MALANG POST - Sindrom FoMO Corona

Senin, 25 Mei 2020

  Mengikuti :


Sindrom FoMO Corona

Rabu, 22 Apr 2020, Dibaca : 2358 Kali

Gara-gara Corona orang jadi semakin rajin menengok smartphone-nya. Banyak orang yang tak mau ketinggalan informasi terkait wabah Corona ini. Mereka terus berburu informasi di beragam platform media sosial (medsos) dan media pertemanan WhatsApp (WA). Tak sedikit orang mengalami sindrom ketakutan akan ketinggalan informasi terkait Corona. Banyak orang mengalami sindrom FoMO atau Fear of Missing Out.
    Merujuk pada beberapa sumber, FoMO adalah perilaku kecanduan seseorang pada medsos dan WA karena mereka takut ketinggalan informasi. Orang yang mengalami sindrom FoMO biasanya ingin selalu menjadi orang pertama yang mendapatkan dan menyebarkan informasi. Mereka ingin dibilang sebagai orang yang paling update, terlepas informasi yang diunggah atau diunduhnya itu benar atau salah.
    Sebenarnya sebelum muncul wabah Corona, sindrom FoMO sudah menjangkiti pengguna medsos dan WA. Kini, sindrom ini semakin menguat karena tingginya rasa ingin tahu masyarakat pada virus Corona (Covid-19). Apalagi di saat banyak orang melakukan aktivitas belajar dan bekerja dari rumah (Work From Home), kesempatan bermedsos semakin leluasa. Kondisi ini menjadikan orang semakin tak mudah mengatasi ketergantungannya pada gadget.

Picu Kepanikan
    Tak sedikit informasi di medsos picu kepanikan. Banyak informasi yang belum teruji kebenarannya beredar viral melalui medsos dan WA. Virus Covid-19 memang menyebar dengan cepat, namun akselerasi peredaran informasi bohong di medsos dan WA justru melaju lebih kencang. Tak sekadar soal kecepatannya, jumlah narasi Corona yang keliru dan berpotensi ciptakan kepanikan juga sangat masif.
    Sebuah hasil studi yang pernah dilakukan oleh Royal Society of Public Health, sebuah lembaga independen untuk kesehatan masyarakat di Britania, Inggris, menyatakan bahwa 40 persen pengguna medsos terkena sindrom FoMO. Studi ini juga menyimpulkan bahwa medsos telah membuat orang kecanduan melebihi kecanduan pada rokok dan alkohol. Penggunaan medsos pada kebanyakan orang juga sangat berlebihan (over consumption).
    Terkait informasi virus Corona di medsos dan WA telah terjadi banjir informasi. Beragam bentuk pesan terkait virus Corona muncul dalam beragam rupa. Ada yang berwujud berita, analisis, infografis, foto, video, podcast, meme, dan beragam bentuk narasi lain. Banyak orang memroduksi narasi walau sejatinya mereka tak punya kapasitas yang memadai terkait masalah virus ini. Tak jarang, di medsos dan WA orang muncul secara anonim, tanpa identitas yang jelas.
    Di medsos dan WA informasi yang benar dan yang abal-abal bercampur hingga sulit dipilih dan dipilah. Sementara tak semua pengguna medsos dan WA punya kemampuan mengidentifikasi dan melacak kebenaran informasi yang dikonsumsi. Akhirnya informasi apapun dikonsumsi, dipercaya, dan diviralkan banyak orang. Di antara para penyebar informasi tersebut ingin mendapat pengakuan bahwa mereka menjadi orang yang paling update.
    Orang yang terjangkiti sindrom FoMO biasanya tak banyak berpikir tentang kebenaran isi pesan yang dibaca dan dibagikan. Yang penting narasi itu terlihat menarik dan kemungkinan mampu menjadi viral dan trending topic. Kenyataan inilah yang dapat memicu kepanikan masyarakat semakin meningkat. Bombardir informasi lewat medsos dan WA dari kelompok FoMO inilah yang semakin bikin panik keadaan.
    Sindrom virus Corona memang sangat berbahaya, namun sindrom FoMO juga tak kalah mengerikan. Rantai persebaran virus bisa diputus dengan upaya melakukan jaga jarak sosial atau fisik (social/physical distancing), namun memutus sindrom FoMO tak bisa dilakukan dengan cara serupa. Guna memutus sindrom FoMO perlu pengetahuan, pemahaman, dan kemampuan masyarakat agar melek media digital.

Tertipu Realitas Semu
    Sindrom FoMO medsos dan WA merupakan penyakit sosial. Orang FoMO cenderung menghindar dari lingkungan sosialnya. Mereka cenderung asosial. Secara fisik, mereka banyak menghindari interaksi sosial di alam nyata, namun mereka lebih dominan berkomunikasi di dunia maya. Padahal dunia maya tak selalu sama dengan dunia nyata. Medsos sering menampilkan bukan jati diri sesungguhnya dari sang pemilik akun.
    Realitas yang diusung di media daring sering menjadi sebuah realitas semu. Realitas yang telah dikonstruksi sedemikian rupa sehingga yang cacat bisa dipoles menjadi sempurna. Sebuah kebohongan bisa ditampilkan menyerupai sebuah kebenaran. Interaksi komunikasi di medsos bisa membuat orang jadi tak jujur. Melalui medsos tak jarang realitas ditampilkan melebihi dari fakta sesungguhnya (hiperealitas).
    Beragam informasi tentang Corona tak jarang ditampilkan lebih seram dari faktanya. Terjadinya penolakan pemakaman jenazah korban virus Corona misalnya. Banyak masyarakat yang mendapatkan informasi keliru perihal permasalahan ini. Tak jarang akhirnya orang mengalami ketakutan yang berlebihan sehingga beberapa jenazah korban Corona ditolak oleh masyarakat di sejumlah daerah.
    Penolakan masyarakat bisa jadi karena informasi yang digambarkan dalam narasi yang beredar di medsos dan WA sangat menyeramkan. Realitas kematian korban Corona yang tergambar di medsos sangat berlebihan sehingga memicu ketakutan dan kepanikan masyarakat. Bagi para FoMO, kasus penolakan jenazah di sejumlah tempat justru menjadi konten yang terus diviralkan.
    Kabar negatif tentang Corona semakin tak mudah terbendung. Informasi keliru menyelinap diantara informasi resmi pemerintah yang benar. Tak ayal, beragam informasi abal-abal akan mendistorsi pesan resmi pemerintah. Buruknya, tak semua informasi keliru dapat dengan gampang diluruskan. Akhirnya, kesimpangsiuran informasi semakin meruncing yang menjadikan tak sedikit masyarakat menjadi semakin bingung dan panik.
    Wabah Corona merupakan penyakit serius yang harus dilawan bersama. Namun munculnya sindrom FoMO juga harus dicarikan solusinya. Penanganan wabah Corona semakin pelik gegara sindrom FoMO yang juga semakin menggejala. Semua pihak dituntut punya pemahaman, kesadaran, dan keberdayaan saat menggunakan medsos dan WA. FoMO, sindrom yang dipicu oleh interaksi komunikasi di dunia maya itu bisa berimplikasi ke alam nyata. Ini tentu berbahaya, bisa serupa dengan bahaya virus Corona. Waspadalah! (*)

Oleh: Sugeng Winarno
Pegiat Literasi Media, Dosen Ilmu Komunikasi, FISIP
Universitas Muhammadiyah Malang (UMM)

Editor : Redaksi
Penulis : Opini