MalangPost - Semua Bakso Malang Enak, Arek Malang Masih Ramah dan Bersahabat

Senin, 10 Agustus 2020

  Mengikuti :

Semua Bakso Malang Enak, Arek Malang Masih Ramah dan Bersahabat

Senin, 27 Jan 2020, Dibaca : 4527 Kali

Nama Charis Yulianto masih diingat oleh Aremania lawas, era 1997-2002. Asisten pelatih Arema FC yang dulu mengawali karirnya di Singo Edan tersebut, sudah kembali ke Malang setelah 18 tahun berkelana. Charis mengakui banyak perubahan di Malang. Namun, keramahan Arek Malang tetap sama, begitu juga, sedapnya bakso Malang.

Usianya masih 19 tahun, ketika kali pertama diperkenalkan kepada publik Malang sebagai defender baru tim berlogo singa. Gusnul Yakin, pelatih Arema, percaya pada sosok pemuda yang saat itu sudah memiliki tinggi 183 sentimeter itu, sebagai palang pintu terakhir pertahanan tim pujaan Aremania.
Keras, lugas dan garang. Darah muda alumnus PSBI junior tersebut ternyata difavoritkan oleh Aremania. Meski belum genap 20 tahun, Charis muncul sebagai bek idola suporter. Selama empat tahun, termasuk di era krisis politik reformasi tahun 1998, Charis setia berbaju Arema. Bahkan, ketika seniornya datang tahun 2001, yaitu Kuncoro, Charis tetap diterima publik.
Empat tahun katam di Arema, dia pun melanglang buana ke berbagai klub, menjadi pemain sepakbola profesional yang jasanya dihargai, bahkan sampai tembus tim nasional. Selama 18 tahun, sejak pergi dari Arema tahun 2002, Charis mengumpulkan pengalaman, hingga akhirnya pulang lagi ke Malang sebagai asisten pelatih.
Charis menyebut, meski banyak perubahan yang terjadi di Malang 2020, ada hal yang tak pernah berubah dari kota yang disebutnya spesial.
“Satu pekan setelah tiba di Malang, saya silaturahmi ke teman-teman seangkatan dulu, serta makan bakso,” ujar Charis kepada Malang Post, Minggu (26/1).
Secara spesifik, pria yang pernah membela PSM Makassar ketika masih aktif bersepakbola, menganggap bakso Malang tetap nomor satu di Indonesia. Sebagai kuliner terandal Malang, bakso dianggap Charis sebagai makanan wajib ketika bertandang ke daerah terpadat kedua se Jawa Timur ini.
Pun sekarang, setelah menjadi warga Malang lagi, Charis yang belum genap sebulan di Malang, langsung berburu bakso. “Saya tidak punya tempat favorit, karena semua bakso Malang itu jaminan rasa. Kalau makan bakso di Malang, saya gak khawatir. Bahkan, bakso gerobak pinggir jalan pun, dijamin pasti enak, haha,” kata pria 41 tahun itu.
Selain makanan bakso, Charis mengaku lepas kangen dengan makanan favorit lainnya, yakni ketan Batu. Dia bernostalgia dengan menikmati ketan di Pos Ketan Legenda di Batu yang sudah terkenal sejak tahun 1960-an itu. Lama tak pulang ke Malang, Charis merasa ketannya masih enak dan makin nikmat dikunyah ketika malam hari, di antara dinginnya Batu.
Charis juga memuaskan hasrat nostalgianya dengan menemui para pemain Arema angkatannya dahulu.
“Saya silaturahmi dengan beberapa, seperti Nanang Supriyadi, Didit Thomas sampai Hariyanto. Mungkin ke depan akan terus silaturahmi dengan teman-teman seangkatan juga,” tandas mantan pemain Sriwijaya FC itu.
Silaturahmi yang sampai saat ini menurut Charis paling spesial, adalah didatangi oleh eks dirijen Aremania, El Kepet. Tak lama setelah datang ke Malang dengan status asisten pelatih Arema, Charis sempat berujar bahwa dia ingin melihat lagi El Kepet naik ke tribun untuk memimpin Aremania menyanyi mendukung Arema.
Tak lama setelah dia berstatemen di Malang Post, dia bertemu dan bersilaturahmi dengan El Kepet. Tentunya, mengenang masa lalu ketika Kepet masih rajin nribun bersama Yuli Sumpil.
“Bahkan dengan mantan dirijen Aremania, sudah silaturahmi, hehe,” imbuh eks penggawa Selangor FA itu.
Semua nostalgia, kisah masa lalu dan ikatan emosional yang dibangunnya ketika masih berkostum pemain Arema, kembali dijajaki oleh Charis. Sebab, selama satu tahun ke depan, dia akan kembali berkiprah di Malang. Tujuannya, untuk membantu tim yang pernah membesarkan namanya, menjaga reputasi sebagai tim besar.
Caranya, dengan meraih gelar dan prestasi. Dia ingin menjawab keramahan masyarakat Malang, yang tidak pernah berubah, meski dua dekade berlalu. Walaupun, sudah banyak pembangunan, mall modern sampai jalan tol, terbangun di wilayah Malang. “Masyarakat Malang tidak pernah berubah dari segi keramahan. Yang berubah dari Malang, selain pembangunan, ya lalu lintasnya, sekarang ramai dan sedikit macet,” tutup Charis.(Fino Yudistira/ary)

Editor : Bagus Ary Wicaksono
Penulis : Fino Yudistira