Retreat Privat di Resort Dengan View Gunung Bromo | Malang Post

Selasa, 19 November 2019 Malang Post

  Follow Us


Sabtu, 07 Sep 2019, dibaca : 660 , Muhaimin, Fino

Saya berkesempatan berkunjung ke kawasan yang tidak duga-duga memiliki tempat eksklusif dan mewah. Plataran Bromo Resort and Venue, bagian dari Plataran Group, memiliki sebuah resort yang jauh dari keramaian. Cocok untuk retreat privat dan berada di kaki gunung Bromo, di Desa Ngadiwono, Kecamatan Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Kebetulan, Malang Post diundang untuk liputan Plataran Bromo Marathon Xtravaganza 2019 pekan lalu. Setelah dijemput pihak Plataran, saya diantar ke lokasi, melewati jalur Jabung yang jalannya berat dan rusak. Jalan yang menyambungkan Jabung dan Nongkojajar itu, rusak parah dan mobil harus pelan-pelan.
Namun, menurut Wahyu yang juga sopir Plataran Bromo, jalur ini paling cepat dibandingkan harus memutar lewat Purwodadi. Hampir sama seperti pemandangan menuju pengunungan, tak ada jalan besar yang bisa dilewati. Semua jalur di kaki gunung hanya pas untuk dua mobil ukuran SUV.
Jangan harap bus besar bisa berpapasan di jalur ini, harus saling mengalah, dan ada orang yang memandu kendaraan di pojokan-pojokan jalan yang curam. Akhirnya, setelah berangkat pukul 07.30 WIB, Sabtu (31/8) pagi, saya tiba di Plataran Bromo, kurang lebih dua setengah jam. Saya disambut Nanda, Marcom Plataran Canggu Bali dan Chatarina PR Plataran Bromo.
Tiba di sana, saya langsung disambut hawa dingin khas gunung. Suhunya di bawah 16 derajat, jauh lebih dingin dari AC hotel. “Makanya di sini juga tak ada AC,” celetuk Nanda.
Saya sempat nongkrong di Teras Bromo yang konon adalah bangunan pertama sebelum akhirnya ada resort, ampiteater dan nursery serta venue lainnya.
Memasuki H-1 acara, saya berkesempatan naik ke gedung utama Plataran Bromo, dan naik ke lantai tertinggi. Saya menuju balkon terbuka, dan bisa melihat view pegunungan, dengan udara super dingin. Owner Plataran Group, Yozua Makes menyebut bahwa view pegunungan ini semakin spesial saat sore.
“Balkon ini menyediakan pemandangan spesial, bisa melihat sunset atau matahari terbenam di ufuk,” ujar Yozua. Dari atas, saya juga masih bisa melihat dari jauh, desa yang mengelilingi Plataran Bromo. Dari atas balkon pula, saya menyaksikan ampiteater, tempat yang menghelat konser band Gigi.
Saya pun menikmati makan malam bersama banyak rekan wartawan lain, di balkon Plataran Bromo. Sabtu malam itu, saya menikmati sisa-sisa sensasi menonton aksi Armand Maulana dan kawan-kawan secara live, sembari mencicipi kambing guling yang disajikan Chef Iqbal, chef corporate Plataran Group, sekaligus anggota Perkumpulan Chef Profesional Indonesia (PCPI).
Hanya saja, pemandangan dan view ini, tidak bisa didapat dengan harga murah bagi kebanyakan orang. Saya mengecek aplikasi pemesanan hotel untuk masuk hari Senin 9 September, dan harga kamar per harinya di Plataran Bromo, tidak murah bagi kebanyakan orang. Pada weekdays, harga menginap semalam, adalah Rp 2,1 juta.
Itu harga untuk kamar termurah, tanpa kamar mandi dalam. Lalu, ada kamar seharga Rp 3,8 juta, dengan bunk bed dan kamar mandi dalam. Tak hanya kamar, Plataran Bromo juga menyewakan villa dua lantai, lengkap dengan berbagai fasilitas mewah. Harga menginap semalam, Rp 21 juta. Sementara, untuk weekend yaitu Sabtu-Minggu, saya mengecek harga kamar termurah mencapai Rp 4 jutaan.(fin/aim)



Loading...