. Ketiganya memandang Corona melalui pengalaman religius yang dikaitkan dengan pesan-pesan Tuhan. Meminjam istilah sosiolog, Durkheim, wabah Covid-19, merupakan peristiwa sakral yang terkait keinginan Tuhan atau cara Tuhan menunjukkan kuasa-Nya. Ketakutan  manusia pada wabah meninggalkan pelajaran begitu lemahnya  manusia. “Sekalipun digdaya tetapi rapuh adanya” demikian satu bait lagu Raja Dangdut ini.  Sama genre musik religius,   Bimbo mengaitkan Corona sebagai cara Tuhan mencuci dunia dan membungkam kesombongan manusia.
Sabyan memandang Corona sebagai kehilangan nyawa tanpa pandang bulu.  Menurutnya, lagu ini mengingatkan kita tentang sebab akibat dari wabah Covid19. Sebagai makhluk yang penuh keterbatasan, perlu memanjatkan doa agar kondisi pulih kembali (Jawa Pos, 14 April 2020). Tidak heran, lirik lagu Waba’ diakhiri dengan doa tolak bala’. Allahummad fa nal ghola’ wal bala’ wal waba’ fiddunya khossoh fii baladina Indonesia (Ya Allah hindarkanlah kami dari kekurangan pangan, cobaan hidup dan wabah penyakit di dunia khususnya di negara kami, Indonesia).  
Terkait dengan pesan-pesan dari musik, Indonesia adalah negara multikultural. Modernisasi telah membuka banyak informasi  juga membawa nasionalisme dan nilai-nilai plural di masyarakat yang tidak harus terikat dengan atribut sosial agama dan adat, maka realitas yang dihadapi sehari menjadi bahan konstruksi penafsiran dari pesan-pesan musik. Rasionalitas membimbing musisi bahwa pesan musik harus memiliki arah jelas,  to the point, pada inti yang ingin dikatakan. Ini artinya, kalau ingin mengungkapkan kekesalan atau menasehatkan perilaku tertentu, langsung saja muncul dari lirik.
Bagi Sandi dan Kill the DJ music menunjukkan fenomena itu. Sandi  Canester mengampanyekan “di rumah saja”. Ia mempersuasi belajar, beribadah dan bekerja di rumah. Selain ia aman juga hanya untuk sementara. Sedangkan, Kill the DJ mengungkapkan kekesalannya dengan Corona dengan menyebutnya jancuk. Kata jancuk digunakan untuk variasi konteks, salah satunya mengekspresikan kekesalan atas peristiwa tertentu. Baik Sandi maupun Kill the DJ mewakili genre  anak muda milenial. Pesan dari Kill the DJ sama dengan ungkapan yang sering kita dengar sebagai perang kepada Covid-19.
Mengamati tema-tema lagu Corona ini sesungguhnya menunjukkan perbedaan  konstruksi penafsiran musisi. Becker menyatakan bahwa  dunia seni yang disusun oleh interaksi sosial dari beragam aktor, bekerja berdasar kesempatan, norma-norma dan batasan-batasan seni. Produk seni ini kemudian dibentuk melalui karakter tindakan yang terkait prinsip-prinsip interaksionisme simbolik dengan melibatkan inovasi dan kerja sama (Shepherd dan Devine, 2015).

Musik dan Cegah Pendemi
Tidak benar jika musik dilihat sebagai kehilangan sensitivitas atas persoalan yang sedang melanda, toh tidak semua musik mengungkapkan kegembiraan. Pesan musik bervariasi di antara harapan, ketakutan, kecemasan, semangat berjuang dan ketegaran. Dalam Understanding Society through Popular Music (2009), Joseph Katarba menyatakan bahwa musik adalah kultur yang dilihat oleh musisi dengan berbagai makna simbolik bervariasi dalam proses pembentukan, pertukaran dan penggunaan makna sosial itu.
Kehadiran musik di tengah pendemi Covid-19 dan proses penyadaran bahaya virus, ia sesungguhnya positif karena masyarakat jauh lebih rileks. Bekerja optimal dalam penyembuhan dan perawatan pasien terpapar Covid-19 itu wajib dan itu sudah berjalan, tetapi relaksasi dengan  musik itu penting sebagai “penguat” dari upaya pencegahan penyebaran virus. Musik merupakan sarana aksi sosial (social action) agar  saling menguatkan di tengah kerja keras menghalau Covid-19.(*)

Oleh: Rachmad K.Dwi Susilo

Ketua Program Studi Sosiologi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang,
Alumni Hosei University, Tokyo   

Editor : Redaksi
Penulis : Opini