MalangPost - Perangi CORONA Dari Rumah

Rabu, 12 Agustus 2020

  Mengikuti :

Perangi CORONA Dari Rumah

Jumat, 17 Apr 2020, Dibaca : 2691 Kali

Corona Virus atau yang kita kenal dengan banyak nama, seperti Covid-19, SARS-CoV-2 adalah sejenis virus baru yang mirip sekali dengan virus penyebab penyakit seperti flu, dengan ciri gejala yang dapat dilihat seperti demam, gangguan tenggorokan, pilek. Masyarakat tentunya ada yang memahami betul dan ada banyak pula yang belum memahami dengan sepenuhnya.
Corona Virus atau Covid-19 dengan nama lengkap Corona Virus Diseases yang ditemukan akhir tahun 2019 ini pertama kali muncul di Wuhan, China. Banyak spekulasi tentang mewabahnya virus ini, mulai dari konflik perang dagang antara China dengan Amerika, sampai isu dari makanan seperti sup kelelawar yang dikonsumsi masyarakat disana.


Di China sendiri tidak tanggung-tanggung korban dari mewabahnya virus ini berkisar 81 ribu orang lebih dinyatakan meninggal, terupdate Amerika juga sudah menembus angka 100.000 lebih korban jiwa yang telah disebabkan oleh wabah Pandemi Covid-19 ini.
Angka 100.000 ribu orang meninggal nampaknya sangat mengkhawatirkan publik pembaca berita. Dan di Indonesia sendiri melalui juru bicara khusus kasus Covid-19  Bapak Achmad Yurianto per tanggal 15 April sudah mencapai angka 5.136 pasien kasus positif, 446 pasien sembuh, 469 pasien meninggal. Diketahui kenaikan tiap satu hari bervariatif tapi masuk dalam kisaran 200 orang lebih setiap hari nya. Dari 5.135 sekian pasien yang masuk dalam penanganan perawatan sekitar 4221 pasien. Angka ini jika kita baca sendiri akan menimbulkan imajinasi buruk dengan bayangan negative.


Dahulu kala di Indonesia juga pernah mengalami epidemic, bisa dikatakan sampai pandemic secara global juga, namun dengan nama Pagebluk. Yakni istilah dikenal dengan pagi sakit siang meninggal, siang sakit, sore meninggal, kasus kematian yang tinggi, hanya bedanya adalah di jaman milenial ini gadget berperan ganda. Jika di jaman dahulu tidak adanya gadget dapat sebagai peredam juga bisa, menekan kestresan informasi. Namun di era digital jaman millennial  ini hp sudah menjadi sumber informasi yang mobile bisa diakses kemana-mana, sehingga penyebaran informasi semakin cepat dan masih. Banyak orang yang mempertanyakan kebenaran informasi dan tak sedikit juga informasi itu bersifat hoax atau salah.


Informasi yang cepat memiliki dampak seperti dua sisi mata uang, ada positif dan negative. Positifnya kita bias waspada, namun negatifnya maka akan menimbulkan kecemasan yang parah, maka dari itu kita juga harus cerdas dalam memilah informasi. Corona bukan hal yang harus ditakuti secara membabi buta, banyak sekali hal yang dapat kita lakukan untuk membantu memerangi wabah ini.


Semboyan di rumah aja, semboyan social distancing merupakan semboyan himbauan ajakan pemerintah untuk menunjang menekan penyebaran wabah ini. Perangi Corona dari rumah, ya kita bisa memberikan perlawanan sengit dari rumah. Jika anda tidak memiliki skill yang mumpuni dalam berperang, maka ini saatnya ada skill yang semua orang bisa melakukanya bahkan dari rumah. Rebahan, yah dahulu rebahan dikatakan sebagai kegiatan malas, namun saat ini sempat menjadi viral, dengan rebahan akau menjadi pahlawan. Tapi harus ada penjelasan lanjutan, peran apa yang benar dalam perangi corona dalam rumah ini.
Kita harus cerdas, basic pertama adalah kita harus cerdas, kita akan membahas materi–materi seputar corona. Menurut dokter Tan Shot yen, Corona tidak harus ditanggapi secara berlebihan, diam di rumah, isolasi mandiri itu cukup membantu sekali para dokter  dan perawat.


“Di rumah aja itu Keren” nah ini dia, kita bisa juga mengembangkan dengan “Perangi Corona dari Rumah” di rumah kita bisa berperang loh, keren sekali, tapi kita harus memahami dasar-dasar keilmuanya dulu sehingga tidak menelan hoax yang tidak bertanggung jawab.
Di rumah saja. Apa saja yang dapat kita lakukan di rumah aja? Banyak hal, salah satunya adalah berjemur. Berjemur ini secara tinjauan keilmuan lebih baik dilakukan di jam 10.00 pagi, karena mulai jam 10.00 pagi tersebut sinar matahari mengandung sinar Uv-B yang baik bagi tubuh. Dimana bermanfaat untuk membentuk provitamin D3 yang fungsinya meningkatkan kekebalan tubuh mencegah kanker, serta mencegah kasus penyakit autoimun bahkan untuk ibu hamil. Sekalipun sangat dianjurkan karena dapat membuat bayi di kandungan nanti terhindar dari kasus penyakit autistic. Vitamin D ini didapat dengan secara cuma-cuma dan tidak menimbulkan kasus overdosis yang dapat kita rasakan. Yakni dari pancaran sinar matahari. Uv sendiri memiliki 3 macam jenis, yakni Uv A, Uv B, dan Uv C. Uv-A memiliki gelombang sinar sangat panjang sekitar 315-400 nm. Dimana didapat mulai dari cahaya pertama datang yakni di matahari terbit sekita pukul 5.00 sudah mulai ada. Uv-A ini tidak dianjurkan melakukan berjemur dikarenakan Uv-A mampu menembus sampai dermis kulit kita yang artinya bias berbahaya. Juga dapat menyebabkan keriput serta kanker pada kulit.
Sedangkan Uv-B dimulai sekitar pukul 10.00 pagi. Ini memiliki panjang gelombang lebih pendek yakni sekitar 280-315 nm, serta kalau Uv-C sekitar 180-280 nm.


Berjemur atau kegiatan jemur badan yang sedang booming di masyarakat adalah kegiatan yang tidak sama dengan menggoreng virus, bukan itu salah. Berjemur yang benar adalah membiarkan bagian kulit tubuh kita dapat terpapar matahari, tapi juga jangan dalam waktu yang lama, kalau lama maka akan mengakibatkan kanker kulit. Masyarakat Indonesia hendaknya bersyukur karena secara geografis Indonesia ini terletak di garis katulistiwa, yang artinya tersinari cahaya Matahari sepanjang tahun.
Tambahan informasi juga virus memang inaktif mengkristal jika berada diatas suhu 20 derajat Celsius, namun bukan berarti virus ini benar-benar dalam tahapan mati. Dia akan bereaksi lagi jika dia tertempel bahkan masuk ke inang yang hidup seperti hospes Manusia. Ada banyak persepsi yang salah dari masyarakat yang mengalami ketakutan berlebihan, semisal sehabis ke luar rumah jika keadaan terpaksa maka pakaian harus langsung dicuci. Bahkan yang lebih ekstrim harus direndam air panas itu adalah persepsi yang berlebihan. Terus masih ada lagi yakni dengan kita berjemur kita menangkap Uv untuk membunuh Virus Corona ini, tidak, itu salah. Uv bertindak sebagai sarana komponen yang dapat meningkatkan system imunitas tubuh dengan menghasilkan Vit D3 tadi.


Bagaimana jika untuk berjemur bagi kaum Hijabers? Kalian masih bisa berjemur dengan aman dan sempurna karena ini juga kempatan dapat dikerjakan dirumah juga. Memakai hijab bukan jadi alasan untuk tidak dapat berjemur. Kalian dapat melakukanya melaui versi kalian sendiri, buatlah ruang privasi lalu pakailah pakaian sejenis daster yang ada resleting di punggung juga bisa. Lalu belakangi sinar matahari usahakan bagian tubuh terpapar baik, tapi tetap cukup dengan 15 menit saja.
Diam di rumah adalah Pahlawan. Nah dengan di rumah kita juga bisa berperang layaknya para pahlawan, hanya saja sekarang kita adalah pahlawan kesehatan. Dengan kita berada di rumah kita dapat membantu memutus rantai penyebaran corona ini. Ibarat kalau tentara itu berjibaku dengan proyektil peluru. Satu tentara tak akan sanggup menghadapi jutaan peluru sekaligus. Nah disini tentaranya sekarang adalah dokter dan kita akan menjadi proyektil pelurunya kalau kita tidak hati-hati.


Dengan kita diam di rumah kita ikut menyumbang kebaikan dengan manfaat polusi udara di bumi semakin berkurang, gas buang emisi kendaraan bermotor juga sangat berkurang. Kita juga bisa menerapkan secara benar pola hidup sehat yang baik, irit handsanitizer dan lain sebagainya. Ada hal tambahan lagi, jangan keluar rumah jika tidak untuk kepentingan yang sangat mendesak. Jika kita memiliki salah satu ciri gejala corona jangan langsung panik. Kita lakukan penanganan pertama dari rumah juga bias, pertama cek suhu tubuh dengan thermometer, lalu perbanyak istirahat dan lakukan isolasi mandiri di rumah dulu. Masa inkubasi corona ini termasuk panjang yakni sekita 14 hari baru diketahui gejala yang timbul.(*)

Oleh : Muslim Muhammad Aminun
Guru  Biologi SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School

Editor : Redaksi
Penulis : Opini