MalangPost - Sejak 10 Tahun Terakhir, Tercatat Banjir Tahun Ini Paling Parah

Kamis, 06 Agustus 2020

  Mengikuti :

Sejak 10 Tahun Terakhir, Tercatat Banjir Tahun Ini Paling Parah

Senin, 24 Feb 2020, Dibaca : 9090 Kali

Banjir di Kelurahan Tanjungrejo pada Minggu, 16 Februari 2020 lalu merupakan banjir paling parah sejak 10 tahun terakhir. Kurang lebih 3 RT di RW 4 Kelurahan Tanjungrejo terendam banjir tersebut. Sekitar 20 rumah menjadi korban luapan air selama berjam-jam lamanya. Kejadian ini menjadi kejadian luar biasa yang ternyata penyebabnya tidak sesederhana yang diperkirakan.


Peristiwa ini dibahas dalam Diskusi Malang Post Forum dengan tema “Banjir Kota Malang, karena Sampah atau Sistem Drainase Buruk”. Diskusi diselenggarakan pada Jumat (20/2) di Graha Malang Post. Hadir langsung dalam diskusi itu, Lurah Tanjungrejo, Heni Karsanto, yang memberi penjelasan dengan gamblang.


Dijelaskannya banjir di kawasan Kelurahan Tanjungrejo memang selalu terjadi. Setiap ada hujan, baik intensitas rendah maupun tinggi kawasan ini pastilah tergenang. Hanya saja, peristiwa pada 16 Februari 2020 lalu merupakan yang paling parah selama 10 tahun terakhir.
“Karena banjirnya sampai seperti itu. Biasanya sifat banjir di sana lewat saja jika ada luapan air tidak lama dia surut. Tapi yang sampai ada tiga rumah yang dipompa airnya untuk dikeluarkan,” jelas Heni.


Ia meneruskan, total terdapat 20 rumah yang terdampak. Luapan air masuk ke dalam rumah dan membutuhkan waktu untuk membersihkan secara total. Hal ini tidak pernah terjadi sebelumnya jika terjadi banjir di sana.
Heni pun mulai memperkirakan apa yang kemudian menjadi masalah. Mengapa selama 10 tahun terakhir baru kali ini Kelurahan Tanjungrejo mengalami dampak hujan dengan banjir terparah di tahun ini? Dia menyebut perubahan kondisi menjadi alasan utama. Perubahan yang dijelaskannya, tidak menyangkut perubahan satu faktor saja, melainkan efek perubahan seluruh faktor banjir yang ada.
“10 tahun lalu kawasan ini banyak sawah juga tanah lapang. Lalu lebar dan kedalaman sungai jelas berubah. Saat kita lihat, sungai di sekitar, kedalamannya sudah tidak seperti dulu. Sedimentasi lebih tinggi. Kemudian banyak juga rumput dan gulma di sekitar sungai mengurangi kapasitas tampung air di sungai,?” tuturnya.


Kurang lebih hingga 10 tahun terakhir pula, penduduk di kawasan Kelurahan Tanjungrejo mengalami kenaikan. Hingga kini, penduduk kelurahan tersebuh sudah mencapai sekitar 31 ribu jiwa penduduk menetap.
Sungai yang berada di sekitar kelurahan ini, yakni Sungai/Kali Kutuk juga kerap ditemukan tumpukan sampah. Tidak hanya sampah, Heni menyatakan banyak pula bongkaran bangunan dibuang di saluran kali tersebut yang akhirnya menyebabkan kondisi “bottleneck” atau terhimpit di saluran yang lebih kecil.
Pampers pun ditemukan banyak menyumbat. Kasur dan guling juga kerap ditemui mengambang dan tersendat di saluran. Inilah yang menyebabkan sedimen lebih banyak menumpuk.
“Kawasan Tanjung juga relatif lebih rendah kontur tanahnya dibandingkan kawasan yang ada di atas, seperti Kelurahan Pisang Candi. Tempat air lebih dulu mengalir,” tegas pria yang sempat menjabat salah satu Kasi di Satpol PP Kota Malang ini.


Menurutnya, hulu dari aliran luapan air berasal dari kawasan lebih tinggi seperti Pisang Candi. Di sana juga terdapat pintu air. Hal ini pun akan dia telusuri pula, apakah pintu air berfungsi baik atau tidak, sehingga kejadian kemarin bisa terjadi.
Tetapi, hal yang juga diperhatikan adalah terdapat bangunan berdiri dengan tidak sesuai aturan. Yakni menutupi atau memakan bagian dari saluran drainase. Sehingga air yang seharusnya masuk dengan kapasitas sesuai daya tampung drainase, terhambat geraknya.
“Kebanyakan bangunan ini berada di kawasan lain. Seperti di Ngaglik atau Kelurahan Sukun sana. Tapi efeknya ke Tanjung semua karena memang lebih rendah dari yang lainnya,” tutur Heni.


Dia pun memberi beberapa usulan yang bisa diperhatikan seluruh masyarakat dan juga perangkat daerah lain yang berwenang. Seperti membuat sumur resapan di sekeliling Kelurahan Tanjungrejo yang ada. Dia ingin mengusulkan pembuatan kurang lebih 65 sumur resapan di Kelurahan Tanjungrejo.
Hal ini sudah dipetakan olehnya berdasarkan kawasan-kawasan mana saja yang rawan terjadi banjir dan genangan parah saat hujan datang. Beberapa usulan lain juga berkaitan dengan optimalisasi dan revitalisasi DAM atau pintu pengatur air yang berkaitan dengan jalur air di Kelurahan Tanjungrejo.


Menanggapi hal ini pula, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Malang Alie Mulyanto mengungkapkan bahwa kejadian Kelurahan Tanjungrejo merupakan sebagian kecil dari kondisi banjir yang ada di seluruh wilayah di Kota Malang.
“Ini bagian kecil dari apa yang ada di Kota Malang. Jelas penyebabnya adalah faktor alam juga faktor manusia. Faktor manusia berkaitan dengan perubahan tata guna lahan yang ada. Sawah lalu embung sudah jarang ada,” terangnya.


Alie menambahkan untuk faktor manusia sudah tidak dapat dipungkiri bahwa membuang sampah, hingga mendirikan bangunan yang tidak ramah drainase menjadi penyebab utama. Edukasi dan sosialisasi terus dilakukan tetapi tidak membuahkan banyak hasil.
Untuk kejadian di Kelurahan Tanjungrejo, ia meyakini bahwa kawasan tersebut, merupakan contoh nyata dua faktor penyebab banjir yang dikatakannya. Hal yang dapat dilakukan adalah mulai menata kembali, hingga yang terpenting menegakkan aturan yang sudah ada.
“Tentu BPBD di sini urusannya adalah menanggulangi bencana yang terjadi. Hanya saja agar tidak terjadi lagi, bukan kerjaan satu pihak saja. Bahkan provinsi pun juga harus terlibat karena urusan sungai bukan wewenang kota,” tegasnya.


Alie membenarkan jika sungai di sekitar kawasan Kelurahan Tanjungrejo sudah memerlukan penataan ulang. Mengangkut sedimen juga merevitalisasi kapasitasnya. Hal ini perlu izin dari pihak berwenang yakni provinsi.
Sementara itu, pendapat lain berkaitan dengan Banjir Tanjungrejo ini juga berkaitan dengan pola drainase hingga skema drainase yang nyatanya di Kota Malang tidaklah begitu jelas. Hal ini akan disambung pada artikel diskusi selanjutnya.(ica/ary/bersambung)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Francisca Angelina