MALANG POST - Satu Bulan Pandemi Covid 19 Di Indonesia

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Satu Bulan Pandemi Covid 19 Di Indonesia

Selasa, 31 Mar 2020, Dibaca : 1755 Kali

Pandemi virus korona layaknya ledakan “bom” yang menghantam dunia dan menimbulkan gelombang kepanikan, ketakutan, dan ketidak berdayaan global sangat hebat Yusraf Amir Piliang Kompas Senin 30, Maret 2020. Di hiruk pikuknya negeri ini pandemi covid 19, menjadi polemik tak berkesudahan. Sebagaimana cara-cara manusia telah dikerahkan sekuat mungkin sebaik-baiknya teori atau cara telah dianjurkan. Bahkan tidak hanya berhenti di situ, hal wajib dari apa yang Tuhan tetapkan menjadi boleh tidak diprioritaskan, sebagaimana kesehatan untuk paling utama. Inilah hidup sekarang memiliki goncangan besar sehingga harus menjadi pribadi yang lebih bisa mengimbangi sebuah gelombang bumi.

Dalam sejarah dunia telah mencatat ketika negara Jepang diledakkan bom nuklir di Horishima dan Nagasaki pada 09, Agustus 1945 negara mengalami degradasi dan inflasi; mulai dari sektor ekonomi, bumi, dan manusia.Dalam kejadian tersebut pemerintahnya langsung mengambil tindakan, apa yang dilakukan pemerintah Jepang kala itu, tidak lain tetap memperhatikan keselamatan manusia yang masih hidup (selamat dari ledakan tersebut) untuk diselamatkan terdahulu. Selain itu Jepang bergegas pada tenaga pendidik paling diutamakan ketika sudah mengetahuai telah banyak korban. 

Ketika dibenturkan dengan kondisi saat ini, pandemic Covid-19 bisa menjadi rujukan kepada negara lain, terkhusus negara Indonesia. Memang seharusnya kita berpikir pasca-pandemi ini telah selesai ‘dan semoga saja, amin’ seorang pendidik harus mengembalikan mental anak-anak negeri ini, apa yang bisa dilakukan secara baik. Walaupun secara garis besar tim medis harus tetap diberikan apresiasi dan doakan untuk kesalamatannya, sebagai penyelamat di garda terdepan. Pasti setiap negara memiliki cara-cara berbeda, namun untuk penyelamatan pertama orang terdidik didahulukan, seperti langkah paling baik dan tepat, bukan karena tidak peduli dengan yang non-pendidikan, akan tetapi fungsi pendidikan akan menjadi jalan pertama pasca-Corona berakhir, sebagaimana penghidupan negari yang mengalami degradasi.

Kepanikan hari ini bukan hal biasa, tapi pikiran harus tetap optimis dalam menghadapi apa yang terjadi, bahkan dengan banyaknya bukti korban berjatuhan yang terjangkit virus tersebut. kalau bahayanya virus Corona harus secara serius diantisipasi atau dicegah. Pencegahaan paling sederhana melakukan karantina dianjurkan bahwa di rumah saja. #dirumahsaja sebagian orang namun sebagian akan tetap beraktivitas di luar itu untuk menentukan nasibnya, sebab apa-apa yang dilakukan oleh pemerintah masih belum bisa diterima secara baik oleh masyarakat mengenai beberapa anjuran. Masih banyak di antara masyarakat menengah ke bawah masih tidak bisa memenuhi kebutuhannya, harus bekerja.

Dalam hal ini secara garis besar, memang harus secara komunal melakukan sebuah perubahan dengan berbenah diri dan melakukan aktivitas di rumah saja, agar tidak memberikan beban kepada orang di luar, hal itu dapat menjadi salah dua cara paling baik. Sebab pandemi Covid-19 ini merupakan virus berbahaya dengan penyakit menular. Maka untuk tidak lebih membuat keruh keadaan harus melakukan gerakan kesadaran secara kritis, memulai kesadaran diri akan bahayanya dan menjaga kebersihan.

 

Bulan Lalu Covid 19 Masuk Indonesia

Pandemi Covid 19 telah ditetapkan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada 21 Februari 2020 memberikan imbauan mengenani bahayanya virus tersebut. sekarang telah menyebar ke beberapa negara dengan waktu yang begitu lama dalam skala perhitungan waktu, satu bulan bukan waktu singkat. Setiap media tidak ada yang lepas memberitakan pandemi tersebut.Di Italia pada tanggal 28/03/2020 Milan dilansir Koran Surya kematian sudah menembus angka 10.000 orang. Dengan angka segitu apa masih ingin meremehkan covid 19.

Sekarang semua masyarakat tahu bahkan secara signifikan telah meluas ke polosok kecil. Dalam sejarah dunia akan tercatat pandemi ini asal muasalnya dari China tepatnya Wuhan, virus membahayakan tersebut terjadi, hingga pada akhirnya meluas keseluruh dunia hingga Indonesia kini semua masyarakat saling bahumembahu berjuang melawanya. Masyarakat pasti tahu akan bahayanya virus tersebut. Namun apakah sudah tahu bagaimana mengatasinya dengan baik agar tidak terkena, walaupun nanti terkena bagaimana mungkin bisa menyembuhkan dengan cara sendiri, kalau tidak cara sederhana dilakukannya dari diri sendiri dan tidak bisa memberikan inpeks kepada orang lain. Sepertinya hal itu yang semua negara pada masyarakat memiliki harapan. Saling bahu-membahu mempersiapkan diri bukan secara dhohir tapi secara batin juga.

Cara paling sederhana yang harus diterapkan apa yang telah diajurkan oleh pemerintah beberapa keputusan telah disahkan secara bersama oleh Mentri Kesehatan (KEMENKES). Bahwa virus dinyatakan berbahaya bagi yang postif terkena, bahkan akan mudah menular kepada orang lain khususnya kepada orang yang lanjut usia (lansia) karena dikatakan orang yang memiliki imun lemah akan mudah dimasukkan oleh virus tersebut.

Lockdown yang dilakukan Indonesia tidak dilakukan secara menyeluruh. Walau secara garis besar pemerintah telah melakukan cara paling baik, hal itu mengenai melakukan sekolah dari secara dimualai dari instansi pendidikan, penjual kaki lima, perusahan, dan seluruh tempat keramaiaan untuk segera di-non-aktifkan untuk sementara hingga pandemi telah berakhir.

            Dalam keputusan tersebut di atas telah memberikan pandangan mengenai dampak negativ-nya namun pandemi covid 19 ketika dipandang dari dampak positifnya setiap kota seperti akan mengalami penurunan polusi negeri ini mengalami penurunan serta oksigen akan bertambah disebabkan semua orang tidak melakukan kehidupan yang hidones lebih banyak hidup di rumah menyebikan diri.

            Namun ketika kacamata diperluas kembali mengenai kerugian pasti akan dialami oleh semua orang, seorang pendidik akan tidak maksimal, bagi pedagang akan mengalami penurunan drastis karena penjual selain diberi waktu sedikit semua pembeli tidak keluar rumah untuk membeli jualannya, bagi petani akan mengalami kepanikan akan ia bertani. Kekawatiran paling kita takutkan pas-covid 19 ini ekonomi akan seperti apa apakah akan terjadi krisis drastic mari kita semua koreksi diri.(*)

 

Akhmad, Mahasiswa Pendidikan Bahasa Indonesia FKIP-Unisma, aktiv di Komunitas Gerilya Literasi, Pelangi Sastra Malang

Editor : Redaksi
Penulis : Opini