PKB Pegang Bola Panas

Sabtu, 30 Mei 2020

  Mengikuti :


PKB Pegang Bola Panas

Minggu, 01 Mar 2020, Dibaca : 1398 Kali

MALANG – Bola panas dinamika politik Kabupaten Malang masih terpusat pada PKB. Paska hengkangnya H. M. Sanusi ke PDIP, elit PKB kini harus menggerakkan dinamika politik secara cermat untuk meraih posisi yang strategis dalam percaturan Pilkada 2020. Peneliti politik Sigi Lingkaran Survei Indonesia, Dito Arief SAP MAP menyatakan PKB kini ada di garis depan perubahan peta politik Kabupaten Malang.
“Bola panas ada di tangan PKB sekarang, dan PKB pula yang akan mendikte dinamika politik serta pemetaan politik Kabupaten Malang pasca ditinggal oleh pak Sanusi yang kini menjadi penerima rekomendasi dari PDIP,” papar Dito kepada Malang Post, Sabtu (29/2).

Menurut alumnus Fakultas Ilmu Administrasi UB itu, PKB bisa mengumpan bola panas ini ke arah yang menguntungkan partai dengan 12 kursi di parlemen itu.
Contoh umpan cantik yang diluncurkan PKB, adalah munculnya rumor Hanif Dhakiri mantan Menteri Ketenagakerjaan RI sebagai bakal calon yang diimpor dari DPP PKB. Umpan cantik lainnya, adalah menghangatnya lagi sosok Gus Ali Ahmad, anggota DPR-RI Fraksi PKB dari Dapil Malang Raya, yang digadang-gadang bakal menerima rekomendasi PKB.
“Kalau pak Hanif, akan ada efek kejut yang besar bagi Kabupaten Malang. Pertama, dia menteri, figur sentral di DPP PKB, serta akan mendapatkan atensi besar dari NU, karena statusnya sebagai orang pusat. Gus Ali pun sama, karena secara prestasi, dia sangat bagus di Malang,” terang Dito.


Dia merinci, Gus Ali sanggup mengantarkan PKB Kabupaten Malang meraih 12 kursi, meningkat empat kursi dari Pileg sebelumnya yang mendapat 8 kursi. Lalu, PKB Kabupaten Malang juga sukses meraih dua kursi di DPRD Provinsi Jawa Timur. Gus Ali sendiri, sukses meraih kursi di DPR-RI.
“Gus Ali punya efek kejut yang bisa dimaksimalkan, andai rekomendasi DPP PKB turun kepadanya,” ujar Dito.


Dia menegaskan, potensi impor tokoh populer dari PKB, siapapun itu, bakal memberi suntikan energi bagi euforia politik. Dito menganggap, calon penerima rekom PKB, bakal mendikte dinamika politik Kabupaten Malang.
Terutama, karena partai-partai dominan lain, seperti Gerindra dan NasDem, belum menunjukkan pergerakan berarti yang bisa tampak di mata publik terhadap sosok yang dimunculkan.
“Pasalnya, sampai saat ini, tidak ada figur yang benar-benar dominan, bahkan meski ada incumbent sekalipun. Sosok pak Sanusi sendiri, tidak dominan meski punya keunggulan dibanding figur lain,” ujarnya.
Dito merinci, Sanusi kurang dominan, karena dia adalah wakil bupati yang naik ke posisi kosong bupati, bukan karena dipilih dari Pilkada sebagai N1. Ketika dia melepaskan diri dari PKB, semua keunggulan dan posisinya di mata kader PKB, hilang dan kini beralih pada sosok lain yang bisa menggantikan Sanusi di PKB.


Terpisah, Direktur Hasta Komunika research & consulting, Muhammad Anas Muttaqin mengatakan hengkangnya Sanusi ke PDIP, malah bagus untuk PKB.
“Saya melihat, tak ada pengaruh besar pindahnya Sanusi ke PDIP. Memang, sejak awal dia dijagokan, tapi itu kan belum final. Tapi, karena keburu pindah ke PDIP, saya rasa sekarang PKB lebih solid,” ujar Anas kepada Malang Post.

 

   Baca juga :

Gerindra Tunggu Hasil Survei

NasDem Tak Mau Terburu-Buru


Dengan hengkangnya Sanusi ke PDIP, Anas menganggap PKB sekarang lebih tenang, tidak terburu-buru dan memanfaatkan waktu untuk menjalin komunikasi politik yang lebih matang. Karena, figur PKB penerima rekom, sekarang tidak lagi dimonopoli oleh pengaruh Sanusi sebagai petahana.
“Semakin banyak alternatif, dan figur itu pasti akan diuji publik. Saya dengar, PKB sedang melakukan pengukuran popularitas serta elektabilitas figur alternatif dengan instrumen survei dan lain-lain. Sepertinya sosok Hanif Dhakiri dan Gus Ali masuk dalam survei internal PKB itu,” ujar Anas.


Hanif maupun Gus Ali, dinilai sebagai sosok yang fresh, muda dan memiliki keterikatan yang kuat dengan NU. Pasalnya, secara historis maupun kultural, PKB diisi oleh banyak sekali kader-kader NU. Selain sosok Gus Ali yang menjadi tokoh lokal dari internal PKB, nama Lathifah Shohib juga disebut mulai mengerucut.
“Di sisi lain, koalisi PKB dengan partai lain masih akan sangat mungkin terjadi. Karena, penerima rekomendasi itu kan dua nama, tak hanya satu nama saja. Proses itu butuh waktu. Bisa jadi, PKB sudah selesai menentukan N1, tapi N2 belum, karena N2 akan dilempar ke koalisi,” tutup Anas.
Pandangan berbeda disampaikan oleh akademisi FISIP Universitas Brawijaya, Ahmad Imron Rozuli SE MSi. Menurut Imron, PKB yang sebelumnya bisa memonopoli suara dengan basis popularitas incumbent, kini harus memutar otak untuk mengisi kekosongan paska ditinggal Sanusi ke PDIP.
“Ketika pak Sanusi sampai keluar, itu eman dari sisi PKB, karena PKB gak ada figur di Malang yang menonjol sekarang. PDIP cepat menangkap peluang. Sehingga, kemudian secepatnya mengeluarkan rekomendasi. Tapi, di sisi lain, PKB juga sulit untuk mengunci pak Sanusi,” ujar Imron.


Dengan keuntungan posisi Sanusi sebagai incumbent, PDIP memperoleh start dan penguatan jaringan di level grass root, mendahului partai-partai lain. Bahkan, menurut Imron, keluarnya Sanusi dari PKB, memaksa PKB untuk melakukan koalisi, setelah sebelumnya bisa mencalonkan sendiri tanpa perlu bantuan partai lain.
“Mungkin saja, koalisinya bisa bergerak dengan partai lain seperti Nasdem dan Gerindra, atau Golkar. Perlu diuji dulu tapi. Karena, tidak serta merta bahwa partai yang punya suara di legislatif, bisa berbicara di pemilihan bupati. Koalisi harus tepat untuk imbangi PDIP,” tutur Imron.


Terkait sosok Gus Ali maupun Hanif Dhakiri yang muncul sebagai calon pengganti Sanusi, Imron mengatakan bahwa dua figur ini harus dipoles dan di-make up terlebih dahulu. Karena, menurut Imron, optimisme dan suara kalangan akademisi terhadap Sanusi, lebih tinggi, dibandingkan figur lain yang belum muncul ke permukaan.(fin/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira