Perpaduan Arsitektur Jawa dan Arab | Malang Post

Selasa, 19 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 21 Sep 2019, dibaca : 627 , halim, amanda

MALANG - Kota Malang memiliki banyak gedung bersejarah yang menyimpan banyak cerita. Salah satunya, yakni Masjid Agung Jamik Malang. Tempat ibadah yang terletak di kawasan Jalan Merdeka Barat ini dibangun pada tahun 1890 hingga 1903. Sampai saat ini, masjid kebangaan Kota Malang ini masih kokoh berdiri.
Sekretaris Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kota Malang, Agung H. Buana mengungkapkan, masjid tersebut dibangun di atas tanah negara dengan luas sebesar 3.000 meter persegi. Pembangunannya dalam dua tahap. "Tahap pertama dibangun tahun 1890 masehi. Kemudian, tahap kedua dimulai pada 15 Maret 1903 dan selesai pada 13 September 1903," terang dia.
Bangunan masjid tersebut memiliki arsitektur Jawa dan Arab. Hal tersebut terlihat dari bentuk bujursangkar, berstruktur baja dengan atap tajuk tumpang dua yang mencerminkan arsitektur Jawa. Sedangkan gaya arsitektur Arab terlihat dari bentuk kubah pada menara masjid dan juga konstruksi lengkung pada bidang-bidang bukaan pintu dan jendela. "Sampai saat ini, bangunan asli tersebut masih dipertahankan keberadaannya," papar Agung.
Konstruksi bangunan tersebut ditopang oleh empat sokoguru utama yang terbuat dari kayu jati dan 20 tiang yang bentuknya dibuat mirip dengan 4 kolom. Dibangun dengan penuh tirakat dan keikhlasan para pendirinya dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT.
“Konstruksi yang ada membuat bangunan masjid tersebut cukup memesona. Bentuk bangunannya yang tinggi dan kokoh serta suasananya yang begitu nyaman membuat banyak orang merasa sangat tenang dan nyaman berada di sana,” ungkap dia.
Dulu, lanjut dia, masjid tersebut bernama Masjid Jamik Malang. Namun, karena berbagai pertimbangan, masjid ini akhirnya berganti nama menjadi Masjid Agung Jamik Malang. “Masjid ini merupakan masjid utama di Kota Malang dan menjadi sarana keagamaan yang memiliki makna strategis bagi umat Islam, akhirnya berganti nama,” beber Agung.
Seiring berjalannya waktu, Takmir Masjid Agung Jami Malang melakukan renovasi terhadap bangunan masjid. “Namun, bangunan asli masjid tetap dilestarikan. Sehingga ada beberapa bagian yang masih bisa dilihat dari Masjid Agung Jamik Malang pertama kali ada,” urai pria yang juga merupakan Kasi Promosi Pariwisata Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Kota Malang.
Labih lanjut, Agung memaparkan, seluruh bagian bangunan Masjid Agung Jamik Malang memiliki batas sucinya yang merupakan wilayah sakral. Terlihat dari perbedaan ketinggian lantai yang mencolok.  “Bagian lantai bangunan yang kurang lebih 105 sentimeter dari muka tanah bangunan di sekitarnya. Atau di bagian mihrab (tempat imam) lebih sakral lagi karena peninggian lantainya. Bahkan hingga saat ini di belakang mihrab pun masih ada beberapa makam leluhur pendiri masjid,” tandas dia.(tea/lim)



Minggu, 20 Okt 2019

The Heritage of Penang

Loading...