MalangPost - PANCASILA DAN CORONA

Rabu, 12 Agustus 2020

  Mengikuti :

PANCASILA DAN CORONA

Minggu, 22 Mar 2020, Dibaca : 10680 Kali

”Perlu 20 tahun untuk membangun reputasi

dan cukup 5 menit untuk menghancurkannya.

Jika Anda berpikir tentang hal ini,

Anda akan melakukan sesuatu dengan cara berbeda”

(Warren Buffett)e

 

Kalau berpijak pada pemikiran Warren Buffett itu, seseorang atau sekelompok orang yang hidup dalam suatu negara, mestilah tidak akan tergesa-gesa menjatuhkan opsi atau keputusan terhadap sesuatu yang belum jelas kemanfaatannya, pasalnya bisa mendatangkan (berdampak) kerugian bagi orang lain atau banyak pihak.

 Bukan tidak mungkin ketergesa-gesaan yang ditunjukkan dalam pengambilan sikap  atau keputusan, banyak eksplosi (ledakan) problem keprihatinan yang terjadi. Mestinya yang prihatin terfokus hanya di satu  aspek, namun karena ada sejumlah orang yang berupaya tetap mengedepankan kepentingan pribadi dan kelompok, akhirnya yang keprihatinanya menjalar ke banyak aspek.

 Dalam kasus virus Corona misalnya, jika belum mendapatkan kabar yang jelas mengenai “hal-hal” di seputar obyektifitasnya, sebaiknya tidak disebar informasi atau “isu-isu”, karena ditakutkan itu hoaks, yang tentu saja bisa merugikan banyak pihak, atau dalam kondisi rakyat secara umum mengalami kepanikan, janganlah mengambil keuntungan bisnis berlebihan. Bahkan seharusnya, yang dikedepankan adalah penyebarakan dan penegakan prinsip pemanusiaan manusia sebagaimana yang digariskan oleh Pancasila.

Belakangan ini, banyak dan beragam sekali pertanyaan publik, di antaranya masih pantaskah Indonesia ini menganut Pancasila, jika warganya banyak yang tidak menjadi pengamalnya? atau secara spesifik, di tengah serangan virus Corona ini, sangat seriuskah kita menjadi “pengamal-pengamal” Pancasila, khususnya di ranah prinsip pemanusiaan manusia Indonesia?

Pertanyaan itu direlasikan dengan kondisi fenomena yang   terjadi dan berkembang di masyarakat, yang bercorak memprihatinkan sehubungan dengan “serangan” Corona.  Sering berulangnya berbagai bentuk kondisi yang berkategori ”memprihatinkan” akibat sepak terjang sejumlah warga ynag “menari” di atas penderitaan masyarakat. Mereka ini layak digolongkan sebagai manusia-manusia yang kehilangan ruh ideologisnya (Pancasila), pasalnya apa yang diperbuatnya sudah benar-benar tidak menunjukkan simpati dan empati kemanusiaan pada sesamanya.

Dampak Corona yang demikian “mengerikan” semestinya tidak digunakan sebagai “momentum” emas demi mendulang kepentingan-kepentingan eksklusif dan kapitalistiknya. Praktik demikian yang membuat gugatan terhadap kesetiaannya pada Pancasila sangat logis untuk diragukan.

Ironis, saat Corona merebak di masyarakat, ada sejumlah “oknum” individu atau kelompok yang mengajukan gugatan yang seolah telunjuk itu pantasnya hanya untuk orang lain sebagai pelanggar ideologis. Mereka ini lupa bahwa ada jari-jari tangan lain yang lebih banyak mengarah pada diri sendiri, bahwa dirinya juga tidak sungguh-sungguh serius menjaga dan mengimplementasikan doktrin Pancasila.

Di balik itu faktanya, mereka ini sebagai kelompok serakah atau “ambisius kapitalistik” yang terjerumus dalam praktik-praktik liberalitas (kebebasan) individualistik dan kelompok yang mendestruksi doktrin Pancasila seperti mengabaikan Tuhan, membenarkan ketidakadaban dan ketidakmanusiawian, yang di antaranya ditunjukkan dengan mendestruksi dan mendehumanisasi kemaslahatan masyarakat, yang mengakibatkan konsumen (rakyat) “tercekik” dengan harga-harga “kebutuhan pokok” yang semestinya sangat berharga karena dipersiapkan untuk  memprevensi serangan Corona.

Bung  Hatta pernah menyatakan bahwa kebebasan individu seperti itu nantinya bisa mengakibatkan ketidakadilan dalam masyarakat, karena kedaulatan hanya berpusat pada para pemilik modal, demokrasi Barat yang dilahirkan oleh Revolusi Prancis tidak membawa kemerdekaan rakyat yang sebenarnya,  melainkan menimbulkan kekuasaan kapitalisme, sebab itu demokrasi politik saja tidaklah cukup untuk mencapai demokrasi yang sebenarnya yaitu kedaulatan rakyat. Haruslah ada pula kedaulatan ekonomi dan hukum, yang memakai dasar, bahwa segala penghasilan yang mengenal penghidupan orang banyak harus berlaku di bawah tanggungan orang banyak, yang juga didasarkan aturan yang mengikatnya.

Pernyataan Bung Hatta itu di antaranya menitikberatkan pada larangan kebebasan individu. Artinya seseorang yang jadi pengamal Pancasila, haruslah selalu menunjukkan, bahwa dirinya bukanlah pemburu atau pengumpul kepentingan pribadi dan kelompok, melainkan sebagai pengabdi kemanusiaan dan keadilan.

Di tengah serangan Corona ini, “serangan” lain dari sejumlah orang yang menganut individualis (seperti dikritik Hatta)  masih tampak gampang ditemukan. Ada kecenderungan kuat, bahwa sebagian oknum masyarakat atau minimal sebagian elemen bangsa ini terjerumus dan bangga bisa memproduksi pola hidup berelasi sosial dan ekonomi yang anti agama (Tuhan) dan meminggirkan keadilan sosial.

Apa yang diperbuatnya dalam desain gaya berbisnisnya (membangun sector ekonomi) misalnya lebih menikmati dan mengarogansikannya kalau bisa lepas dari basis kebertuhanan dan keadilan sosial. Baginya yang terpenting bisa mendapatkan keuntungan sebanyak-banyaknya. Kepentingan kemanusiaan atau keadilan sosial dianggapnya sebagai kepentingan sumier  atau bukan menjadi urusannya.

Kondisi tersebut sangat mudah terbaca  dalam sejumlah kasus saat konsumen atau warga masyarakat kelimpungan mencari instrumen-instrumen kesehatan yang mengalami kelangkaan dan dihadapkan pada harga yang “melangit”.

Dalam ranah itu, mereka bukannya berupaya memprogresifitaskan nilai-nilai kebertuhanan (keberagamaan) dan keadilan sosial, melainkan memilih membanggakan bisa memproduksi ketamakan individual atau kapitalisme eksklusifnya.

Sila Kesatu yang semestinya diberi tempat utama mengawal gaya berbisnis atau berkorporasinya justru tidak diberikannya tempat sama sekali. Tuhan tidak ditakutinya, dan sebaliknya hajat kapitalistik dengan cara-cara permisif dijadikanya sebagai obyek penahbisan  utamanya. Mereka betul-betul mengeliminasi kepentingan sesama manusia demi hajat memperluas keuntungannya.

Manusia jenis itulah yang justru sangat layak ditempatkan sebagai sosok penoda serius terhadap ideologi Pancasila. Mereka ini terperosok menikmati Corona sebagai bagian dari “durian” dalam berbisnis. Dalam ranah ini, ketegasan aparat secara egaliter, berkeadilan, dan berkejujuran dalam menindak para pembangkang Pancasila ini sangat ditunggu pembuktiannya oleh rakyat yang sedang menghadapi masa sulit ini. (*)

Oleh: Bambang Satriya

Guru Besar Universitas Merdeka Malang dan Penulis Buku Filsafat Pancasila

Editor : Redaksi
Penulis : Opini