MALANG POST - Pasar Lawang Itu Apa?

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Pasar Lawang Itu Apa?

Sabtu, 15 Feb 2020, Dibaca : 2613 Kali

APA yang ada di benak kita tentang Pasar? Lalu coba dirangkai dengan Lawang --lokasi keberadaannya, di kelurahan dan kecamatan paling utara Kabupaten Malang, bernama Lawang-- yang merupakan pintu gerbang dari sehamparan kesatuan wilayah besar;  Malang Raya (kabupaten dan kota Malang serta kota Batu) itu?
Banyak tafsir yang bisa mendeskripsi tentang itu. Secara akademik, berdasar realitas maupun stigma.
Jangan lupa --supaya penafsiran lebih presisi--  Malang Raya adalah destinasi wisata, kota pendidikan, agrobis, industri, perdagangan, juga ada kota peristirahatan; Kota Tua, Lawang itu sendiri, yang pernah masuk daftar Kemenpar sebagai Wonderful Indonesia pada 2018 karena heritage-nya.
Apapun tafsirnya, pasar pastilah tempat transaksional kebutuhan sehari-hari masyarakat, perdagangan, budaya, etalase dan cermin dari pengaturan pemerintah terhadap kebutuhan publik.
Hal terakhir ini yang kini perlu menjadi bahasan utama. Karena keputusannya akan menentukan tatanan, terutama ekonomi rakyat.
Pasar Lawang, kita ketahui bersama, telah menjadi pasar wisata. Bukan performance pasarnya. Tapi perilaku wisatawan --yang  menjadikan pasar itu sebagai ampiran belanja-- yang membuatnya populer dengan sebutan; pasar wisata.
Posisinya yang berada persis di poros jalan utama Malang - Surabaya, tidak saja menguatkan perdagangan di pasar, tapi juga menghidupkan bisnis di koridor sepanjang 20 km itu. Mulai dari Karanglo, Singosari, Lawang bahkan terus, tembus Purwodadi dan Purwosari. Hidup.
Lawang menjadi biangnya. Termasuk biang kemacetan! Radio City Guide 911 FM tak pernah berhenti menginfokan keadaan lalu lintas di sana. Tapi toh tidak mengubah perilaku. Pasar itu terus saja ramai. Jalanan terus saja merambat pelan, berekor-ekor, terutama week end. Mengeluh. Tapi juga senang. Ekonomi berputar.
Dagangan pasar selalu fresh. Yang berdagang maupun yang belanja berkembang, dari Batu, Pasuruan, Pandaan dan seantero radiusnya.
Delapan besar pasar di kabupaten --dari total 33 pasar-- Lawang membukukan sebagai salah satu transaksi tertinggi. Sekitar satu setengah triliun per tahun. Itu terjadi dalam lima tahun terakhir. Pendapatan seluruh pasar adalah dua kali lipat dari APBD kabupaten.
Tapi badai tiba-tiba datang. Mulai Februari 2019, ketika tol Pandaan - Malang mulai dibuka. Wisatawan sudah malas mampir. Dimanjakan tol. "Untuk apa harus keluar tol lagi, kalau hanya sekadar mampir belanja?!"
Malas. Baru saja naik kendaraan, harus turun lagi, hanya sekadar belanja. Belum lagi Kota Batu maupun Kota Malang sebagai destinasi terus berlomba memenuhi kebutuhan belanja wisatawan.
Kondisi psikologis seperti itu menimbulkan efek; hampir semua gerai usaha, di koridor Karanglo sampai Lawang, bisnisnya turun. Tidak tanggung-tanggung; 62 persen. Ada yang turun 70 persen. Saya mengukur dari 10 pengusaha yang datang ke rumah saya, di Lawang; sambat. Average usaha mereka turun 62 persen. Ukuran ini tentu saja dari sampling kasar. Karena gerai usaha di koridor tersebut ratusan jumlahnya. Menjadi ribuan kalau ditambah yang berjualan di Pasar Lawang.
"Untuk apa harus turun lagi kalau hanya sekadar belanja saja," itulah kata kuncinya. Karena Lawang hanya mengandalkan pasar saja. Yang berarti, sifat kunjungannya hanyalah ampiran, walaupun itu ampiran penting.
Warga Lawang sebenarnya sudah mampu memprediksi ini. Itu sebabnya identitas sebagai Kota Tua coba dikuatkan. Lawang Heritage digerakkan, menyatu dengan Malang Raya Heritage. Peninggalan kolonial direvitalisasi. Rumah-rumah vila dibangun. Di Bukit Sentul contohnya. Obyek-obyek wisata coba digeliatkan. Semua itu untuk menjadikan Lawang sebagai tujuan kunjungan. Bukan lagi sekadar ampiran. Adapun pasar adalah penguatannya.
Sayangnya hanya warga yang bergerak. Swasta. Pemerintah belum menunjukkan kesungguhannya. Masih terkesan menganaktirikan wilayah paling utara kabupaten itu. Padahal lokasinya sangat strategis; pintu gerbang kabupaten. Komitmen pemerintah kabupaten masih dipertanyakan.
Kita belum lupa. Bupati Sanusi pidato. Tanggal 9 Desember 2018. Di hadapan ratusan warga Lawang dan Surabaya. Di bekas terminal pasar burung. Acara senam pagi. Disaksikan Dahlan Iskan, mantan Menteri BUMN bersama rombongan senamnya dari Surabaya. Bahwa ultah kabupaten akan dipusatkan di Lawang. Dan sejak hari itu, Bupati berjanji, akan perhatian terhadap wilayah utara kabupaten, yang selama ini terabaikan. Dahlan diundang dan sanggup untuk datang pada ultah 2019.
Bekas terminal itu pun hari itu dia resmikan. Dinamai: Terminal Lawang Heritage. Akan menjadi hub. Mendistribusi wisatawan ke seluruh destinasi di antero Lawang dan sekitarnya. Sampai Bromo. Dengan jeep dan kendaraan khusus. Adapun di terminal itu dijual oleh-oleh serta makanan khas. Benar-benar akan jadi identitas lokal.
Komunitas Lawang Haritage bersama warga Lawang bergairah. Tempat itu dibersihkan, dijadikan panggung ekspresi seni. Mendikbud Muhadjir Effendy pun --waktu itu-- berkunjung ke situ, mengapresiasi. Semuanya berjalan empat bulan.
Tapi kemudian, oleh Dishub Kabupaten, di tempat itu dibuat puluhan bedeng-bedeng seng. Disewakan. Bukan hanya kepada warga Lawang. Di situ juga sekarang, penjual sering menginap. Dan rencana besar Terminal Lawang Heritage pun terkubur pada tumpukan sampah yang menggunung di sudut lokasi itu.
Substansinya kalah oleh kepentingan sesaat, yang gilirannya merugikan kepentingan dan tatanan besar. Ultah kabupaten pun hanya sampai pada janji. Maka, kenyataan itulah yang kini dipakai menuding, bahwa Bupati kurang bersungguh-sungguh.
Berpikirnya pun disebut terlalu sektoral. Bupati Sanusi menolak hadir dan menandatangani deklarasi Kayutangan sebagai Ibu Kota Malang Raya Heritage Agustus 2019. Alasannya, bukan wilayahnya. Padahal pelestarian, penguatan dan pencerahan heritage itu juga untuk kabupaten, karena wilayah kerjanya untuk Malang Raya. Wali Kota Malang Sutiaji dan Wali Kota Batu Dewanti Rumpoko hadir bertandatangan. Lebur dalam gairah kepariwisataan.
Kini hajat kabupaten akan dibuat. Membangun Pasar Lawang semi modern. Dengan dana Rp 157 miliar. Dibangun tiga lantai. Di saat kondisi Lawang seperti itu.
Pertanyaannya, Pasar Lawang itu apa?!  Hendak sendirian mengembalikan kejayaannya, atau akan menjadikan saling menguati atas serangkaian lokasi kunjungan?!  Apa kita bisa percaya, kalau sekadar  pasar, akan mampu mengubah kenyamanan baru yang dimanjakan oleh adanya jalan tol?! Apakah rest area di dalam tol diam saja, tidak berpikir untuk ambil peran Pasar Lawang sebagai ampiran dan belanja di tempatnya?!
Seberapa bisa kita ketahui, pemerintah punya rencana menjadikan Lawang sebagai destinasi? Potensinya dibangun. Fokus?
Ada warga yang sedang membuat konsorsium untuk peduli menjadikan Lawang sebagai destinasi. Konsorsium itu punya mimpi dan energi. Berencana membangun patung raksasa di atas bukit. Kebun Teh Wonosari, Budugasu, Paralayang,  pusat air Krabyakan dan banyak lagi ingin dijadikan obyek wisata yang baik. Sudah ada gambar-gambar rencana. Ada kebun alpukat, bahkan ikut menyumbang Singhasari Adi Raja sebagai obyek berbasis sejarah.
Dengan demikian berarti, pasarnya kelak akan merupakan rangkaian kunjungan yang saling menguatkan. Suatu rangkaian yang bisa memaksa wisatawan merasa "sumbut" untuk berkunjung. Tapi sudahkah mereka dirangkul pemerintah? Atau justru dihambat akibat tidak paham dan tidak adanya grand design atas tatanan besar?
Pikiran pengusaha tidak sama dengan pikiran birokrat. Bisnis akan selalu menemukan jalannya. Tapi birokrasi bisa menghadirkan hambatan bahkan merusak kalau tidak paham. Pemikiran birokrat sering ketinggalan oleh percepatan kemajuan. Kecuali birokratnya paham bisnis.
PENAMPUNGAN
Isu terbaru kini adalah penampungan sementara pasar itu. Karena bakal dirobohkan total. Di mana?! Mulai di jalanan sampai in door sedang dijajaki.
Padahal sebenarnya, kabupaten punya 13 hektare lahan kosong. Gandeng di belakang Lawang View. Dekat sekali dari kecamatan dan stasiun. Cukup strategis. Konon masih disewa untuk sawah. Tapi sawah itu biasa saja. Bahkan sebagian kosong terbiarkan. Konon lagi, jalannya sempit. Tapi apa itu alasan yang pantas?!  Apa sulitnya dilebarkan?!
Karena kenyataannya ada jalan kabupaten di dalam Lawang View. Tinggal melebarkan. Atau masuk dari barat. Ada juga tembusan dari utara. Letak lokasi itu tidak lebih dari 50 meter dari jalan nasional. Jalan raya utama. Jauh lebih baik dibanding posisi pasar yang eksisting sekarang.
Lokasi itu tidak pernah dibahas sebagai alternatif.
Pertanyaan berikutnya adalah; berapa lama pasar itu di penampungan?! Konon, minimal dua tahun. Lalu selama dua tahun itu apa hanya membangun pasar, atau juga menghidupkan lokasi-lokasi wisata, untuk menjadikan destinasi? Secara simultan?
Dua tahun bukan waktu yang pendek bagi suatu bisnis. Apalagi kalau molor. Dan selama dua tahun, pasar wisata itu apa tidak direbut oleh daerah lain?! Karena bisa saja sudah berpindah ke rest area di dalam tol, atau di Karangploso, atau selesai di Batu dan Malang sendiri. Para wisatawan sudah dapat alternatifnya.
Kalau sudah demikian kenyataannya, apakah pasar gres yang katanya ada tamannya segala itu, kelak, bisa benar-benar mengembalikan kejayaannya sebagai pasar wisata? Apalagi lebih baik?
Dalam teori bisnis, tidak ada yang tidak bisa. Pasti bisa. Asalkan Lawang jadi destinasi. Bukan lagi ampiran. Obyeknya dirindukan untuk dikunjungi. Banyak, baru, beda dan terintegrasi.
Bukankah jalan tol sesungguhnya memanjakan Lawang. Siapapun bisa turun dari gate Lawang (Patal), lalu berwisata plus belanja di Lawang, kemudian pulang, naik dari gate Purwodadi. Atau sebaliknya.
Adakah dirigen untuk itu?! Mampukah mengolaborasi potensi?!  Kolaborasi, bukan kompetisi. Karena zaman kini meminta untuk itu. (**)

Oleh: IMAWAN MASHURI, SH MH.

Warga Lawang/founder Jtv & Arema Media Group

Editor : Redaksi
Penulis : Imawan Mashuri