Pernah Menjadi Tukang Semir Sepatu dan Loper Koran

Minggu, 20 Oktober 2019

Senin, 16 Sep 2019, dibaca : 21477 , aim, sisca

Untuk dapat menduduki jabatan saat ini, Kol Inf Zainuddin memiliki cerita panjang. Ia harus melewati berbagai macam tantangan yang bisa dijawab dengan kerja kera,  karena dirinya berasal dari keluarga sederhana.
“Alasan saya masuk TNI, karena hidup saya dulu terbatas. Saya sadar kemampuan orang tua agar saya melanjutkan pendidikan tinggi terbatas. Lagipula saya 7 bersaudara dan dibawah saya adik saya ada 5 yang harus saya bantu, kalau kuliah siapa yang membiayainya?,” cerita pria yang pernah juga menjabat sebagai Dandim di Temanggung ini.
Darisitulah, Zainuddin kecil berikrar usai SMA, bagaimanapun caranya ia harus melanjutkan pendidikan tinggi dengan cara dibiayai negara. Ia sempat mencoba segala macam tes untuk masuk pendidikan yang dibiyai negara. Kemudian ia dalami adalah menjadi anggota TNI.
Pada tahun 80-an, saat itu TNI memiliki citra yang benar-benar sedang dibangun dan berkobar serta memiliki kiprah besar. Ia pun tertarik dan akhirnya mengikuti tes dan masuk Akmil Tahun 1988. Perjalannya tidaklah semulus jalan tol.
“Jadi ada 17 hari saya ikut pendidikan saya jatuh sakit. Akhirnya dipulangkanlah saya,” paparnya.
Hal ini tidak membuatnya menyerah begitu saja. Ia kembali mengikuti tes masuk Akmil di Tahun 1989. Sambil menunggu selama satu tahun sebelum pembukaan Akmil, ia bekerja dulu sebagai tukang bangunan.
Ia pun kembali diterima di tahun 1989. Dari situlah karir TNI nya dimulai. Ia mengakui memiliki pengalaman pula yang tidak dapat dilupakan. Pengalaman yang membentuk kepribadiannya untuk terus berupaya keras untuk mencapai sesuatu.Saat duduk di bangku SMP ia sudah mencari uang. Dengan cara menyemir sepatu dan menjual koran di bandara.
“Ini yang saya mau bagi pengalaman juga. Dari kecil memang sudah ingin berusaha cari uang tanpa meminta orang tua. Jadi sekolah saya dulu kan dekat bandara, pulang sekolah saya ke bandara. Jual koran dan semiri sepatu orang yang datang, lumayan uangnya,” ceritanya.
Dari pengalaman kecil itu ia pun juga membuka pengetahuan baru. Karena menjual koran, ia pun menjadi suka membaca. Membaca pun menurutnya menjadi salah satu kebiasaan yang harus ditanamkan pemimpin untuk melebarkan pengetahuannya akan banyak hal.
Jadi, ketika menunggu, ia pun membaca koran yang ia jual tersebut. Dari situ ia mengaku memiliki banyak pengetahuan dan informasi lebih.
“Sampai sekarang juga saya selalu sampaikan ke anak saya sendiri, lalu anak buah saya juga untuk selalu membaca. Baca itu kan sudah kita lakukan daridulu baca iqro itu mengembangkan aspek spiritual juga. Ini adalah upaya meningkatkan kapasitas diri,” tegasnya. (ica/aim)



Minggu, 20 Okt 2019

Ya Sepakbola Ya Karate

Loading...