MalangPost - Pariwisata dan Wabah

Selasa, 04 Agustus 2020

  Mengikuti :

Pariwisata dan Wabah

Minggu, 05 Apr 2020, Dibaca : 2028 Kali

Pariwisata jelas merupakan salah satu kontributor primer kesejahteraan rakyat hingga pengentasan kemiskinan. Kesejahteraan yang dimaksud tentu saja berkaitan dengan perekonomian masyarakat di suatu destinasi wisata, bahkan di suatu negara. Kunjungan wisatawan, jumlah okupansi kamar hotel, jumlah restoran, pedagang cenderamata di destinasi wisata, bank bahkan jasa penukaran uang, mereka semua merupakan satu gugusan yang tidak bisa lepas dari tata kelola sektor pariwisata.

          Pariwisata di Indonesia sedang menuju ke arah positif meskipun belum dapat dikatakan stabil. Hal tersebut ditunjukkan dengan munculnya banyak destinasi wisata baru di berbagai daerah dengan kekhasannya masing-masing. Bukan tidak mungkin Indonesia dapat meraup profit optimal dengan banyaknya destinasi wisata tersebut. Asalkan munculnya destinasi wisata baru harus pula sejalan dengan manajemen dan fasilitas yang memadai.

          Pariwisata yang memberi impact adalah pariwisata yang dapat menyejahterakan masyarakat, tidak merusak alam serta menjaga kelangsungan budaya yang ada di sebuah kawasan destinasi. Paradigma tersebut biasa kita kenal dengan istilah pariwisata berkelanjutan. Oleh karena itu, banyak pariwisata yang muncul dengan konsep dari desa, oleh desa dan untuk masyarakat desa.

          Tidak semua daerah memiliki jumlah desa wisata yang banyak. Hal tersebut tidak dipungkiri dipengaruhi oleh lanskap, keterbukaan warga dan kemampuan mengolah, serta penetrasi dari pemerintah dan akademisi (dalam hal ini kampus). Beberapa desa wisata di Indonesia bahkan mendapat penghargaan dari dunia Internasional pada tahun 2019 lalu. Antara lain, Desa Panglipuran, Desa Pamuteran, Desa Nglanggeran dan Desa Pentingsari. Keempat desa wisata tersebut terdapat di Bali dan di Jogjakarta.

          Akan tetapi hal ini tidak berbanding lurus saat pandemi Covid-19 menyerang sejumlah negara. Pariwisata yang sejatinya adalah sebuah migrasi sirkuler menjadi terkendala untuk sementara. Sebab pariwisata membutuhkan pergerakan manusia yang mencari kesenangan di suatu tempat di waktu luangnya.

          Saat awal wabah Corona mulai muncul di negara-negara Asia Tenggara, Presiden Jokowi meminta industri pariwisata nasional memberikan potongan harga bagi wisman yang berkunjung ke Indonesia. Usulan itu tentu saja diharapkan menjadi salah satu cara menarik wisman untuk berkunjung ke Indonesia. Akan tetapi skenario ini ternyata harus berubah.

Alih-alih mendapatkan kunjungan, Indonesia saat ini harus membatasi wisatawan yang berkunjung, terutama dari China, Italia, Korea Selatan dan Iran. Pandemi Covid-19 yang menjadi bayang-bayang menyebabkan pariwisata menjadi kegiatan yang mati suri.

          Banyak negara-negara yang melakukan lockdown akibat pandemi tersebut. Australia yang sudah menerapkan lockdown bahkan meminta warganya yang berada di Indonesia (Bali) untuk segara pulang. Lockdown dan imbauan yang dilakukan sejumlah negara sangat wajar demi melindungi warganya.

          Lockdown tidak hanya membatasi adanya migrasi dari negara lain, akan tetapi juga membatasi migrasi antar daerah di suatu negara. Akibat dari hal tersebut tidak hanya arus wisatawan manca negara yang terhambat, akan tetapi menyebabkan berkurang pula perputaran wisatawan di dalam negeri. Dampak yang paling besar ditemukan dan paling mudah dilihat ada pada aspek transportasi dan penginapan di daerah-daerah tujuan wisata.

Banyak calon penumpang membatalkan perjalanan, baik itu menggunakan pesawat maupun dengan moda transportasi darat. Di samping itu hotel-hotel di destinasi wisata terancam rugi besar karena banyaknya pembatalan kunjungan dari daerah lain. Dari dua aspek pariwisata di atas, yakni aspek aksesibilitas dan amenitas, bisa dibayangkan seberapa besar kehilangan kemungkinan pendapatan daerah yang bisa didapatkan.

          Meskipun demikian, beberapa waktu yang lalu muncul wacana akan digunakannya hotel sebagai penginapan tenaga medis yang sedang bertugas mengatasi pandemi Covid-19 ini. Ide ini cukup menarik, melihat okupansi hotel yang kosong dan dapat dialihkan sebagai tempat istirahat bagi tenaga medis. Dampak panjang yang perlu dipikirkan adalah, saat pandemi ini mulai menunjukkan tanda-tanda akan berakhir, maka pihak hotel harus melakukan sterilisasi pada tiap-tiap unit kamar. Tentu saja tujuannya untuk mencegah terjadinya penularan virus yang mungkin masih tertinggal di kamar tersebut. Tidak dapat dipungkiri tenaga medis adalah salah satu garda depan yang dapat dengan mudah menjadi carrier dan terinfeksi.

          Meskipun banyak destinasi wisata yang sudah sepi karena mengikuti imbauan pemerintah, tidak sedikit pula destinasi wisata yang masih dapat dikunjungi dan masih ditemukan sejumlah wisatawan yang berkunjung. Keuntungan ekonomi dan kesenangan yang menjadi salah satu tujuan berwisata mungkin didapat, akan tetapi tindakan yang dilakukan oleh wisatawan dengan mengunjungi destinasi wisata, bahkan orang yang bepergian ke daerah lain dengan motivasi apa pun, akan sangat membahayakan diri sendiri dan warga di daerah tujuan.

Dari sini dapat dilihat nilai-nilai kemanusiaan yang dimiliki oleh segelintir orang yang tidak mengindahkan aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah pusat maupun daerah. Berwisata memang menyenangkan dan menguntungkan bagi pihak tertentu, akan tetapi perlu dilihat lagi seberapa besar dampak yang dapat ditimbulkan dari kegiatan tersebut.

          Ada keuntungan-keuntungan tertentu yang di dapat dari mengisolasi diri dan menutup objek wisata untuk sementara waktu. Seperti yang telah dipaparkan oleh Prof. Dr. Janianton Damanik, M.Si., sebagai Kepala Pusat Studi Pariwisata UGM, dalam wawancara pada kanal YouTube UGM bahwa objek wisata dapat beristirahat sementara waktu dan berbenah untuk menyambut kunjungan wisatawan dikemudian hari. Hal ini sejalan dengan konsep pariwisata berkelanjutan, di mana baik host community maupun traveler dapat menjaga destinasi wisata tersebut.

          Peremajaan, pemulihan, atau waktu istirahat dibutuhkan oleh objek wisata mengingat kunjungan wisatawan yang begitu tinggi akan berdampak pada kondisi sosial budaya dan kondisi alam di objek wisata. Pengelola objek wisata juga dapat melakukan evaluasi kepada proses bisnis dan pelayanan yang diberikan kepada wisatawan-wisatawan yang berkunjung. Di samping itu, pengelola dapat merumuskan inovasi-inovasi baru dalam pelayanan serta prosedur pengelolaan yang berkaitan dengan lingkungan dan sosial budaya. Sehingga dapat tercipta pelayanan dan pengalaman berwisata yang lebih baik.

          Covid-19 memang membawa keresahan bagi pemerintah dan masyarakat. Akan tetapi pemerintah sudah membatasi adanya aliran migrasi di dalam, dari dalam ke luar serta dari luar ke dalam daerah guna menjaga keselamatan masyarakat, sehingga hal ini seharusnya dapat diindahkan. Sedangkan bagi pengelola objek wisata, tidak ada salahnya sejenak meneguk air dan merumuskan perencanaan yang lebih baik bagi objek wisata. Semoga wabah segera berakhir, pariwisata kembali normal sehingga perekonomian tumbuh optimal.(*)

Oleh: Sukmawati Nur Salamah*

*Tenaga Pengajar Program Studi Pariwisata Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya

Editor : Redaksi
Penulis : Opini