MalangPost - Pemuda Pembenci Kota

Kamis, 13 Agustus 2020

  Mengikuti :

Pemuda Pembenci Kota

Minggu, 12 Apr 2020, Dibaca : 9756 Kali

 

Memang benar perkataan orang zaman dahulu, bahwa: jika langit diselimuti awan bak sisik ikan, pertanda musim ikan akan segera tiba. Ya, hal tersebut sudah turun-temurun diyakini oleh penduduk kampung Dapenda.
    Mayoritas penduduk di kampung tersebut adalah sebagai nelayan. Dan seorang pemuda bernama Eko sedang berkutat menyiapkan segala peralatan di sampan cadiknya. Mulai dari; mesin, lampu penerang, jala dan lainnya. Hal semacam itu sudah biasa ia lakukan bila musim ikan akan segera tiba.
    Semenjak ditinggal kedua orang tuanya untuk pergi ke kota Jakarta, Eko belajar hidup mandiri. Karenanya, ia bekerja sebagai nelayan. Ia tak mau terus-menerus bergantung kepada ke dua orang tuanya—minta uang—meskipun mereka tajir dan memiliki beberapa toko di kota.
    Kini, kedua orang tua Eko sudah mempunyai rumah di sana. Sebenarnya ia diajak untuk menetap di sana. Tetapi ia lebih memilih untuk tetap tinggal di kampung. Karena baginya, perkampungan lebih indah suasananya daripada di perkotaan.
    Akhir-akhir ini kedua orang tuanya sudah jarang memberi kabar. Ada kerinduan dalam hati Eko. Ia ingin mengetahui keadaan mereka masing-masing. Setelah peralatan-peralatan di sampan cadiknya sudah beres, ia masuk ke dalam rumahnya untuk menelepon mereka berdua.
    Namun panggilan telepon dari Eko tidak ada respons dari sana. Ia mencoba sekali lagi, juga masih tak diangkat. Kali ketiga Eko mencoba untuk menelepon, hasilnya sama—tak ada respons sama sekali. Baru kali ini ibu dan bapak tak merespons panggilan telepon dariku, gumamnya. Lantas ia menyudahi panggilan dan pergi ke warung bu Almi.
    Di warung bu Almi, biasanya Eko nongkrong bersama para nelayan lainnya. Warung tersebut sangat nyaman karena berdekatan dengan pantai. Bila sore hari, mereka semua akan menikmati desir angin yang seolah-olah memaksa kita untuk tidur. Ditambah lagi dengan keindahan sunset di ufuk barat sana yang memanjakan mata.
    Segelas kopi hangat pesanan Eko disodorkan oleh si pemilik warung. Secara bersamaan Eko menyulut sebatang rokok. Kemudian menyeruput segelas kopi yang masih mengepul.
    “Bagaimana kabar Bapak-Ibumu, Ko?” tanya bu Almi yang kemudian duduk di sebelahnya.
    “Enggak tahu, Bu. Soalnya sudah lama mereka tidak memberi kabar.”
    “Mungkin lagi sibuk,Ko.”
    “Kayaknya, sih, iya, Bu.”
                        ***
    Musim ikan yang ditunggu-tunggu oleh penduduk kampung Dapenda akhirnya tiba. Ekolah orang yang pertama kali berangkat melaut hari ini. Kobaran api semangat dalam jiwanya membuat ia sudah tak sabar ingin menangkap ikan sebanyak-banyaknya. Derum mesin sampan cadik Eko menggelegar—menembus terik matahari dan ombak.
    Sekitar satu jam ia mengitari laut, dan sampailah ia di tempat yang diyakini banyak ikannya.  Sesaat Eko menghela napas. Kemudian ia melempar jala, lalu dibentuk menyerupai sebuah lingkaran. Sembari menunggu ikan-ikan terperangkap ke jala tersebut, Eko menyulut sebatang rokok dan menyeruput kopi yang—disalin ke botol kecil—dibelinya tadi di waung bu Almi sebelum berangkat.
    Cuaca kala itu sedang bersahabat dengan Eko. Langit cerah serta tiupan angin yang menyentuh permukaan air laut, membuat perahunya bergoyang. Aroma laut begitu khas bagi Eko. Tak bisa dipungkiri, cukup lama ia tak melaut, yang membuat Eko rindu akan suasana di tengah laut.
    Sekian lama menunggu, Eko menarik jalanya. Dengan susah payah jala tersebut ditarik. Seluruh tenaga ia kerahkan. Dan apa yang terjadi? Banyak sekali ikan-ikan yang terperangkap dalam jalan tersebut. Ikan-ikan tersebut terdiri dari; tongkol dan bandeng.
    Eko bahagia bukan main. Ia tak henti-hentinya berucap syukur sembari mengeluarkan ikan-ikan dalam jalanya. Rasa letih dan capeknya terbayar lunas atas hasil tangkapan yang banyak. Dengan cepat Eko mengeluarkan ikan-ikan tersebut, lalu dimasukkan ke wadah yang ukurannya cukup besar. Setelah selesai, ia langsung pulang.
    Sepanjang perjalanan pulang, Eko melihat awan hitam di kejauhan selatan langit sana. Tetiba perasaan Eko tidak enak. Ia teringat kedua orang tuanya yang berada di kota.
                        ***
    Adalah bu Almi yang memberi tahunya—setelah sampai di bibir pantai—kalau di kota Jakarta sudah terjadi bencana banjir bandang.
    “Bu Almi enggak bohong, ‘kan?”
    “Sumpah, Ko. Ibu tidak bohong.”
    Eko setengah tak percaya dengan perkataan perempuan tua itu, karena bu Almi tak memberikan bukti. Tapi ia setengah percaya karena bu Almi sudah bersumpah. Eko bingung dengan kabar tersebut, apakah itu benar atau salah. Untuk itu Eko langsung pulang.
    Di rumahnya, Eko mencari informasi terkini mengenai banjir bandang yang terjadi di kota Jakarta lewat media daring dan TV. Ternyata benar perkataan bu Almi benar. Sekarang kota Jakarta diterjang banjir bandang. Sebagian bangunan yang ada  di sana terluluhlantakkan oleh banjir tersebut. Bukan cuma itu saja, banjir tersebut juga mengakibatkan banyak nyawa melayang.
    Dan malangnya bagi Eko, dari daftar korban yang meninggal, di situ juga tertera nama bapak dan ibunya. Saat itu tangis Eko pecah. Ia sangat sedih, pun batinnya yang terpukul-pukul dan tercabik-cabik atas kepergian orang tuanya untuk selama-lamanya.
    Bagaimana tidak, Eko sangat mencintai dan menyayangi mereka. Karena mereka, Eko mengetahui apa itu sopan santun. Ya, dari Eko kecil hingga dewasa , ia selalu mengingat pesan mereka untuk menjaga ‘sopan santun’ di mana pun berada.
    Eko berencana untuk mengajak bu Almi untuk menemaninya ke kota Jakarta. Ia ingin menjemput jenazah kedua orang tuanya.     Dan semenjak kejadian itu, Eko membenci kota Jakarta. Kota yang selalu terkena banjir. Kota yang dipenuhi sampah-sampah, kemacetan, polusi udara yang dihasilkan dari pabrik-pabrik dan asap knalpot kendaraan-kendaraan yang begitu bising.

Oleh: Harishul Mu’minin*

Editor : Redaksi
Penulis : Cerpen