Rela Bekerja dengan Dua Sistem

Rabu, 27 Mei 2020

  Mengikuti :


Rela Bekerja dengan Dua Sistem

Minggu, 26 Apr 2020, Dibaca : 2391 Kali

MALANG - Saat diberlakukannya aturan belajar  dan mengajar dari rumah selama masa Pandemi Covid-19, mulai sejak 16 Maret lalu, tidak semua guru melakukan tugas total di rumahnya. Sebagian diberikan waktu oleh lembaga untuk piket di sekolah yang dapat memanfaatkan fasilitas WiFi sekolah. Karena pembelajaran dilaksanakan secara online atau daring.


Di tengah kondisi seperti itu bahkan ada guru yang rela untuk berusaha mencari anak didiknya ke rumah hanya untuk mendampingi karena sang siswa tidak mempunyai fasilitas gadget apalagi laptop. Itulah yang dilakukan Erna Agustin, S.Pd.I, guru SD Muhammadiyah 4 Kota Malang. Selama hampir tiga pekan ia merumuskan pembelajaran khusus untuk salah satu siswanya.


Kepada Malang Post, guru yang akrab disapa Nana itu mengatakan, salah satu siswanya yang bernama Anies Gilang Pratama perlu mendapat perhatian khusus, karena berasal dari keluarga yang terbilang kurang mampu. Ayah atau ibunya tidak memiliki smartphone yang dapat diprogram whatsapp (WA). “Hampir setiap hari saya membuatkan tugas manual dengan paper, kemudian saya kirim ke rumahnya,” kata dia.


Yang lebih penting lagi, siswanya tersebut merupakan siswa kelas VI. Tentunya banyak tugas yang harus diselesaikan sebagai syarat kelulusannya. Ditambah petimbangan tersebut, Nana banyak meluangkan waktunya untuk membimbing Gilang dengan perlakukan khusus.


Gilang sendiri rumahnya di Batu. Hanya saja setiap hari pulang ke rumah neneknya di Sudimoro, Kecamatan Lowokwaru.  Berhubung orang taunya tidak memiliki Whatsapp, maka tidak masuk grup kelas orang tua siswa. Dan hal tersebut berimbas pada belajar Gilang yang bisa dibilang hampir tidak mengikuti proses pembelajaran daring di awal-awal berlakunya aturan belajar di rumah.


Di pekan kedua, ditemukan satu solusi yang dianggap lebih mudah. Gilang bergabung dengan seorang teman yang rumahnya berdekatan dengan rumah nenek dia di Sudimoro. Cara tersebut dianggap dapat sedikit meringankan tugas Nana.  “Meskipun tidak dalam kelas yang sama tetapi materi yang diajarkan sama. Sehingga dia bisa belajar bersama temannya meski hanya sesekali saja, selebih ya tetap pakai paper bukan online," paparnya.
Karena keterbatasan fasilitas itulah, Gilang mendapat dispensasi waktu. Aturan batas waktu pengumpulan tugas tidak diberlakukan kepadanya seperti yang berlaku pada siswa lain. “Kami memberikan dispensasi untuk dia,” imbuhnya.


Dalam kesempatan berkomunikasi dengan Gilang, Nana tidak lupa untuk mensupport dan memberi motivasi. Sebab tidak mudah menjalankan belajar di rumah dengan keterbatasan sarana, terlebih bagi anak seusianya. “Karena kami kasihan, makanya saya selalu memberikan motivasi agar tetap bersemangat. Di tengah keterbatasan fasilitas,” ungkapnya. “Karena anak-anak kami tidak sama, kemampuan berpikirnya maupun kemampuan finansialnya, maka harus kami bedakan. Tapi kami berusaha mereka mendapat hak yang sama dalam pendidikan,” sambungnya.


Untuk menjaga semangat belajar anak didiknya itu, Nana rela tidak seperti teman guru yang lain. Yang mengerjakan tugas mengajar, menilai, merekap dan mengevaluasi dengan program yang otomatis.
Tapi tidak dengan Nana. Ia harus mengerjakan dengan dua sistem, online dan offline. Yang offline atau manual, tentu saja untuk Gilang.  “Bagi saya ini bukan sesuatu yang merepotkan. Ini tantangan yang memberikan saya banyak ilmu dan pengalaman,” ucap Nana.


Setelah melewati masa-masa sulit itu, ia akhirnya bersyukur. Sebab kata dia, orang tua Gilang sudah mempunyai handphone yang lebih canggih. Beberapa hari yang lalu, orang tua Gilang  sudah masuk grup WA wali siswa kelas VI. “Belum satu minggu ini ayahnya masuk grup, Alhamdulillah. Meskipun pembelajaran kelas 6 sudah selesai. Tapi bisa digunakan untuk info kelulusan,” pungkasnya. (imm/aim)

Editor : Muhaimin
Penulis : Imam Wahyudi