Ramadan di AS, Trump Terapkan Aturan Social Distancing

Kamis, 28 Mei 2020

  Mengikuti :


Ramadan di AS, Trump Terapkan Aturan Social Distancing

Minggu, 19 Apr 2020, Dibaca : 3504 Kali

WASHINGTON DC -  Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan warga muslim di AS harus tetap jaga jarak (social distancing) untuk cegah Corona saat Ramadan, sama seperti ketika warga Kristen merayakan Paskah. Namun, dalam praktiknya akan ada yang berbeda karena ciri khas ibadah tiap agama yang berbeda.

Seperti dilansir AFP, Minggu (19/4/2020) Trump diminta berkomentar usai salah seorang komentator konservatif tampak mempertanyakan kebijakan Trump terkait pembatasan sosial saat ibadah. Yakni apakah umat Islam akan diperlakukan dengan tindakan sama dengan umat Kristen yang melanggar aturan social distancing.

"Saya akan mengatakan bahwa mungkin ada perbedaan. Dan kita harus melihat apa yang akan terjadi nanti. Karena saya telah melihat perbedaan besar di negara ini," ujar Trump dalam konferensi hariannya terkait Corona, Sabtu (18/4/2020).

Trump melihat umat Kristen ketika Paskah biasanya mengikuti kegiatan peribadatan di gereja. Hal ini berbeda dengan umat Muslim saat Ramadhan di AS. "Mereka mengikuti kegiatan ibadah di gereja-gereja Kristen tetapi mereka tidak cenderung beribadah di masjid," katanya.

Bulan suci Ramadan di AS akan jatuh pad hari Kamis saat matahari terbenam. Jatuh satu setengah minggu usai Paskah. Sebelumnya beberapa orang Kristen di AS menentang peraturan kesehatan masyarakat guna menghadiri layanan ilegal. Ketika ditanya apakah menurutnya para Imam akan menolak untuk mengikuti perintah social distancing, Trump menjawab: "Tidak, saya tidak berpikir begitu," kata Trump.

"Aku adalah seseorang yang percaya pada iman. Dan itu tidak penting apa keyakinanmu. Tapi politisi kita tampaknya memperlakukan agama yang berbeda dengan sangat berbeda," ungkap Trump.

Sebagaimana diketahui, Trump telah dituduh memakai retorika anti-Muslim di masa lalu. Salah satu tindakan pertamanya saat terpilih menjadi Presiden AS ialah melarang pelancong dari beberapa negara mayoritas Muslim.

Lebih dari 700.000 kasus positif Corona telah dilaporkan di Amerika Serikat. Hal ini memaksa komunitas agama di seluruh negeri menutup pintu mereka. Masyarakat Muslim Amerika Utara, bersama para pakar medis Muslim, telah mendesak penangguhan shalat berjamaah dan pertemuan-pertemuan lain.

Orang-orang Yahudi Amerika juga dipaksa untuk melakukan ibadah Seder tradisional secara virtual ketika liburan delapan hari dimulai saat matahari terbenam pada 8 April. Meskipun tindakan serupa diterapkan di sebagian besar komunitas Kristen, seorang pendeta Virginia yang terus berkhotbah menentang aturan tinggal di rumah meninggal dunia seminggu yang lalu karena terjangkit virus Corona.

Sementara itu, para pendeta di dua gereja besar di Florida dan Louisiana telah ditangkap atas tuduhan pelanggaran ringan karena melanggar perintah tinggal di rumah saat Corona.

"Iman Kristen diperlakukan jauh berbeda dari sebelumnya. Dan saya pikir itu diperlakukan dengan sangat tidak adil," kata Trump menambahkan. (cnn/det/udi)

Editor : Mahmudi Muchid
Penulis : Net