PEMBUKTIAN BANGSA PEJUANG

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


PEMBUKTIAN BANGSA PEJUANG

Sabtu, 04 Apr 2020, Dibaca : 1566 Kali

Presiden Joko Widodo tiada henti mengajak masyarakat negeri ini untuk tidak takut menghadapi berbagai bentuk ancaman dan tantangan darimanapun datangnya. Saat diuji oleh serangkaian terorisme, Jokowi misalnya mengingatkan “kita adalah bangsa yang kuat, bukan bangsa penakut.”

Sekarang saat bangsa Indonesia  sedang diuji oleh “serbuan” virus Corona (Covid-19), kembali Jokowi menyatakan “kita adalah bangsa pejuang”, yang sudah sering mengalahkan  banyak musuh, sehingga dimintanya tidak boleh menyerah, apalagi sampai kalah.

Titik tekan yang disampaikan Jokowi adalah ajakan pembuktian diri, bahwa bangsa Indonesia ini bangsa pejuang, suatu kumpulan rakyat atau manusia yang bukan hanya bermental baja dan tidak gentar menghadapi musuh apapun dan dari bangsa manapun, tetapi juga selalu berupaya ber-ijtihad, alias mencari, merumuskan dan menciptakan strategi dalam berjuang (berjihad).

Dalam ranah psikologis dan psikis, Jokowi melecut fisik, mentalitas dan intelektualitas bangsa ini agar digunakan sepenuhnya (secara maksimal) untuk menghadapi (mengalahkan) Corona. Makna pesan Jokowi itu sejalan dengan pernyataan George Bernard Shaw yang menyebut “orang yang dapat menghadapi hidup adalah mereka yang  bangkit dan mencari keadaan seperti yang diinginkan. Bila tidak menemukannya,   mereka menciptakan keadaan tersebut.”

Apa yang disebut oleh Bernard tersebut mengandung filosofi penyikapan eksaminasi kehidupan yang bermakna bagi manusia atau bangsa manapun di muka bumi.  Dalam Bernard  ini, mereka diingatkan tentang kesejatian dirinya yang ditentukan oleh peran-peran yang dimainkannya sendiri. Kebermaknaan (kebermanfatan) hidup hanya bisa diraih dengan cara mencari dan menciptakan keadaan sesuai yang dicita-citakan atau diobsesikannya.

Dalam realitas yang sering terbaca, mereka itu terkadang menyikapinya dengan asal-asalan dan liberalistik dalam menghadapi atau menjalani beragam eksaminasi. Prinsip sesuka hati dan membiasakan hidup santai, menerima saja tanpa ada usaha, tanpa kegigihan, tanpa ketekunan, tanpa kreatifitas, tanpa mengerahkan segala kemampuan, atau tanpa perjuangan, demikian mudah akrab menjadi bagian dari dirinya.

Mereka itu misalnya gampang bilang dan bersikap bahwa apa yang terjadi sudah ada garisnya dari Tuhan, padahal mereka sebenarnya tidak pernah tahu, apa sebenarnya garis (takdir) yang sudah dibuat atau dirumuskan oleh Tuhan. Mereka mudah menyebut kalau kemudahan atau kesulitan, kesenangan atau kesusahan, penyakit atau kesembuhan, keberdayaan atau ketidakberdayaan, yang mengenainya sudah diatur dari “Yang Maha Atas.”

Jawaban seperti itu mencerminkan kalau mereka itu sedang tergelincir gampang menjadi sosok yang “miskin” militansi, atau tidak bersungguh-sungguh dan menyalakan semangat dan kreatifitas serta pola kehidupan yang berkarakter “memberikan yang terbaik” untuk masyarakat dan negerinya. Padahal kalau karakter ini yang ditunjukkan, akan berdampak juga dalam memberikan yang terbaik untuk diri, keluarga, dan orang-orang tercintanya.

Kata kunci yang disampaikan Jokowi dan Bernard menggariskan, bahwa  idealnya setiap elemen bangsa harus fokus mencari dan menciptakan yang terbaik untuk negerinya. Kedua kata kunci ini (mencari dan menciptakan) secara psikologis dimaksudkan untuk membangkitkan emosi dan kesadaran intelektualitas subyek bangsa supaya hidupnya  punya warna, ada sejarah yang terbentuk, ada pola hidup mencerahkan yang bisa dinikmati, atau nilai-nilai kebermaknaan (seperti keselamatan diri dan menyelamatkan orang lain) yang diwujudkan dan dikembangkannya.

Dalam tahapan mencari dan menciptakan tersebut, seseorang mesti berusaha mengerahkan bakat, potensi, atau keistimewaan dalam dirinya yang bisa dikonsentrasikan untuk mendapatkan dan menghasilkan sesuatu yang bernilai, termasuk melawan Corona. Sesuatu yang bernilai ini tentulah yang membuat peran-peran yang dilakukannya bermanfaat bukan hanya untuk dirinya, tetapi juga untuk masyarakat dan bangsanya.

Mewujudkan peran yang bermanfaat tidaklah gampang, karena berbagai bentuk tantangan (eksaminasi) bisa jadi menghadang dan bisa potensial mengalahkan (menaklukkannya). Artinya, tantangan ini bukan tidak mungkin akan menyeretnya kembali menjadi sosok-sosok yang memilih bersikap apatis,  stagnan, dan menerima apa yang terjadi, dan bukannya membaca dan mengendalikan  realitas di masyarakat sebagai potensi atau peluang strategis untuk mengeksistensikan, memenangkan dan mengembangkan diri.

Jika kita melacak sejarah bangsa-bangsa yang maju di belahan bumi ini, salah satu kisah manis yang ditorehkan adalah kondisi sumberdaya manusianya yang berhasil membangun kultur menciptakan (kepejuangan). Mereka ini sibuk berkarya atau berinovasi, berkreasi, atau istilah sekarang berani melakukan terobosan (temuan-temuan) yang fokusnya pada pemenuhan kemaslahatan publik. Dalam ranah ini, kita patut apresiasi sejumlah lembaga Pendidikan yang menunjukkan temuan (strategi) guna memprevensi penyebaran Corona.

Menciptakan sesuatu yang bermakna memang membutuhkan keberanian. Nyali tinggi atau militansi harus dimenangkan. Dalam keberanian demikian ini, ada kesiapan kuat menghadapi dan menanggung risiko. Barangkali tidak ada capaian kemajuan yang tidak ditempuh dan dilalui dengan ragam rintangan yang menghadang, baik kecil maupun berat. Tetapi, ketidakberanian melakukan sesuatu yang bermakna, berarti menyiapkan diri jadi sosok yang tidak berdaya dan jauh dari etos pemedulian serta pembelaan pada kemaslahatan publik. Keberanian inilah yang diedukasikan oleh Jokowi dan Bernard.

Usaha keras dan kolektif dibutuhkan untuk mengurai kesulitan hidup bermasyarakat dan bernegara  (yang sedang diuji Corona) menjadi kemudahan. Bangsa yang besar seperti Indonesia berembrio dari, salah satunya  kegigihan setiap elemennya, khususnya dari para pemimpinnya dalam mengeliminasi setiap kesulitan “duri” menjadi jalan lempang menuai kesuksesan dan kebahagiaan.

Kalau kita berobsesi menjadi bangsa kuat, di antaranya dalam menghadapi eksaminasi semacam Corona, tentulah kita harus gencar mendisain diri sebagai pejuang yang dimanapun tidak sampai kehilangan keberanian memunculkan ide-ide besar, mengagrekasikan perubahan, dan menunjukkan aktifitas progresif, humanistik, atau tidak menyerah dengan beragam ujian yang dihadapinya. Di antaranya terus berusaha “berkarya” demi menemukan banyak solusi terhadap bencana yang sedang menimpanya.(*)

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang dan pengurus AP-HTN/HAN

dan penulis sejumlah buku Hukum dan Agama

Editor : Redaksi
Penulis : Opini