MalangPost - Sejumlah Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya Positif Corona

Senin, 13 Juli 2020

  Mengikuti :

Sejumlah Tenaga Kesehatan di Rumah Sakit Universitas Airlangga Surabaya Positif Corona

Minggu, 24 Mei 2020, Dibaca : 4401 Kali

SURABAYA - Sejumlah tenaga kesehatan di Rumah Sakit Universitas Airlangga (Unair) Surabaya, Jawa Timur, positif terinfeksi virus corona (Covid-19). Mereka dinyatakan positif berdasarkan hasil tes swab polymerase chain reaction (PCR) maupun rapid test.


Namun, belum diketahui jumlah pasti tenaga kesehatan yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona. Seperti yang disampaikan Jubir Tim Satgas Corona RS Unair Surabaya, dr Alfian Nur Rasyid SpP.
"Saya belum punya data banyak berapa yang positif itu, karena kita masih running pemeriksaan-pemeriksaan swab dan rapid test. Saya nyatakan memang ada yang positif," kata Juru Bicara Tim Satgas Corona RS Unair Surabaya, Alfian Nur Rasyid, Minggu (24/5).


Seperti diketahui, RS Unair sudah dua minggu ini melakukan screening massal. Baik rapid test maupun swab test untuk mencari siapa saja yang terinfeksi.
"Kemarin mulai running untuk rapid. Kita pesan sendiri 1.000 untuk rapid seluruh pegawai. Baik nakes maupun pegawai lain selain nakes. Nanti hasil akan keluar, bisa jadi ada ketemu yang positif dan itu menurut kami sesuatu yang kodrati," jelasnya.


Beberapa nakes yang memiliki hasil positif Corona dari swab PCR dalam kondisi baik. Ada pula yang melakukan isolasi mandiri di rumah maupun di dormitory yang disediakan.
"Kondisi baik, saya pantau dari WA. Setelah kita pantau kondisi baik, ada yang diisolasi di rumah masing-masing. Belum tahu berapa yang ada di dormitory. Tapi ada. Kita rawat mereka dengan baik tidak dirujuk ke RS lain agar mereka merasa senang dirawat di RS sendiri," ujarnya.


Setidaknya terdapat 20 ruang dormitory di RS Unair yang dikhususkan memang untuk internal. Dengan berada di dormitory, nakes yang terinfeksi dapat merasa tenang dan terlindungi.
"Meskipun positif, tetap mendapat perhatian dari rumah sakit," tambahnya.
Alfian menjelaskan, jika terdapat nakes yang positif, RS Unair akan terus berupaya bagaimana menyembuhkannya, tidak di-stigma negatif dan mereka tetap berperan selama sakit.

Sebab mereka bisa mengerti lebih dalam apa yang dirasakan oleh pasien.
"Di zaman pandemi dan orang-orang di RS di seluruh Indonesia dan dunia nakes di area merah. Ibarat Surabaya itu kan sudah area merah, tapi di 14 titik RS rujukan se-Surabaya itu lebih merah dibandingkan di Surabaya secara umum. Potensi untuk terjadi penularan di masyarakat besar apa lagi di RS," urainya.


Menurutnya, tidak perlu kaget jika ada nakes yang terinfeksi Corona meskipun sudah menggunakan APD lengkap. Artinya, bukan berarti nakes memiliki kekebalan tersendiri terhadap virus Corona.
"Saya menilai, kalau sampai terjadi nakes tertular artinya jantung pertahanan melawan COVID sudah tembus. RS ini area yang harusnya benar-benar bisa terlindungi nakes dan keluarganya. Apa bila nakes di RS ada yang terjangkit itu artinya jantung pertahanan untuk bisa merawat pasien sudah tembus Dampaknya bisa berbahaya kepada nakesnya sendiri, kepada pasien (tidak bisa merawat karena isolasi). Itu akan mengurangi jumlah nakes yang akan melayani RS," paparnya.


Bahkan, nakes RS Unair membuat tagar nakes ikhtiar meskipun masyarakat bersikap terserah. Mereka tetap ikhtiar untuk men-support nakes yang terinfeksi untuk kembali sembuh. Karena untuk menghasilkan nakes membutuhkan waktu yang lama tidak singkat.
"Pun kalau mereka sakit, kita harapkan sakitnya ringan, tidak menulari orang lain, kita isolasi. Tapi peran WFH (untuk nakes yang terinfeksi) tetap dijalankan untuk menyumbangkan pemikiran dan ide mereka," pungkasnya. (dtk/mp)

Editor : Redaksi
Penulis : Detik