MALANG POST - RUMAHKU SEKOLAHKU, ORANG TUAKU ADALAH GURUKU

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


RUMAHKU SEKOLAHKU, ORANG TUAKU ADALAH GURUKU

Kamis, 19 Mar 2020, Dibaca : 2049 Kali

Pemerintah mulai dari pusat sampai daerah telah mengeluarkan kebijakan bahwa siswa belajar di rumah. Hal ini dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran virus Corona yang semakin merajalela. Siswa harus diselamatkan dari wabah virus ini, karena mereka masih anak-anak yang kekebalan tubuhnya masih rentan sakit. Tak terkecuali di sekolah tempat saya mengabdi juga mematuhi anjuran tersebut. Sekolah menganjurkan anak-anak untuk belajar di rumah bersama orang tuanya. Namun sekolah tidak  lepas tanggung jawab begitu saja, semua guru masih harus masuk untuk mempersiapkan materi-materi yang dibutuhkan siswanya sebagai bahan belajarnya di rumah.

Pada hari kedua setelah anjuran tersebut, ada seorang ibu-ibu wali siswa yang tergopoh-gopoh dengan nafas yang masih terengah-engah naik ke lantai tiga, ke kelas anaknya yang kebetulan ada di lantai tiga.  Ibu tersebut bermaksud untuk meminta tugas-tugas yang yang bisa dikerjakan putranya di rumah. Dengan penuh kearifan, Si Ibu tersebut berucap: “ Saya akan belajar menjadi guru untuk anak saya. Sehari saja saya mendampingi putra saya, saya merasa betapa beratnya menjadi seorang guru.” Si Ibu tersebut melanjutkan kalimatnya: “ Sekarang saya benar-benar sadar bahwa guru-guru anak saya adalah guru-guru yang sangat baik dan sabar. Saya banyak berterima kasih kepada guru anak saya. Saya berutang budi pada semua guru yang pernah mengajar anak saya.” Curahan Si Ibu tersebut ditutup dengan doa “ Semoga semua guru anak saya sehat dan dijaga dari segala mara bahaya.”

Dari pengalaman yang saya saksikan pagi itu akhirnya saya berucap dalam hati “Maha Suci Tuhan yang telah menciptakan segala sesuatu tanpa sia-sia”. Salah satu hikmah diciptakannya Virus Corona adalah menyadarkan para orang tua bahwa pendidikan anak sebenarnya adalah tanggung jawab dari orang tua. Orang tua yang telah diberi amanah oleh Tuhan dengan hadirnya seorang anak. Semenjak lahir orang tua terutama ibu sudah harus menjadi guru bagi putra putrinya dan rumah menjadi sekolahnya. Karena menjadi guru, tentu orang tua  tidak akan lupa dengan makna “digugu dan ditiru” oleh putra putrinya. Orang tua harus mampu menjadi teladan bagi putra-putrinya. Semua sikap dan prilaku menjadi panutan. Saat menjadi guru, orang tua bertugas memberikan pengajaran, membimbing, dan mengarahkan. Hal ini harus disadari orang tua agar menjadi guru terbaik bagi anaknya.
Menjadi sebuah keniscayaan untuk bagi orang tua mendidik menjadi orang yang pintar dan benar. Tidak semata-mata memberikan makanan, pakaian, tempat tinggal, dan hiburan saja.

Orang tua merupakan pendidik utama dan pertama bagi anak-anak mereka, karena dari merekalah anak mula-mula menerima pendidikan. Dengan demikian bentuk pertama dari pendidikan terdapat dalam kehidupan keluarga. Orang tua adalah orang dewasa yang memikul tanggung jawab pendidikan, sebab secara alami anak pada masa-masa awal kehidupannya berada di tengah-tengah ibu dan ayahnya. Dari merekalah anak mulai mengenal pendidikannya. Dengan begitu orang tua adalah orang tua kandung atau wali yang mempunyai tanggung jawab dalam pendidikan anak. Orang tua ibu dan ayah memegang peranan penting dan amat berpengaruh atas pendidikan anak-anaknya. Seorang ayah, di samping memiliki kewajiban untuk mencari nafkah bagi keluarganya, dia juga berkewajiban untuk mencari tambahan ilmu bagi dirinya karena dengan ilmu-ilmu itu dia akan dapat membimbing dan mendidik diri sendiri dan keluarga menjadi lebih baik. Demikian halnya dengan seorang ibu, di samping memiliki kewajiban dan pemeliharaan keluarga dia pun tetap memiliki kewajiban untuk mencari ilmu. Hal itu karena ibulah yang selalu dekat dengan anak-anaknya. Orang tua memiliki kedudukan dan tanggung jawab yang sangat besar terhadap anaknya, karena mereka mempunyai tanggung jawab memberi nafkah, mendidik, mengasuh, serta memelihara anaknya untuk mempersiapkan dan mewujudkan kebahagiaan hidup anak di masa depan. Atau dengan kata lain bahwa orang tua umumnya merasa bertanggung jawab atas segalanya dari kelangsungan hidup anak-anaknya, karena tidak diragukan lagi bahwa tanggung jawab pendidikan secara mendasar terpikul pada orang tua. Orang tua adalah guru bagi anak-anaknya.

Agar menjadi guru terbaik bagi putra putrinya, orang tua harus menerapkan minimal tiga prinsip utama dalam pendidikan yaitu  pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan. Pembiasaan dilakukan untuk memantapkan prilaku anak. Pembelajaran merupakan proses berlatih, proses menambah ilmu, dan perubahan prilaku yang disebabkan tanggapan dari pengalaman. Sedangkan peneladanan merupakan proses pembelajaran sosial, di mana anak akan belajar meniru semua tingkah pola dari orang-orang dewasa yang di sekitarnya.

Pertama pembiasaan. Pembiasaan adalah inti dari pendidikan. Pembiasaan dapat diartikan sebagai sebuah cara yang dapat dilakukan untuk membiasakan anak didik berpikir, bersikap dan bertindak sesuai dengan tuntutan ajaran islam. Pembiasaan dinilai efektif jika penerapannya dilakukan terhadap peserta didik yang berusia kecil. Karean memiliki “rekaman” ingatan yang kuat dan kondisi kepribadian yang belum matang, sehingga mereka mudah terlarut dengan kebiasaan-kebiasaan yang mereka lakukan sehari-hari. Inti dari pembiasaan ialah pengulangan. Pengulangan ini sengaja dilakukan berkali-kali supaya asosiasi antara stimulus dengan respons menjadi sangat kuat. Atau dengan kata lain, tidak mudah dilupakan. Dengan demikian, terbentuklah pengetahuan siap atau keterampilan siap yang setiap saat siap untuk dipergunakan oleh yang bersangkutan.

Kedua pembelajaran. Pembelajaran atau pengajaran pada dasarnya merupakan kegiatan orang tua untuk  menciptakan situasi agar putra-ptrinya belajar. Pembelajaran juga merupakan proses komunikasi transaksional yang bersifat timbal balik antara anak dan orang tua, anak dengan anak yang lain atau anak dengan sumber belajar lain pada suatu lingkungan belajar tertentu, untuk mencapai tujuan tertentu. Komunikasi transaksional merupakan bentuk komunikasi yang dapat diterima, dipahami dan di sepakati oleh pihak-pihak yang terkait dengan kegiatan pembelajaran. Disini orang memiliki peranan penting dalam merancang dan melakukan proses pembelajaran, menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan kondusif terhadap pencapaian sasaran belajar. Rasa senang belajar bersama orang tua di rumah akan mendorong kegiatan belajar meskipun tanpa guru yang biasanya ada di dalam kelas.

 Pembelajaran berkenaan dengan penyediaan material, fasilitas, dan perlengkapan.. Karena pembelajaran ini membutuhkan seperangkat materi apa saja yang harus dipelajari, maka hendaknya orang tua berkomunikasi dan bersinergi dengan guru-guru untuk mengetahui sejauh mana materi telah diajarkan di sekolah dan materi apa saja yang harus dipelajari di rumah. Fasilitas dan perlengkapan, terdiri dari ruangan, perlengkapan audio visual, juga komputer. Prosedur, meliputi jadwal dan metode penyampaian informasi, praktik, belajar, ujian dan sebagainya dapat diatur orang tua bersama putra putrinya di rumah. Dalam pembelajaran orang tua harus memahami hakekat materi pelajaran yang diajarkannya sebagai suatu pelajaran yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir anak, oleh karena itu orang tua juga harus memahami berbagai model pembelajaran yang dapat merangsang kemampuan putra-putrinya untuk belajar dengan perencanaan pengajaran yang matang oleh orang tuanya tentu saja berkolaborasi dengan guru di sekolahnya.

Ketiga peneladanan. Secara psikologis ternyata manusia memerlukan tokoh teladan dalam hidupnya, ini merupakan sifat pembawaan manusia. Mereka meniru atau meneladani, tidak saja yang baik, tetapi yang buruk juga ditiru. Keteladanan adalah tindakan atau setiap sesuatu yang dapat ditiru atau diikuti oleh seorang dari orang lain yang melakukan atau mewujudkannya, sehingga orang yang diikuti disebut dengan teladan. Siswa cenderung meneladani gurunya, seorang anak akan meniru orang tuanya.

 Peneladanan ini ada dua macam yaitu sencara segaja dan tidak sengaja. Keteladanan secara sengaja dilakukan secara formal seperti memberikan contoh untuk melalukan ibadah yang benar, berkata dan bersikap yang benar maupun mengerjakan sesuatu yang lain secara benar. Sedangkan keteladanan secara tidak sengaja dilakukan secara nonformal seperti sifat ikhlas, sabar, jujur, dan sikap lainnya. Keteladanan yang dilakukan secara tidak formal kadang-kadang berpengaruh lebih besar dari pada keteladanan secara formal. Karena anak dalam kesehariannya mencontoh apa yang dilakukan oleh orang tua dan sekitarnya. Oleh sebab itu orang tua harus memberikan cinta dan kasih sayangnya dalam memberikan teladan. Sikap sabar itu sangat diperlukan dalam mendidik anak kita. Selain itu orang tua juga harus memahami cara belajar dan gaya belajar anaknya sehingga orang tua mampu memberikan sikap yang sesuai cara belajarnya, apakah Visual, Audio, dan Kinestetik. Orang tua harus memahami ini dan bagaimana memperlakukan belajar anak anak dengan kecenderungan cara belajarnya. Memahami gaya belajar anak agar orang tua dapat menerapkan  dan membantu anak anda  dalam belajar di rumah. Berikanlah ia kebebasan dalam belajar dan kita sebagai orang tua harus mampu membuat ia nyaman untuk belajar.

Dengan demikian saya yakin bahwa orang tua  mampu menjadi GURU TERBAIK bagi anak-anaknya terutama menghadapi kondisi saat ini. Ketika pembiasaan, pembelajaran, dan peneladanan yang dilakukan dengan penuh  cinta dan kasih maka akar kesabaran dalam mendidik putra-putri akan ada di hati orang tua. Kesabaran dan semangat mengantarkan orang tua menjadi guru terbaik bagi putra-putrinya.(*)

Oleh: Siti Aisyah

GPAI SD Islam Sabilillah Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini