Peran Perempuan Menuju Indonesia Emas

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Peran Perempuan Menuju Indonesia Emas

Senin, 16 Mar 2020, Dibaca : 1053 Kali

Tepat pada 8 Maret 1977, Majelis Umum PBB menetapkan sebagai hari PBB untuk hak-hak perempuan dan perdamaian internasional. Tujuan utama penetapan tanggal 8 sebagai bentuk kepedulian lembaga lintas bangsa ini, untuk menghilangkan diskriminasi terhadap perempuan. Selain itu juga fokus utamanya adalah untuk membantu perempuan mendapatkan partisipasi penuh dan setara dalam pembangunan lokal maupun global. Sebaliknya, hari laki-laki internasional dirayakan pada tanggal 19 November setiap tahunya. Catatan sejarah tentang keterlibatan perempuan mengalami dinamika yang unik dan inspiratif baik di tingkat nasional maupun internasional.
Tentu, semangat awalnya bersumber dari gerakan feminisme yang tumbuh di negara-negara yang secara sosio-historis sangat diskriminatif terhadap peran perempuan. Paradigma demikian yang pernah hinggap dalam kebudayaan Indonesia melalui budaya lokal yang menyampingkan eksistensi perempuan di setiap aspek kehidupan. Sejarah mencatat bahwa feminisme Indonesia yang menginspirasi gerakan perempuan bangsa dipelopori oleh R.A Kartini yang diperingati setiap tanggal 21 April. Peran perempuan dalam pergerakan melawan kolonialisme dan imperialisme di Indonesia bahkan sudah mulai terlihat seperti Cut Nyak Dhien dan Cut Nyak Muthia di Aceh yang bersama pejuang lainnya berani mengangkat senjata.
Terlepas dari catatan secara historis perihal ditetapkannya sebagai hari perempuan, aspek yang perlu dikaji lebih jauh adalah sejauh mana peran perempuan di seluruh dunia terkhususnya di Indonesia. Untuk mendukung visi tersebut, Kabinet Indonesia Maju pemerintahan Presiden Joko Widodo kini memfokuskan setiap program kerja untuk pembangunan sumber daya manusia. Hal tersebut sebagai pengejawantahan dari visi besar bangsa ini dalam persiapannya mewujudkan Indonesia Emas tahun 2045.
Indonesia Emas merupakan konsep yang digagas oleh pemerintah dengan lingkup utamanya menciptakan masyarakat yang unggul, maju bersaing dengan bangsa-bangsa lainnya. Selain itu secara psikologis telah cukup dewasa untuk mengatasi permasalahan-permasalahan klasik kontemporer seperti korupsi, disintegrasi, dan kemiskinan. Kunci utama untuk mencapai Indonesia Emas tidak hanya mencakup kekuatan ekonomi, politik, sosial, budaya, melainkan sumber daya manusia yang lebih diutamakan.
Terwujudnya Indonesia emas tidak terlepas dari potensi sumber daya yang dimiliki oleh bangsa, baik itu sumber daya manusia, sumber daya modal, sumber daya alam, maupun sumber daya sosial. Berkaitan dengan sumber daya manusia, Indonesia memiliki sumber daya yang sangat potensial. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk Indonesia diproyeksikan terus bertambah menjadi 318,96 juta jiwa pada 2045. Berdasarkan data tersebut, Indonesia mengalami masa bonus demografi hingga 2045 dimana jumlah penduduk usia produktif lebih banyak dibandingkan penduduk tidak produkif (belum produktif dan sudah tidak produktif).
Berdasarkan dari sumber yang sama, kondisi demografis penduduk Indonesia dilihat dari gender memiliki komposisi yang diprediksi pada tahun 2045, jumlah perempuan sebesar 160,21 juta jiwa dan laki-laki 158,76 juta jiwa. Data ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki kuantitas yang jauh lebih besar dibandingkan laki-laki. Maka tidak heran jika kita harus mengasumsikan, bahwa perempuan memiliki peran sudah sangat cukup strategis dalam mewujudkan Indonesia Emas. Selama ini perempuan selalu mengalami eksklusi sosial dalam pembangunan. Tidak hanya di Indonesia namun di bebebrapa negara lainnya pun demikian.
 Diskriminasi perempuan terjadi dalam berbagai bidang, seperti di bidang sosial, politik, hukum, ekonomi dan keamanan. Pengarusutamaan perempuan dalam pembangunan perlu mendapatkan perhatian yang lebih serius dari pemerintah. Tidak sekadar hanya besarnya jumlah mereka, namun mengingat perempuan memiliki peran yang sangat penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Perempuan adalah guru pertama bagi generasi penerus estafet perjuangan bangsa ini.
Konteks pengarusutamaan gender dalam pembangunan, menempatkan peran strategis perempuan untuk tidak menjadi penerima pembangunan yang pasif melainkan terlibat secara aktif dalam setiap proses perbaikan individu secara sosial, ekonomi, budaya, politik, dan juga upaya perbaikan masyarakat. Dengan adanya korelasi antara peran perempuan dan laki-laki sebagai subjek yang progresif menjadi modal utama mewujudkan Indonesia Emas. Keterarahan program pemerintah dalam mewujdkan generasi unggul, kompetitif dan responsif sampai saat ini menjadi pekerjaan utama bangsa untuk memberikan porsi lebih kepada perempuan agar bisa terlibat aktif.
Peran perempuan dalam bidang politik, undang-undang telah menempatkan 30 persen kuota untuk perempuan. Selain itu, peluang lainnya masih sangat terbuka dengan arus teknologi yang demikian massifnya dapat memudahkan pengaksesan terhadap sesuatu yang bermanfaat bagi perempuan. Pertanyaannya adalah langkah apa yang bisa dilakukan untuk mewujudkan Indonesia Emas?
Persiapan utama yang harus dipupuk sejak hari ini adalah sumber daya manusia yang baik. Sumber daya manusia tidak akan terwujud jika sampai saat ini banyak generasi yang belum mendapatkan pendidikan yang layak. Dalam membaca fenomena tersebut, pemerintah mengeluarkan kebijakan pusat berupa Kartu Indonesia Pintar. Terdapat banyak aspek yang telah berusaha diwadahi oleh negara demi mewujudkan generasi yang unggul. Oleh karena itu, diharapkan ada hubungan timbal balik dari peran perempuan dengan adanya akses yang begitu terbuka saat ini.
Tentu tidak cukup jika generasi mudah saat ini hanya menghabiskan waktu menjelajahi dunia maya tanpa adanya bentuk kontribusi nyata yang mana dapat membangkitkan semangat sebayanya. Hal kecil yang dapat dilakukan saat ini adalah bagaimana bisa memberikan api inovasi kepada sesama untuk terdorong menghasilkan perubahan sosial. Dengan adanya wajah baru dunia dan Indonesia yang peduli terhadap keterlibatan perempuan, harus dijadikan sebagai motor penggerak untuk mewujudkan perempuan Indonesia yang kreatif dan inovatif membaca peluang perubahan.
Peluang perubahan hanya dapat dilakukan oleh generasi yang memiliki semangat emansipatif seperti yang dilakukan oleh Kartini. Oleh karena itu, keterlibatan perempuan dalam mewujudkan Indonesia Emas merupakan visi besar yang menuntut kita untuk bisa berkontribusi melalui cara kita masing-masing. (***)

Oleh: Mariano Werenfridus
Penulis adalah Mahasiswa jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Malang Angkatan 2018

Editor : Redaksi
Penulis : Opini