MalangPost - Musim Depan Tanpa DP

Minggu, 09 Agustus 2020

  Mengikuti :

Musim Depan Tanpa DP

Jumat, 10 Jul 2020, Dibaca : 4428 Kali

MALANG – Hanya di Indonesia, kontrak pemain didahului dengan down payment (DP). Besarnya 25 persen. Ketika teken, langsung terima uang. Tidak jarang, tanpa bayar DP dulu, pemain tidak mau bergabung.

Termasuk untuk urusan bajak membajak pemain, ada klub yang memberikan uang pra kontrak. Harapannya ada ikatan dengan klub baru, meski masih terikat dengan klub lama.

Aturan itu dianggap merugikan klub. Apalagi jika ada masalah dengan pemain di awal-awal kompetisi. Jika sampai putus kontrak, pemain itu sudah menerima minimal 25 persen dari kontrak. Masih ditambah uang kompensasi, atas pemutusan kontrak tersebut.

Apakah pemberian DP itu tetap diberlakukan? Arema FC tampaknya bakal memulai membuat ‘aturan’ baru. Pada kompetisi mendatang. Meski baru sebatas wacana dan sedang didiskusikan dengan manajemen klub peserta Liga 1 lainnya.

‘’Sedang kami bahas. Hanya di Indonesia ada aturan DP itu. Kompetisi di negara lain, tidak pernah ada. Kalau pun ada, bentuknya bukan DP. Tapi send fee. Nilainya (biasanya) satu kali gaji,’’ beber Ruddy Widodo, General Manager Arema FC, kepada Malang Post.

Tanpa adanya DP, tambahnya, diharapkan tidak memberatkan klub di awal kompetisi. Sementara bagi pemain, juga bisa membuktikan profesionalitas mereka, untuk memberikan yang terbaik bagi klub.

‘’Bukannya tidak percaya sama pemain. Tapi kalau seluruh nilai kontrak itu diberikan sepanjang masa kontrak mereka, pasti pemain akan memberikan yang terbaik bagi klub. Tidak mencari untung di awal-awal kompetisi,’’ ujarnya.

Sementara ini, aturan yang berlaku di banyak klub peserta Liga 1 2020, nilai kontrak dibayarkan 25 persen saat teken. Sisanya, dibayarkan sepanjang masa kontrak. Misalkan nilai kontrak pemain Rp 100 juta. Saat teken langsung dapat Rp 25 juta. Sisa Rp 75 juta, dibagi waktu kompetisi. Jika berlangsung 10 bulan, setiap bulan pemain mendapatkan Rp 7,5 juta. Itulah yang biasa disebut sebagai gaji pemain.

Dengan keputusan PSSI yang memberikan persetujuan klub hanya membayar 25 persen dari gaji, di masa pandemi ini, nominal itu dihitung dari gaji pemain setiap bulan.

‘’Kondisi saat ini memang harus benar-benar berhitung. Karena kami ingin semuanya selamat. Klub terus bisa berkiprah. Pemain juga tidak kehilangan pemasukan. Jika kompetisi terhenti, banyak yang terkena dampak,’’ kata Ruddy lagi. (avi)

Editor : Redaksi
Penulis : sunaviv