MALANG POST - PARANOIA CORONA

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


PARANOIA CORONA

Kamis, 02 Apr 2020, Dibaca : 1560 Kali

Wabah virus Corona telah menimbulkan rasa curiga dan ketakutan masyarakat yang berlebihan. Masyarakat diminta menjaga jarak fisik (physical distancing) agar persebaran virus bisa dihadang. Namun, tak sedikit orang justru saling curiga dan khawatir seakan semua orang di sekitarnya bisa membahayakan dirinya. Situasinya jadi tak menentu hingga menimbulkan rasa ketakutan yang berlebihan. Tak sedikit orang jadi paranoia, jadi berfikir yang aneh-aneh dan menghayal.

            Menurut sejumlah sumber, paranoia tergolong penyakit jiwa yang membuat orang berhayal dan berfikir aneh-aneh. Paranoia merupakan gangguan mental (mental illness) dimana seolah-olah orang lain membahayakan dirinya. Orang jadi saling curiga pada orang lain jangan-jangan mereka itu pembawa virus Corona yang bisa menular kepada siapa saja. Tak sedikit orang jadi berfikir irasional dan tak masuk akal.

            Kondisi ini diperburuk oleh korban Coronavirus Diseases 2019 (Covid-19) yang terus berjatuhan. Penutupan wilayah yang dilakukan di sejumlah tempat guna memutus persebaran virus juga ciptakan paranoia. Pelarangan orang mudik ke kampung halaman juga dapat membuat paranoia. Kepulangan ribuan TKI juga timbulkan ketakutan masyarakat. Orang menjadi tak aman dan nyaman ketika berada dalam lingkungan sosialnya. Rasa ketakutan masyarakat ini harus dikurangi karena bisa berdampak pada menurunnya imunitas tubuh.

 

Riuhnya Narasi Media

            Informasi terkait Corona membanjiri masyarakat. Informasi terkait virus yang telah jadi pandemi ini sangat riuh. Banyak orang, walaupun tak punya pengetahuan terkait virus Corona membuat narasi dan diviralkan lewat beragam laman media sosial (medsos) dan WhatsApp Group (WAG). Kalau sejumlah narasi itu benar dan bisa menurunkan kepanikan tentu akan berdampak baik. Namun, tak jarang narasi di medsos justru memicu ketakutan bahkan bisa memancing paranoia masyarakat.

             Riuhnya narasi virus Corona terutama di medsos. Lewat beragam platform medsos, bermunculan informasi yang tak terkonfirmasi kebenarannya. Informasi seperti ini yang berpeluang ciptakan ketakutan. Tak semua masyarakat berdaya ketika dibombardir medsos dengan informasi yang tak terhitung banyaknya. Keriuhan Corona di medsos justru tak banyak membantu menyelesaikan masalah, namun malah ciptakan persoalan baru.

            Sifat keterbukaan dan anonimitas yang ada di medsos menjadikan beragam narasi Corona di media pertemanan ini punya pengaruh yang besar. Apalagi para produsen berita bohong (hoaks) juga terus menyajikan berbagai informasi palsu yang terus disuntikkan kepada masyarakat. Ada sejumlah orang yang dengan sengaja mencari keuntungan di tengah wabah pandemi yang sangat meresahkan di hampir seluruh penjuru dunia ini.

            Update beragam informasi yang tersaji di media massa maupun di medsos di satu sisi memang dapat menjadi informasi berharga. Dari beragam informasi tersebut diharapkan mampu menjadi sarana pendidikan bagi masyarakat terkait wabah virus Corona ini. Namun tak semua masyarakat punya pemahaman yang sama. Informasi jumlah korban meninggal yang setiap hari terus meningkat dari sejumlah negara ternyata justru dapat memicu paranoia.

            Paranoia yang muncul cukup beralasan karena orang bisa berhayal jangan-jangan dirinya dan keluarganya yang menjadi korban. Informasi yang pada awalnya untuk membangun rasa kehati-hatian (awareness) masyarakat, namun bisa menjadi semacam teror bagi kelompok masyarakat tertentu. Tingkat pengetahuan dan penerimaan masyarakat yang beragam berpeluang menjadikan informasi yang sedang beredar di masyarakat bisa bernilai negatif.

            Lahirnya beragam analisis dari sejumlah kemungkinan juga dapat ciptakan paranoia. Beredar analisis yang menyebar lewat medsos bahwa munculnya virus ini merupakan konspirasi jahat oleh sejumlah pihak. Analisa yang tak seratus persen benar ini tak ayal hanya menjadikan masyarakat semakin panik dan ketakutan. Karena beragam narasi tersebut muncul dan beredar lewat medsos maka situasinya menjadi semakin sulit tertangani.

            Beberapa narasi Corona yang tak benar dan terus viral dapat menjadikan masyarakat alami paranoia. Untuk itu semua pihak harus berhati-hati dan bijak ketika mau mengunggah informasi apapun terkait virus Corona ini. Semua harus berfikir dampak buruk yang mungkin muncul ketika sebuah informasi dibagikan kepada masyarakat. Harus dipilih dengan seksama informasi yang steril dari kemungkinan yang dapat memicu paranoia masyarakat.            

 

Stop Paranoia

            Dalam situasi seperti sekarang ini, semua orang memang punya alasan untuk panik atau paranoia. Kepanikan bisa muncul sebagai insting alami bawaan manusia ketika sedang dalam keadaan yang mengancam. Namun paranoia yang muncul di masyarakat justru tak menyelesaikan persoalan. Paranoia yang dialami seseorang justru akan menular kepada lingkungannya. Akhirnya kepanikan menjadi semakin meluas.

            Situasi yang tak bisa diprediksi menjadikan kepanikan masyarakat semakin menggejala. Munculnya pembelian dalam jumlah besar (panic buying) terhadap sejumlah kebutuhan pokok, obat-obatan, masker, hand sanitizer, makanan dan minuman instan merupakan salah satu tanda masyarakat sedang mengalami kepanikan. Saat situasi panik, sekelompok orang justru memanfaatkan untuk menimbun dan menaikkan harga barang.

            Efek paranoia membuat seseorang merasa tak aman dan percaya bahwa lingkungan sekitar terlalu berbahaya. Gejala efek paranoia banyak ditemukan di tengah maraknya pemberitaan seputar penyebaran virus Corona. Maraknya berita tentang kemungkinan kuncian (lockdown), pembatasan wilayah tertentu dengan penutupan akses jalan bisa menciptakan paranoia. Sejumlah pemerintah daerah dan masyarakat menutup kampung, gang, kawasan RT, RW, Desa, hingga kabupaten atau kota. Sikap paranoia juga menjadikan munculnya stikma buruk pada orang yang terinveksi.

            Orang menjadi paranoia jikalau lingkungannya kemasukan orang yang membawa virus. Situasi ini mengindikasikan paranoia itu telah menyebar di masyarakat. Perasaan saling curiga menjadi kurang kondusif untuk keutuhan kehidupan sosial yang damai. Tapi memang tak banyak pilihan lain. Protokol kesehatan lewat pembatasan jarak fisik atau sosial (physical/social distancing) telah diterapkan walau masih juga terganjal oleh kurangnya disiplin sejumlah masyarakat untuk menegakkannya.

            Paranoia Corona masyarakat bisa dikurangi dengan menciptakan ketenangan. Ini tentu bukan hanya tugas pemerintah. Semua pihak berkewajiban menciptakan suasana aman, damai, dan stop kepanikan. Tak mudah memang, tapi upaya mengatasi persoalan ini harus terus dicoba sampai membuahkan hasil. Semoga wadah pandemik Corona ini segera berlalu. Semua masyarakat bisa kembali bekerja, belajar, dan beribadah lagi di luar rumah. (*)

Oleh: Sugeng Winarno

Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi FISIP Universitas Muhammadiyah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Sugeng Winarno