PESAN PEMENANG NOBEL PERDAMAIAN

Minggu, 31 Mei 2020

  Mengikuti :


PESAN PEMENANG NOBEL PERDAMAIAN

Rabu, 25 Mar 2020, Dibaca : 1077 Kali

Sean Mac Bride, pemenang Hadiah Nobel Perdamaian (pada tahun 1974) ini pernah ditanya wartawan  tentang hak mendasar yang dimiliki manusia, lantas ia menjawab “hak untuk mendapatkan informasi” (right for information).

Mengapa pemenang Brideitu menjadikan hak mendapatkan informasi sebagai opsinya? Bukankah masih banyak hak-hak asasi manusia lainnya, seperti hak berekspresi, hak berorganisasi, hak berpolitik, hak menentukan pilihan dengan bebas, hak bebas dari ketakutan, dan lainnya?

Rupanya, pemenang Nobel itu benar-benar bisa menangkap dan menerjemahkan urgensinya hak mendapatkan informasi bagi kehidupan dan keberlanjutan hidup manusia.  Tanpa informasi yang memadai, barangkali hak-hak manusia lainnya tidak akan banyak gunanya atau gagal ditegakkan dengan baik, benar, dan bertanggungjawab.

Barangkali, saat ini masyarakat sedang dihadapkan dengan kebingungan, kegamangan, dan kondisi serba ketakutan akibat ini diuji dengan merebakkanya virus Corona, yang kondisi ini tidak lepas dari mudahnya masyarakat sekarang mengakses informasi.

Beragam berita atau kabar yang disampaikan oleh seserang atau sejumlah pihak dengan gampang diterima setiap subyek sosial, pasalnya mereka ini sudah mempunyai banyak produk teknologi yang mendukungnya, khususnya alat komunikasi atau pengakses informasi yang bernama HP.

Satu kejadian di belahan bumi seperti kasus Corona (Covid-19) di Wuhan dengan cepat menjadi hidangan pemberitaan setiap insan di dunia. Penyebaran virus ini di berbagai negara dengan mudah diperoleh informasinya akibat dukungan akses yang sangat gampang.

Akibat dukungan akses informasi yang gampang itulah, resiko harus diterima oleh masyarakat, dimana tidak setiap anggota masyarakat siap menghadapi atau menjawab ujian globalitas virus ini.

Terdapat elemen masyarakat yang menunjukkan ketakutan luar biasa dengan ujian virus global itu, namun banyak pula elemen masyarakat yang menerimanya dengan kekuatan psikologisnya sambil menyebut, bahwa Corona itu identik dengan penyakit lainnya di muka bumi, yang potensial bisa menjadi “instrumen” yang mengganggu dan merapuhkan konstruksi kesehatan dan keselamatan hidup manusia, namun bisa pula dikalahkan (disembuhkan) layaknya semua dan beragam jenis penyakit lain yang pernah “hadir” dan bertebaran sebagai “penyerang” dalam kehidupan manusia.

Jika memahami dari aspek informasi itu, bahwa dalam kehidupan manusia di bumi ini selalu ada beragam “penyerang” yang bersumber dari berbagai aspek kehidupan, baik yang bersifat alamiah maupun non alamiah, maka penyikapan terhadap eksaminasi virus Corona akan bisa lebih tenang.

Beragam “penyerang” tergolong serius yang sama-sama mempertaruhkan kesehatan dan keselamatan manusa seperti penyakit  kanker dengan segala macamnya (kanker rahim, payudara), tumor, jantung, stroke/Hipertensi, HIV/AIDS, dan  lainnya, juga sepertinya sedang dikalahkan oleh publik dalam hal mereaksinya dibandingkan Corona, yang mengesankan bahwa “penyerang pendatang baru” ini sangat lebih mengerikan atau sangat istimewa (exstra ordoary) dibandingkan dengan “penyerang” (penyakit) lainnya.

Bagi masyarakat yang semakin mudah mengakses informasi atas beragam “penyerang” itu, di antaranya sekarang Corona, tentulah sudah merasakan betapa mudahnya informasi memberi “asupan” pengetahuan atau pemahaman tentang realitas dan subyektifitas keragaman atau berita dinamika yang mewarnai kehidupan globalitas. Misalnya informasi tentang pencegahan lewat mengembangkan pola jarak sosial (social distancing), yang saat informasi ini keluar, tidak diikuti penjelasan, yang kemudian menimbulkan kepanikan publik (sekarang diinformasikan WHO diganti dengan physical distancing).

Dari ranah itu, setiap subyek sosial sejatinya memang harus paham, bahwa diantara urgensinya hak informasi, mestilah ada sejumlah orang atau pihak yang merasa berkepentingan dengan menempatkan Corona sebagai “kesempatan emas” atau selubung kepentingan strategisnya, khususnya di ranah ekonomi.

Selain itu, idealitasnya dengan “serangan” yang kali ini berbentuk virus Corona, setiap subyek sosial lebih sering mengakses informasi yang berelasi dengan strategi penguatan diri di tengah keprihatinan atau berbagai bentuk “bimbingan” yang mengajak pada penguatan spirit yang ditujukan demi membangkitkan  gerakan jihad melawannya.

“Membuat sesuatu yang mudah menjadi rumit itu sudah biasa, tetapi membuat sesuatu yang rumit itu menjadi mudah itu yang disebut kreatifitas”, demikian pernyataan motivator Charles Mingus, yang sejatinya mengingatkan setiap elemen bangsa di dunia, supaya jadi pekerja keras, militan, tangguh, atau “bersyahwat” untuk jadi pemenang, dan bukan sekadar menerima realitas sebagai “takdir” tanpa mengupayakan mengubah atau “merevolusi” kondisi yang memberatkannya menjadi kemudahan.

Dalam ranah pemikiran Mingus itu, subyek bangsa di negeri ini identik dikritik sebagai pilar bangsa yang belum menunjukkan diri sebagai sosok yang menerima dan memanfatkan sumberdaya informasi yang beragam sebagai modal memproteksi dirinya, apa itu berelasi dengan kesehatan atau keselamatan hidup.

Semestinya ketika banyak informasi tentang penyebaran virus Corona dan beragam keprihatinan yang ditimbulkannya, para pemegang hak informasi juga gencar mengakses dan menyebarkan pada publik mengenai sejumlah informasi yang bertajuk sebagai ajakan pada “warga dunia” untuk tidak menyerah dan apalagi kalah dengan Corona.

Menghadapi informasi penyebaran Corona, idealnya, setiap subyek strategis bangsa negeri ini, tidaklah boleh kecil nyali, apalagi sampai mengalami “darurat” militansi atau mengidap “kemiskinan” keberanian dalam menghidupkan dan menyalakan semangat dan aksi bertemakan perubahan besar-besaran guna membuktikan kalau di lini apapun di negara ini, tidak mengidap krisis pemberani, sehingga melawan (menerjemahkan) informasi Corona tidak disikapinya sebagai “virus khusus” yang melemahkannya.

Jika kondisi “darurat” militansi dan “kemiskinan” keberanian dalam menyikapi penyebaran Corona tidak terdekonstruksi, maka bangsa ini bisa jadi akan sulit menemukan atau memiliki sumberdaya manusia kompetitif di tengah globalisasi “serangan”. Kalau kondisinya demikian,  tidak ada lagi yang bisa diharapkan dari bangsa ini, kecuali sekadar meratapi ketidakberdayaan dan pusparagam keprihatinan yang tidak berkesudahan.

Semangat perubahan dan kebersamaan (dalam bernegara) juga harus dijadikan sebagai modal untuk membakar dan menggerakkan adrenalin dalam diri setiap elemen bangsa saat mengakses atau membaca “eksplosi” informasi yang mengerikan atau “sensasional” berkaitan dengan Corona.Dari semangat menyikapi berita (informasi) Corona itu kemudian dijadikan sebagai pembangkit menajamkan dan membeningkan rasio serta mewujudkannya dalam aksi-aksi mengutamakan hidup berkebernegaraan yang solid, saling menguatkan toleransi,  dan berkeadaban (berkemanusiaan). Tanpa ini, jangan berharap bangsa ini sukses mewujudkan impian menjadi bangsa hebat. (*)

Oleh: Abdul Wahid

Pengajar Program Pascasarjana Universitas Islam Malang

dan pengurus AP-HTN/HAN dan penulis Terorisme, HAM, dan Keagamaan

Editor : Vandri Battu
Penulis : Opini