MalangPost - Psikolog UB : WFH Munculkan Tekanan Sosial

Senin, 06 Juli 2020

  Mengikuti :


Psikolog UB : WFH Munculkan Tekanan Sosial

Rabu, 27 Mei 2020, Dibaca : 2304 Kali

MALANG - Psikolog Universitas Brawijaya (UB) Ary Pratiwi, S.Psi., M.Psi mengatakan bahwa kondisi COVID-19 yang menyebabkan harus stay at home atau kerja di rumah memunculkan stressor atau tekanan baru. Tidak hanya bagi orang tua namun juga bagi anak-anak terutama dengan banyaknya tugas yang diberikan dari pihak sekolah. Hingga saat ini aturan tersebut masih berlaku sejak hampir tiga bulan terakhir dab memunculkan permasalahan psikis.

"Dengan adanya tugas yang biasanya dikerjakan di sekolah dan saat WFH (Work From Home) harus mengerjakan berbagai macam tugas sesuai dengan jadwal yang sudah ditentukan ditambah harus online di jam yang ditentukan membuat anak tertekanan," katanya.

 

Ary mengatakan, kerja di rumah juga menyebabkan pola jam kerja berubah, dari biasanya pagi sampai siang, kini bisa menjadi malam bahkan tengah malam.

Oleh karena itu, untuk mengantisipasi terjadinya stress, ia berharap agar para orang tua tetap meluangkan waktu bermain terutama bersama keluarga. Selain juga memberikan motivasi agar secara mental anak-anak mereka tetap kuat menjalankan tugas belajarnya di rumah. "Hal ini utamanya untuk menciptakan hati yang gembira. Karena hati yang gembira adalah obat di masa pandemi seperti saat ini," ujarnya.

 

Meski memunculkan tekanan sosial baru, namun Pengamat Komunikasi Universitas Brawijaya (UB) Malang, Maulina Pia Wulandari, S.Sos,. M.Kom., Ph.D mengakui kerja di rumah akibat pandemi COVID-19 membuat intensitas komunikasi antara anggota keluarga mengalami peningkatan. "Anggota keluarga yang biasanya hanya berinteraksi pada malam hari. Di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini akan lebih banyak bertemu dan berkomunikasi. Sepasang suami istri yang biasanya bertemunya cuma pada malam hari maka ketika ada penerapan WFH akan bertemu mulai pagi sampai pagi lagi,” ucapnya.

Namun kadangkala yang menjadi masalah ketika meningkatnya intensitas komunikasi tersebut tidak selalu dibarengi dengan kualitas komunikasi. Kondisi tersebut tergantung dengan kondisi psikologi masing-masing keluarga.

 

Pia menjelaskan anggota keluarga yang si ayah baru saja mendapat Pemutus Hubungan Kerja (PHK) tentu akan berpengaruh terhadap pola komunikasi. Oleh karena itu, harus ada rambu-rambu  yang harus dipahami saat berkomunikasi terutama menyangkut hal-hal yang sifatnya sensitif. "Jika mau bicara jangan membicarakan soal ekonomi. Boleh menyinggung tapi sedikit saja dan tidak sensitif membicarakan masalah uang," tukasnya. (imm/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Imam Wahyudi