Siswa SMA Islam Sabilillah Rebut Emas Kejuaraan Pencak Silat Internasional

Rabu, 16 Oktober 2019

Jumat, 13 Sep 2019, dibaca : 288 , rosida, imam

MALANG - Pertandingan di babak final pencak silat dalam Kejuaraan Paku Bumi Cup Open VII menjadi perjuangan yang tidak mudah bagi Muhammad Fariz. Bagaimana tidak siswa SMA Islam Sabilillah Malang Boarding School ini harus berjuang keras hingga meraih medali emas dalam kejuaraan  tingkat internasional, yang digelar di Sumedang, (23/8). Ia bahkan tidak menyangka gelar juara kategori  Fight Kelas G 63-67 Kilo bisa diperolehnya. Sebab di babak final justru yang dirasakannya tekanan yang begitu gencar dari sang lawan.
Fariz mengaku, yang bisa dilakukannya hanyalah berusaha sekuat tenaga untuk tidak kalah. Maka sekecil apapun celah yang ada dimaksimalkan untuk melakukan serangan pada lawan.
"Dan prediksi saya ternyata benar, saya menang dengan selisih poin yang tipis. Ini pertarungan yang lumayan berat," ungkapkan kepada Malang Post.
Kunci untuk mencapai keberhasilan adalah kesungguhan dalam berusaha. Termasuk dalam perlombaan. Bagi Fariz, tekad yang besar adalah keharusan yang dimiliki. Dan harus selalu tertanam kuat dalam hati. Tekad itu diterjemahkan dalam bentuk latihan yang rajin. Selain itu harus ada keyakinan untuk melengkapi.
"Dengan mental juara kita yakin akan menang. Sebab buat apa latihan keras dan panjang kalau di gelanggang hanya untuk digebukin sama lawan," tuturnya.
Siswa kelas X IPA ini sadar, bahwa kemenangannya tidak lepas dari doa restu orang tua dan guru. Sehingga di pertarungan yang sengit tersebut, medali emas bisa diperolehnya.
"Alhamdulillah, terimakasih kepada orang tua dan guru yang selalu mendoakan dan mendukung saya," ucapnya.
Pencak Silat merupakan seni bela diri yang berkembang pesat di Indonesia. Banyak kalangan remaja yang tertarik dengan bela diri ini. Termasuk juga Muh. Fariz. Putra dari Samiadji dan Latifah Hanum ini bersyukur SMA Islam Sabilillah Malang mempunyai program ekstrakurikuler pencak silat. Sehingga bakat dan hobinya di dunia bela diri bisa terwadahi. Ia bahkan bercita-cita ingin menjadi atlet profesional di masa yang akan datang.
"Semoga dengan binaan guru di SMA Islam Sabilillah saya bisa mencapai cita-cita menjadi atlet," harapnya.
Ia mengaku suka olahraga bela diri. Selain menyehatkan tubuh, juga sebagai perisai diri. Perlombaan dalam sebuah kejuaraan merupakan hanya sebagai sarana untuk mengetahui kemampuannya. Tidak sekadar mengejar gelar, tetapi juga ajang saling belajar dengan peserta lain. Dengan berlomba ia dapat mengetahui kekurangan dalam dirinya.
"Bagi saya dalam perlombaan itu yang paling berharga adalah pengalaman," imbuhnya.
Waka Kesiswaan Dan Humas SMA Islam Sabilillah Malang, Agus Budiono, S.Pd., menerangkan, bahwa di dalam pencak silat terkandung beberapa unsur pembelajaran. Selain untuk berolahraga, kegiatan bela diri juga mengajarkan keberanian dan intelegensi.
Kecerdasan siswa dapat dilatih dengan memahami setiap gerakan dalam bela diri. "Artinya silat tidak sekadar olahraga bela diri, tapi juga membuat siswa semakin percaya diri dan tidak takut menghadapi tantangan," ucapnya.
Beragam gerakan reflek yang ada dalam bela diri juga mengasah kemampuan otak anak. Ditambah dengan pola dan pengaturan strategi bermain. Karena saat bertanding, tidak sekedar adu fisik tapi juga taktik dan strategi. "Disinilah maka bela diri mengasah otak agar cerdik dan taktis dalam bermain," pungkasnya. (imm/sir/oci)



Loading...