MalangPost - Satu Buku, Seribu Cermin Indonesia

Kamis, 13 Agustus 2020

  Mengikuti :

Satu Buku, Seribu Cermin Indonesia

Jumat, 17 Apr 2020, Dibaca : 9726 Kali

Manusia Indonesia tidak memiliki satu kehidupan yang linier, tetapi bercabang, kadang abstrak, kadang lucu, dan seringkali menjengkelkan. Karena itu membicarakan ke-Indonesia-an akan membutuhkan waktu yang lama dan catatan yang panjang sehingga tidak semua orang sanggup melakukannya. Buku berjudul ‘Agama Saya adalah Uang’ ini dengan sangat baik merekam berbagai kenyataan masyarakat Indonesia yang terjadi sehari-hari. Padahal kebanyakan dari kita dengan cepat melupakannya dan berganti kenyataan lain sepanjang tahun sampai kita bosan.


Dalam buku ini seluruh aspek kehidupan kita yang barangkali, sebagian besar orang tidak menyadari nilai pentingnya, ditulis dan diramu. Mulai dari politik, sosial, kapital, jaminan kesehatan, peribadatan, hingga perkara klakson dan babi. Karena tentu saja, membaca berbagai kejadian di Indonesia tidak cukup melalui media massa atau media sosial. Media massa menyajikan peristiwa dalam perspektif obyektif, media sosial menyajikannya dengan perspektif pengunggah, dan tulisan dalam buku ini menyempurnakannya dengan analisis dan referensi.


Apalagi sumber tulisan dalam buku ini diambil dari esai-esai penulis di Terakota pada tahun 2019 yang berjumlah kurang lebih 37 esai. Sehingga menjadi maklum bahwa tulisannya sangat pas dengan kondisi masyarakat Indonesia pada tahun tersebut. Nurudin tampak merekam seluruh peristiwa dengan caranya sendiri yang khas; menyuguhkan, menguraikan, lalu menelaahnya agar dapat diambil manfaat. Ketekunan Nurudin dalam mengumpulkan setiap esainya ini patut dipuji karena tidak banyak penulis Indonesia yang memiliki kesanggupan menulis secara terus-menerus tanpa dihantui kebosanan.


Buku ini dibagi menjadi empat bagian; pluralitas masyarakat dan peluang integrasi, pemerintah kuat negara lemah, bersatu karena kepentingan pragmatis, yang terakhir tentang pemerintah dan kecurigaan pada gerakan masyarakat. Dari tulisan-tulisannya, Nurudin tampak ingin menjaga integrasi bangsa, menguatkan kapasitas kelembagaan negara, menemukan solusi-solusi kehidupan sosial, juga membela kepentingan masyarakat kecil. Tidak lupa, sebagai dosen, Nurudin juga mengeratkan solidaritas dari beberapa kemelut mahasiswa yang dekat dengan kehidupan penulis di Kota Malang.


Dari sekian tulisan, hal yang paling menggelitik tentunya adalah perkara uang. Selain menjadi judul buku, perkara uang juga menjadi tema dalam salah satu tulisannya ‘Dalam Perkara Uang, Semua Orang Punya Agama Sama’. Penulis mampu melihat ‘uang’ yang sehari-hari kita gunakan sebagai alat tukar menjadi sebuah benda ajaib, bahkan bisa menggantikan Tuhan yang menjadi pondasi dasar Pancasila. Konsep uang dalam buku ini, diasosiasikan dengan politik kekuasaan Indonesia yang terus-menerus mencari untung dengan mengorbankan rakyatnya. ‘Uang bisa menyatukan setiap perbedaan masyarakat’ kata Nurudin dalam pengantarnya.


Selain uang menyatukan perbedaan, uang juga bisa memutus persamaan. Kebijakan politik Indonesia silang sengkarut pada sesama lembaga eksekutif, atau dengan legislatif dan yudikatif. Kondisi ini bisa menjadi contoh nyata bagaimana negara tidak dikelola dengan baik. Belum lagi berbicara soal oposisi yang sering ‘berebut kue’ demi keuntungan pribadi dan golongan, bukan berdiri di luar pagar dengan kritik tegas jika kebijakan pemerintahan melenceng. Ini semua gara-gara jatah uang yang berbeda pada setiap kelompok politisi.


Semua kondisi itu dibahas dalam berbagai artikel di buku ini. Tapi tidak berhenti di situ, penulis juga mengkritik bagaimana logika kepentingan berputar dalam pemilihan Panitia Seleksi Komisi Pemberantasan Korupsi (Pansel KPK), pemilihan Calon Pimpinan KPK, hingga soal revisi UU KPK. Semuanya gaduh dan membuat masyarakat kebingungan dengan apa yang dilakukan pemerintah. Belum lagi masalah kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) yang sempat membuat pemerintah kalang kabut, revisi UU KUHP, hingga mobil Esemka; semuanya dibahas dalam buku ini.


Dengan banyaknya tulisan yang mamaparkan sekaligus mengkritik pemerintah itu, penulis sadar bahwa dia memiliki tanggung jawab untuk meredam pikiran masyarakat agar tidak pusing. Maka Nurudin menyarankan dalam artikel yang berjudul ‘All the President’s and Legislator’s Men’ agar masyarakat menikmati pertandingan politik itu dengan gembira. Masyarakat diminta tidak terlalu serius dengan ikut mendukung atau menghujat kekuasaan politik. Karena bagaimanapun kita mengkritik, ‘Yang untung mereka, masyarakat tetap buntung’ (hal 52).


Kritik yang bertebaran dalam buku ini, tidak menjadikannya kaku dan monoton. Penulis menyuguhkan setiap tulisan dengan penambahan kisah-kisah menggelitik tapi relevan yang dapat dijadikan analogi dari inti cerita. Dalam artikel berjudul ‘All the President’s and Legislator’s Men’ misalnya, mengingatkan kita pada novel dan film tahun 1976 berjudul ‘All the President’s Men’ yang terkenal dengan skandal Watergate. Nurudin menceritakan sepak terjang dua wartawan Washington Post yang akhirnya melengserkan Presiden Nixon. Kisah ini menjadi latar belakang penulis untuk menjelaskan bagaimana DPR ngotot merevisi UU KPK.


Artikel berjudul ‘Bangsa Pembuka Aib Sesama’ juga memiliki model penceritaan yang asyik, bahkan bisa dibilang menyenangkan. Penulis membuka tulisan dengan kisah anjing dan kucing yang berada di dalam perahu Nabi Nuh untuk menggambarkan polemik akun @Netizen_NU yang menolak menteri agama dari kalangan militer. Tampak sekali ada politik ‘minta jatah’ dalam pemilihan presiden 2019 yang kemudian dikritik oleh penulis. “Seolah presiden tidak mau mengambil risiko di masa datang, maka ia cari aman saja” (hal 96).


Selain menggunakan kisah unik, penulis juga sering menggunakan bahasa dengan ungkapan sastrawi untuk memulai artikelnya sehingga terlihat manis. Dalam artikel berjudul puitis ‘Tuan, Hari Masih Panjang, Mengapa Tergesa-gesa di Tengah Hujan Badai?’, Nurudin ingin mengkritik politik di Indonesia dengan suka tergesa. Sebelum mengritik, penulis memulai dengan kisah; “Wayah Suage menarik napas panjang. Ia melemparkan pandang ke luar pintu. Hujan di luar bertambah lebat. Udara gelap oleh awan hitam, sehingga sore hari bagai waktu rembang petang” (hal 8). Tulisan itu jelas mengandung unsur sastra dan menambah makna dalam benak pembaca.


Khazanah kisah masa lalu yang disertai kemampuan penulis mengkorelasikannya dengan peristiwa-peristiwa aktual di zaman sekarang dapat membuat tulisan dalam buku ini mengalir dan tidak membosankan. Sehingga buku ini layak dibaca oleh siapapun yang ingin memahami berbagai isu di Indonesia, baik di bidang sosial, politik, ekonomi, juga lifestyle. Akhirnya, semoga buku ini bisa memberikan sumbangan bacaan yang penting untuk menumbuhkan literasi masyarakat Indonesia. Selamat membaca!

Peresensi            :    Fathul Qorib -  Dosen Prodi Ilmu Komunikasi Unitri

Editor : Redaksi
Penulis : Opini