MalangPost - Recovery Bumi di Tengah Pandemi Corona

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Recovery Bumi di Tengah Pandemi Corona

Jumat, 24 Apr 2020, Dibaca : 3162 Kali

Bumi, sebuah nama yang disematkan kepada jenis planet urutan ke tiga dari Matahari. Bumi menjadi satu-satunya planet yang dapat dihuni, tidak hanya dihuni oleh manusia, melainkan semua jenis makhluk hidup, maupun tak hidup yang di dalamnya bergulir suatu siklus yang saling ketergantungan positif. Usia bumi sudah mencapai 2020 dalam periodenya secara hitungan kalender Masehi, terlalu tua jika dibandingkan dengan manusianya sendiri yang hanya mampu hidup dengan kemungkinan hidup di bawah 100 tahun.
Bumi memiliki atmosfer yang di dalamnya dapat memegang peranan penting untuk kehidupan, dimana setiap yang hidup di dalamnya dapat bernapas. Karena atmosfer memiliki peran sebagai sumber gas-gas penting yang digunakan dalam proses kehidupan. Juga dapat sebagai penyaring/filter radiasi sinar matahari, penyangga buffer/suhu di bumi, sampai pengatur kelestarian, keselarasan proses cuaca dan iklim yang ada di dalamnya.
Penelitian antariksawan mengatakan, bumi masih menjadi satu-satunya planet yang dapat dihuni, walaupun penelitian sudah sampai menjelajahi Merkurius, Venus, sampai Mars. Para peneliti meneliti mulai dari batuan sedimen di dalamnya hingga kontur dan kandungan gas di dalamnya. Keseluruhanya mengacu pada kesimpulan bumi lah yang hanya dapat dihuni oleh mahkluk hidup.
Penelitian terbaru di tahun 2020 ini memberikan kemajuan informasi bahwa banyak planet baru yang ditemukan, di antaranya dapat atau bisa dikatakan layak huni, yakni dengan nama K2-18b. Disebutkan planet ini memiliki kemiripan dengan bumi. Mulai dari segi ukuran sampai unsur-unsur penunjang yang ada di planet ini. Namun sayangnya planet ini berada pada zona exoplanet yakni berjarak sekitar 124 tahun cahaya. Masih perlu banyak penelitian lanjutan untuk dapat memenuhi kriteria dapat dihuni. Maka dari itu sementara hanya bumi yang dapat dikatakan satu-satunya planet yang dapat dihuni.
Bumi, telah merayakan hari jadinya bertepatan dengan tanggal 22 April lalu sebagai peringatan untuk memeringati hari bumi. Ada yang berbeda dalam perayaan hari bumi kali ini, bumi secara jelas memberikan peringatan keras dan memberikan hasil nyata dari peringatan itu sendiri. Peringatan keras itu diperlihatkan ketika memberikan nama penyembuh lukanya yaitu virus. Penyembuh luka bumi dan juga pembawa wabah di dalamya. Dua sisi yang akan terus berbenturan. Namun semuanya harus berjalan dengan kesimbangan.
Bumi memberikan semua yang ada di dalamnya, mungkin saat ini bumi ingin rehat sejenak dari keletihan akibat perilaku kita. Menurut Mohammad Darwish, anggota aktivis Lingkungan Nasional mengatakan, saat ini bumi sedang berada dalam kondisi terbaiknya. Agaknya tidak terlalu berlebihan, karena kita ketahui semenjak ada wabah pandemi virus yang melanda seluruh dunia, yakni pandemi virus Corona, atau Covid-19, bumi memperlihatkan perubahan keadaannya yang semakin membaik.
Pantauan perubahan tingkat polusi udara di tujuh kota besar dunia pun memperlihatkan penurunan drastis. Madrid di Spanyol per Maret 2020 level NO2 (Nitrogen dioksida) turun 41-56 persen, Lisbon di Portugal per Maret 2020 level NO2  turun sampai 51persen, Roma di Italia turun sampai 35 persen, Wuhan di China turun sampai 40 persen, New York di AS turun 50 persen, New Delhi turun sampai 70 persen, dan Jakarta di Indonesia yang merupakan ibukota negara kandungan NO2 turun hingga 50 persen.
Dikatakannya, konsentrasi parameter partikulat (PM 2,5), serta indeks kualitas udaranya berada di angka 60. Semua data menunjukkan bahwa bumi mengalami perbaikan diri atau recovery diri selama berlangsungnya pandemi wabah virus Corona ini. Satu hal yang mungkin harus dipahami manusia adalah manusia tidak dapat hidup tanpa bumi.
Melihat masifnya penyebaran wabah ini memberikan banyak dampak dalam aspek kehidupan. Dampak itu sepertinya memberikan gambaran kepada kita atau bahkan peringatan bagi kita semua untuk kembali kepada fitrah kebaikan, kembali kepada kearifan lokal, kembali kepada fitrah manusia yang hidup berdampingan dengan bumi, yang sudah seharusnya berperan menjaga serta  melestarikanya. Semenjak adanya wabah juga membuat bumi kembali dalam keadaan sekitar 30 tahun yang lalu.
Menurut Darwish, semenjak diberlakukannya kebijakan Lockdown oleh beberapa negara, memberikan efek positif bagi bumi. Di antaranya polusi udara, tanah, air hingga getaran bumi berkurang. Kita ketahui lebih dari 3,5 Milliar manusia yang hidup dan bergerak di atas bumi dimana banyak di antaranya bergerak, bepergian, bekerja dan lain sebagainya yang menggunakan kemajuan teknologi semacam kereta, mobil, pesawat dan macam alat transportasi lainya. Semuanya menghasilkan gas buang berupa nitrogen dioksida yang mana dapat memperburuk kondisi bumi. Namun semenjak adanya wabah ini semua nya menjadi diam yang artinya tidak ada lagi penghasil polusi bagi bumi.
Corona tampaknya tidak hanya mengajarkan kita tentang bahayanya virus ini bagi manusia, namun juga mengajarkan tentang keseimbangan alam di dalamnya bahwa bumi juga melakukan siklus di dalamnya. Corona sedikit banyak mengajarkan kita tentang kebermaknaan banyak hal selain sosial ekonomi. Lebih khusus lagi tentang keberagaman dan hak mahkluk hidup lainya bagi bumi.
Bumi sedang berbenah diri, sedang merecovery dirinya sendiri. Di tengah pandemi wabah ini, marilah kita ikuti anjuran pemerintah untuk tetap di rumah saja. Ketika beberapa Negara melakukan Lockdown banyak hal yang terjadi di bumi. Tingkat polusi udara, tanah, air, semuanya turun, atmosfer bumi juga kembali membaik, lapisan ozon kembali berangsur-angsur membaik, sehingga membawa dampak positif untuk mahkluk hidup semuanya yang hidup di Bumi.
Ingatlah, manusia tidak bisa hidup tanpa bumi, dan bumi juga memiliki hak hidup dimana di dalamnya bumi tidak ingin hidup dengan polusi yang disebabkan manusia. Selamat kembali baik wahai Bumiku, lekaslah pulih, maafkan kami yang sering lupa untuk menjagamu.(*)

Oleh: Muslim Muhammad Aminun, S.Pd
Guru Biologi SMA Islam Sabilllah Malang Boarding School

Editor : Redaksi
Penulis : Opini